27.11.04

Antrian

Satu hal yang paling aku gak suka adalah orang yang tidak bisa mengantri, mulai dari antri telepon umum (ini sih jaman ditemui di sepuluh tahun kebelakang kali ya, sekarang sudah jarang aku melihat ada antrian di depan telepon umum), antri bus, antri beli makanan, antri di kantor pos, antri di bioskop.
Masih terbayang, pengalaman mengantri di salah satu restoran cepat saji di Cirebon. Malam itu, malam minggu. Kami semua kelaparan, dan memutuskan untuk makan di restoran tersebut. Seingatku, pelayan di restoran tersebut biasanya cukup ketat urusan antri mengantri, tapi kali ini aku bernasib apes. Aku, dengan sabar, berdiri di belakang 2 orang. Tiba-tiba, ketika sudah tiba giliran aku, serombongan ibu-ibu datang dan langsung memesan makanan! Kaget. Sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Konon kabarnya, waktu itu mall tersebut baru saja dibangun di Cirebon, dan malam minggu, orang orang dari luar Cirebon sering sekali main ke mall tersebut, dan, maaf nih, biasanya mereka memang tidak tahu kata antri!
Ada satu pengalaman lain, makan bakso di Blok S. Saat itu, mangkok sudah habis. Ya sudahlah, aku menunggu di antrian, kebetulan semua temanku sudah mendapatkan mangkok. Ealaa, begitu mangkok selesai dicuci (hanya ada 3 mangkok), ada ibu-ibu (lagi!) langsung mengambil mangkok. Hanya saja, kali ini, kebiasaan lama kumat, dengan santai aku ambil saja mangkok dari tangan si ibu sambil bilang,"Bu, antri dong, saya juga antri." Keterlaluankah aku? Rasanya lebih keterlaluan lagi ibu-ibu itu, yang sepertinya kemudian mengurungkan niatknya untuk makan baso. Huh, gak tau diri deh.
Memang, di jaman nonton midnight selalu penuh, seringkali aku dan abangku memperhatikan muka-muka orang yang mengantri, dan, biasanya sihhh, ada saja muka yang kami kenal. Ujung-ujungnya? Bisa ditebak, kami tidak perlu mengantri! Sekarang memang sudah tidak pernah melakukan itu, barangkali lebih dikarenakan aku sudah cukup lihai menebak antrian. Aku bisa tahu, kalau antrian tersebut sudah mencapai titik tertentu aku tidak akan mendapat tiket, tapi kalo masih didalam jarak tertentu, aku tahu pasti, aku masih bisa dapat tiket. Itu sebabnya aku lebih sering ngotot nonton bioskop di tempat biasa. Sudah ada hitungannya sih :)
Tapi, jangan deh coba-coba berharap banyak deh untuk mengantri tiket kereta Jakarta-Bandung di hari Jumat sore. Itu adalah antrian penipuan, apalagi untuk tiket eksekutif. Silahkan mengantri selama 3 jam, waktu yang sama yang dibutuhkan untuk tiba ke Bandung dari Jakarta. Kalau tidak mau antri, silahkan beli di calo.
Senang sekali waktu aku berkesempatan tinggal di satu kota dengan budaya antri tinggi. Bahagia sekali. Tidak perduli seberapa panjang, orang akan mengantri. Tapi paling kaget waktu musim obral tiba, antrian untuk memakai baju di ruang ganti begitu panjang!
Aku senang sekali dengan garis antrian yang sering ada di belakang suatu loket. Biasanya di depan loket penjualan tiket bioskop, ada garis merah. Sial, tampaknya lebih banyak orang yang tidak mengerti bahwa garis merah itu punya makna! Orang masih sering mengabaikannya, dan langsung berdiri di belakang orang yang tengah membeli tiket. Wooiiiii, itu garis dimaksudkan buat kamu, yang persis di belakang orang yang beli tiket, untuk menjadi batas atau menjadi garis yang berkata,"eits, tunggu disini dulu ya."
Sebal sekali deh, kalau didalam antrian orang di belakang aku mendesak-desak, seakan-akan takut ada ruang kosong diantara kami yang bisa diisi oleh orang lain. Antri sih antri, tapi kan gak usah main dorong-dorongan seperti itu. Phhhfff. Apalagi kalau aku harus memasukan nomor pin kartu debit, baik di ATM, ataupun di kasir, aku gak suka orang yang dibelakangku berdiri begitu dekat, dan melihat nomor pin tersebut. Walaupun, aku tahu, dia bisa jadi gak ada kerjaan, dan gak ada niatan untuk menjebol kartuku, tapi, duh, itu kan wilayah pribadi aku. Ini nih yang aku kangen waktu tinggal di Rotterdam, orang biasanya akan menjaga jarak yang pas didalam antrian ATM atau di kasir.
Hari ini, aku harus antri di dokter gigi. Sedikit terlambat, karena sudah banyak orang di ruang tunggu. Sudah bisa ditebak, ada satu dua orang yang begitu gelisah, sebentar-sebentar berdiri dan bolak balik ruang dokter. Tentu saja, kemudian mereka mulai masuk ruangan untuk melihat apakah dokter sudah selesai atau belum. Inipun masih ditambahi embel-embel sebuah percakapan dengan siapapun yang berhasil diseret untuk menemaninya ke dokter bahwa,"biasanya sih tidak antri, langsung masuk, sayangnya, tadi gak sempet telepon."
Hei, sini deh aku kasih tahu, telepon atau tidak, itu bukan menjadi tiket untuk begitu datang bisa langsung diperiksa, karena, coba deh lihat sekelilingmu, kita semua sama-sama pasien rutin yang juga biasa menelepon dokter. Jadi satu-satunya cara untuk bisa dilayani dokter adalah dengan mengantri!

No comments:

Post a Comment