29.11.04

"Ada yang bisa dibantu?"

Hidup kita ini memang penuh dengan orang-orang yang membantu kita, tanpa, seringnya, kita sadari. Di rumah, kita punya pembantu (setidaknya, sebagian besar dari kita deh). Di kantor, kita punya OB (Office Boy). Dimana-mana kita akan melihat orang-orang yang siap membantu untuk urusan "remeh-temeh-precelan". Sebetulnya kata remeh-temeh ini juga tidak tepat, karena pekerjaan yang tampak kecil, kemudian menjadi sangat penting ketika orang-orang tersebut tidak ada! Tidak usah dibahas bagaimana rasanya ditinggal pembantu mudik. Coba bayangkan jika OB anda tidak masuk hari ini. Apalagi untuk anda yang terbiasa dibuatkan minuman, dibelikan indomie, dibantu memperbanyak dokumen dan lain-lain. Cukup kelabakan, kan.

Di jalan, selalu ada tukang parkir yang membantu kita. Aku tahu, tidak sedikit diantara kita yang berupaya menghindari mereka, menghindari mengeluarkan 1000 rupiah tersebut! Aku juga seringkali kesal dengan ulah mereka yang seringkali bukannya membantu kita dalam parkir memarkir malah membuat kita nyaris tabrakan dengan kendaraan lain! Tapi entah kenapa, aku merasa begitu dekat dengan tukang parkir ini. Tukang parkir di SMPku, masih sering saling sapa kalau kebetulan aku dan keluarga melintasi sekolah lamaku itu. Tukang parkir SMA sering kali jadi tempat titip salam. Tukang parkir di kampus, adalah penolong terbesar, guru dalam urusan parkir yang rela membiarkan kakinya tergilas ban mobil yang kami setir, yang menyucikan mobil kami dikala kami tidak begitu perduli karena tugas yang bertumpuk, yang menjadi teman ngobrol menyenangkan dan menjaga mobil-mobil kami bahkan ketika kami lalai menutup pintu dan jendela!

Predikat “kakak tertua” membuat aku sering berbelanja di sebuah supermarket yang terkenal dengan parkir gratisnya itu. Saking seringnya aku berbelanja (aku tidak suka menyimpan makanan terlalu lama di kulkas), akhirnya aku cukup mengenal muka-muka pegawai yang menimbang sayuran, menimbang ayam dan juga berjaga di belakang mesin kasir. Senang rasanya untuk melempar senyum, dan berbasa-basi tentang apapun yang terjadi. Entah bagaimana aku merasa ada satu hubungan yang menyenangkan dan itu juga sih yang membuat aku betah kembali ke tempat itu.

Soal betah ke satu tempat, perasaan mengenal juga yang membuat aku selalu membeli pulsa di satu tempat, tidak jauh dari supermarket tersebut. Sebagai orang yang setia dengan sistem pra bayar, aku sering datang ke XL center di Dago untuk membeli pulsa. Aku sampai sadar muka-muka yang datang dan pergi. Aku tahu perkembangan salah satu pegawainya mulai dari hamil hingga akhirnya melahirkan (sayangnya sepertinya dia sudah keluar dari tempat tersebut). Aku juga mendapat senyum dan kemudahan kalau kebetulan ada masalah dengan pengisian pulsa, aku percaya dengan mereka, dan mereka juga tahu, aku bukan pelanggan yang rewel

Satu tempat lagi yang membuat aku merasa punya ikatan khusus dengan mereka yang punya label pelayan adalah di potluck. Aku sampai hapal muka-muka kru-nya dan bahkan kemudian hapal nama-nama mereka. Terkadang, melihat dan mendengar mereka membuat aku tersenyum! Bahkan tak jarang, kami terlibat percakapan menyenangkan. Datang sendiri kesana? Sama sekali bukan masalah!

Pasti banyak orang-orang seperti ini di lingkungan kita, seringkali tidak kita kenal. Mereka, menurut aku, sangat membantu, dan sesungguhnya, punya satu ikatan khusus dengan kita. Sebuah senyum, bukanlah sebuah hal yang terlalu sulit yang bisa kita lakukan untuk mereka.

2 comments:

  1. Minggu lalu gue flu berat, semua org di kantor yang liat gue 'sekarat' nyuruh gw pulang. Diluar ternyata hujan badai tapi gw tapi gak bawa payung. Walhasil gw cuma cengo' sambil meler2 di pinggir lap parkir.

    Tau2 dateng satpam, nyodorin payung,"Neng, mau ke mobil? sini saya anter, neng kan lagi pilek."

    nawarin payung = pekerjaan kecil.
    tapi jadi besar banget untuk orang2 yang membutuhkan.

    ReplyDelete
  2. smile make our world beautiful..
    yea.. setuju banget. saya suka sekali menyapa satpam dan office boy di kantor. meski itu hanya berupa sepotong kata sederhana "Selamat Pagi, Pak ANU" ditambah senyuman dan anggukan kepala dan mereka melakukan hal yang sama. setidaknya buat mereka merasa dihargai, dihormati dan dianggap penting.(cmiiw)

    ReplyDelete