30.11.04

Tik Tik Tik Bunyi Hujan di Atas Genting...

Waktu kecil, aku senang sekali kalau hujan. Kalau kesempatan memungkinkan, aku bisa curi-curi hujan-hujanan. Entah di pekarangan rumah, atau di lapangan kosong di depan rumahku. Takut? Enggak deh, yang ada justru semangat. Basah? Justru itu yang dicari. Tidak terpikir baju yang harus dicuci, rumah yang kotor akibat jejak kakiku, yang penting hati senang. Diomelin? Ah, rasanya setimpal dengan kesenangannya, kok.

Waktu smp, aku teringat keacuhan aku sama dingin yang datang berbarengan dengan hujan. Mau tau bagaimana? Di dekat GOR sekolahku, ada tukang es yang setia berdagang. Biarpun hujan, aku tetap membeli es krim tersebut. Murah meriah dan enak. Buat aku sih, rasanya tetap saja pas, makan es krim walaupun sedang hujan deras.

Waktu sma, kenangan berhubungan dengan hujan yang paling aku ingat itu, waktu aku kelas 1 SMA. Sekolah siang. Entah kenapa, hujan hampir selalu datang beberapa saat menjelang jam masuk sekolah. Aku memilih datang terlalu pagi, karena kalau terlambat sedikit, hujan deras keburu datang. Pemandangan yang sering kulihat adalah teman-teman yang basah kuyup dan jemuran kaos kaki. Aduh. Barangkali yang terakhir itu yang membuat aku tidak bisa melupakan musim hujan pada masa-masa itu, ya?

Masuk kuliah, hujan membuat aku mengenal dengan baik jalur kampus yang berkoridor dengan atap *terakhir aku perhatikan sih, bisa dibilang bisa berjalan dari ujung utara ke selatan tanpa terkena hujan, ya*. Pengalaman yang paling tidak menyenangkan adalah mengingat masa-masa plonco yang dilakukan di Rancaupas. Selama itu, hujan selalu turun setiap harinya, walhasil kulit dan baju yang kupakai seakan-akan satu bagian! Masa kuliah juga masa dimana Lusi dan aku berada di kendaraan, Lusi menyetir, bergerak dari Sukabumi ke Bandung, di pagi buta, di tengah hujan dan angin yang membuat perjalanan tidak mudah kulupakan. Tentu saja, aku punya pengalaman menyenangkan. Tidak terjadi betul-betul di kampus, tapi terjadi dengan orang-orang di kampus. Pengalaman yang mengokohkan pandangan bahwa hujan itu romantis. Berjalan di bawah payung, dipeluk oleh orang yang aku sayangi. Hmmmm.

Selama tinggal di Rotterdam, hujan adalah sesuatu yang terlalu biasa. Lebih tidak biasa adalah hari-hari tanpa hujan. Awalnya payung menjadi sahabat, tapi terbukti tidak berguna menghadapi hujan angin yang sangat tidak bersahabat itu. Lama-lama, jas hujanlah menjadi teman terbaik. Hujan tidak lagi jadi penghalang kegiatan. Hujan atau tidak hujan, tidak ada bedanya. Aku tetap berjalan kaki seperti biasa, tidak berupaya berhenti mencari tempat berteduh, aku tetap bersepeda seperti biasa, palingan hanya harus sedikit hati-hati karena jalan agak licin, aku bahkan masih bisa tetap duduk-duduk di pusat kota, menikmati orang lalu lalang!

Di Jakarta, pengalaman hujan yang sempat membuat sebagian besar Jakarta dan sekitarnya macet total pun pernah aku alami. Wuih, gak akan pernah aku lupakan. Untunglah aku memutuskan untuk tetap berada di dalam kantor dan bisa berada di rumah tidak terlalu larut, tidak perlu mendapat pengalaman membayar taksi yang ditunggu sekian lama sebanyak sekian puluh ribu rupiah hanya untuk bergerak beberapa ratus meter! Mengalami hujan, di dalam kendaraan di Jakarta, jelaslah bukan pengalaman yang ingin kuulang.

Saat ini, Bandung hujan setiap hari. Sayang sekali, sekarang sih waktu hujan aku tidak bisa lagi memilih hujan-hujanan, tidak bisa lagi membeli es krim yang dijual di sekolahku, juga tidak perlu melihat kaos kaki dijemur, tidak lagi harus menahan dingin karena baju basah seperti waktu jaman ospek, tetapi juga tidak lagi bisa mengulang masa masa indah dipeluk orang yang aku sayangi dibawah payung.

Buat aku sih, hujan saat ini memang membuat aku sedikit malas untuk keluar rumah, malas keluar dari kehangatan kamar. Tapi yang pasti, entah kenapa, aku lebih memilih satu hari yang hujan daripada satu hari yang panas kerontang membuat otakku leleh dan tidak bisa dipakai berpikir. Mungkin, terlalu lama berada di negara yang terkenal dengan hujannya itu?
Yang pasti hujan membuat orang mengomel atau malah berbahagia. Ada yang menarik napas lega, tidak sedikit yang mulai kuatir dengan masalah ikutan dari hujan yang terus menerus. Jadi, ya sudah dinikmati sajalah hujan yang turun ini. Iya kan?

Prahara

...kulihat matamu berkaca, mengingat berat beban kita

Hari Minggu kemarin, dia bertemu dengan lelaki itu. Bukan suatu pertemuan yang mudah dilakukan, tapi dia harus melakukannya. Setelah melewati sekian hari dalam kebingungan, dalam kegundahan, akhirnya dia punya cukup kekuatan untuk bertemu lelaki itu...

...dan mendung selimuti paras batinku dirundung ragu dan cemas

Sore itu, hujan deras mengguyur kotanya. Tapi itu tidak membuat dia patah semangat untuk keluar rumah. Segera dia ambil payung dan jaket hujannya. Duh, ini kan payung dari lelaki itu, dan ini juga jaket hujan dari lelaki itu, batinnya mendesah. Berat sekali rasanya kaki hendak melangkah.

...cerita dua manusia diterjang prahara, mencoba upaya

'Dimanakah kamu?' batinnya bertanya-tanya. Kembali melihat jam tangannya. Sudah lewat 5 menit dari waktu yang dijadwalkan. Dia kembali menyeruput kopi panas di depannya, sambil mengingat percakapan-percakapan terakhirnya dengan lelaki itu. Percakapan panjang yang melelahkan, percakapan yang begitu berat, yang selalu berakhir dengan air mata.

...mungkin dulu kita tergesa menyatukan langkah

Dia kembali teringat pada masa-masa awal perkenalannya dengan lelaki itu. Tidak ada sesuatu yang istimewa. Perjalanan waktu yang membuat dia melihat lelaki itu menjadi sosok yang sangat istimewa. Dia kembali teringat pada saat mereka memutuskan untuk berjalan bersama, mencoba melalui hari-hari bersama, mencoba mewujudkan mimpi-mimpi bersama. Indah sekali,

...tak sadar langkah berbeda dalam tentukan arah

Kembali dia menarik napas. Buku yang dipegangnya tidak mampu menarik perhatiannya yang memang hanya ada pada lelaki itu. Teringat pada rasa senang dan juga rasa sakit yang dia rasakan. Kesedihan yang keluar saat dia melihat kegalauan dan kekesalan lelaki itu terhadap banyak hal. Sesak rasanya harus melihat dia memendam amarah yang sedemikian kuat. 'Ah, kami memang bergerak ke satu titik yang sama dengan alasan yang berbeda,' pikirannya berkata.

...harapku, jangan dulu berpisah, kenanglah saat cinta merekah

'Sayangku, aku sudah membuat keputusan, ini keputusanku sendiri, kita harus putus," demikian kata-kata yang diucapkannya kepada laki-laki itu beberapa waktu lalu. Laki-laki itu, saat itu, hanya terdiam.

...pintaku, jangan dulu menyerah, sebelum sesal nanti terlambat sudah

Akhirnya, lelaki itu datang. 'Dia kehujanan, batinnya berbisik, kasian'.
'Maaf terlambat,' kata lelaki itu.
'Tidak apa,' balasnya. Dia hanya menatap lelaki itu dengan hasrat cinta yang masih dia rasakan, dengan kasih yang begitu tulus. Lelaki itu melihatnya, menggengam tangannya yang dingin itu, dan kemudian memeluknya. Sebuah tindakan yang menunjukkan perasaan yang terdalam, lebih dari 1001 kata yang bisa dikatakan. Begitu dalam. Dia tersenyum. Lelaki itu juga tersenyum. Yah, memang, hanya sampai disini. Inilah akhirnya.

Ya Tuhan, kuatkan dia dan lelaki itu.

29.11.04

Selamat Ulang Tahunku Untuknya

Ada yang pernah denger Lithuania? Tanpa bermaksud merendahkan ya, tapi sebagian besar bisa jadi belum pernah dengar. Aku malah bersyukur kalau kamu tahu itu tuh nama sebuah negara (aduh, pelecehan banget ya aku). Dulu, aku juga gak tau banyak tentang negara yang satu ini, kecuali bahwa Lithuania adalah sebuah negara kecil di Eropa Timur, "bekas" negara Uni Sovyet. Sudah. Segitu saja pengetahuanku.

Ternyata kemudian, aku tinggal bersama seorang dari Lithuania. Namanya Jolita Piliutyte *beneran deh, agak lama aku baru bisa nulis namanya dengan benar*. Aku harus berbagi unit apartemen dengannya selama beberapa bulan. Maunya sih 1,5 tahun, tapi Jolita harus berangkat ke Swedia untuk beberapa waktu, sebelum akhirnya kami diwisuda bersama-sama. Dia adalah salah satu sahabat terbaikku. Sahabat pertama yang aku dapat di sebuah negara yang jauh dari rumah. Kami berbagi banyak hal, tawa dan airmata. Kepusingan dengan bahan bacaan kuliah yang bertumpuk, tapi juga pesta-pesta yang tampaknya selalu ada selama masa itu. Apa yang kami yakini tidak selalu sama, malah ada beberapa hal yang sangat berbeda, tetapi entah kenapa, kami bisa begitu kompak bersama.

Hari ini, dia berulang tahun. Keberapa, itu tidak penting. Letak geografis yang begitu jauh, ketidakpastian kapan bisa bertemu kembali tidak mengurangi nilai sebuah persahabatan kan? Teman itu datang dan pergi, sih. Ada teman sewaktu sekolah mulai dari sekolah dasar sampai lanjut, ada teman sepermainan di sekitar rumah, ada teman di kegiatan-kegiatan lain di luar itu, baik itu di tempat kursus, tempat kerja atau yah, ketemu tidak terduga, termasuk lewat blog misalnya. Seringkali, teman yang tinggal di kota yang berbeda dengan kita, justru lebih sering kita temui dibanding teman yang tinggal satu kota dengan kita. Masih mending kalau hanya beda kota, kalau beda negara? Dengan kondisi keuangan sekarang, rasanya komunikasi lewat e-mail atau sms terpaksa dicukupkan.

Mungkin, kamu punya teman pena *dulu tuh, biasanya didapat dari majalah anak-anak, saling kirim surat gitu*, mungkin juga punya teman dekat yang berada satu kota tapi tidak pernah lagi bertemu, atau teman dekat yang berbeda kota, dan saat ini ulang tahun. Coba deh, cek lagi, sebuah sapaan singkat pasti akan menyenangkan.

Sedangkan untuk Jolita (ya, saya tahu, dia tidak bisa bahasa Indonesia), saya hanya bisa bilang Selamat Ulang Tahun yaa..

"Ada yang bisa dibantu?"

Hidup kita ini memang penuh dengan orang-orang yang membantu kita, tanpa, seringnya, kita sadari. Di rumah, kita punya pembantu (setidaknya, sebagian besar dari kita deh). Di kantor, kita punya OB (Office Boy). Dimana-mana kita akan melihat orang-orang yang siap membantu untuk urusan "remeh-temeh-precelan". Sebetulnya kata remeh-temeh ini juga tidak tepat, karena pekerjaan yang tampak kecil, kemudian menjadi sangat penting ketika orang-orang tersebut tidak ada! Tidak usah dibahas bagaimana rasanya ditinggal pembantu mudik. Coba bayangkan jika OB anda tidak masuk hari ini. Apalagi untuk anda yang terbiasa dibuatkan minuman, dibelikan indomie, dibantu memperbanyak dokumen dan lain-lain. Cukup kelabakan, kan.

Di jalan, selalu ada tukang parkir yang membantu kita. Aku tahu, tidak sedikit diantara kita yang berupaya menghindari mereka, menghindari mengeluarkan 1000 rupiah tersebut! Aku juga seringkali kesal dengan ulah mereka yang seringkali bukannya membantu kita dalam parkir memarkir malah membuat kita nyaris tabrakan dengan kendaraan lain! Tapi entah kenapa, aku merasa begitu dekat dengan tukang parkir ini. Tukang parkir di SMPku, masih sering saling sapa kalau kebetulan aku dan keluarga melintasi sekolah lamaku itu. Tukang parkir SMA sering kali jadi tempat titip salam. Tukang parkir di kampus, adalah penolong terbesar, guru dalam urusan parkir yang rela membiarkan kakinya tergilas ban mobil yang kami setir, yang menyucikan mobil kami dikala kami tidak begitu perduli karena tugas yang bertumpuk, yang menjadi teman ngobrol menyenangkan dan menjaga mobil-mobil kami bahkan ketika kami lalai menutup pintu dan jendela!

Predikat “kakak tertua” membuat aku sering berbelanja di sebuah supermarket yang terkenal dengan parkir gratisnya itu. Saking seringnya aku berbelanja (aku tidak suka menyimpan makanan terlalu lama di kulkas), akhirnya aku cukup mengenal muka-muka pegawai yang menimbang sayuran, menimbang ayam dan juga berjaga di belakang mesin kasir. Senang rasanya untuk melempar senyum, dan berbasa-basi tentang apapun yang terjadi. Entah bagaimana aku merasa ada satu hubungan yang menyenangkan dan itu juga sih yang membuat aku betah kembali ke tempat itu.

Soal betah ke satu tempat, perasaan mengenal juga yang membuat aku selalu membeli pulsa di satu tempat, tidak jauh dari supermarket tersebut. Sebagai orang yang setia dengan sistem pra bayar, aku sering datang ke XL center di Dago untuk membeli pulsa. Aku sampai sadar muka-muka yang datang dan pergi. Aku tahu perkembangan salah satu pegawainya mulai dari hamil hingga akhirnya melahirkan (sayangnya sepertinya dia sudah keluar dari tempat tersebut). Aku juga mendapat senyum dan kemudahan kalau kebetulan ada masalah dengan pengisian pulsa, aku percaya dengan mereka, dan mereka juga tahu, aku bukan pelanggan yang rewel

Satu tempat lagi yang membuat aku merasa punya ikatan khusus dengan mereka yang punya label pelayan adalah di potluck. Aku sampai hapal muka-muka kru-nya dan bahkan kemudian hapal nama-nama mereka. Terkadang, melihat dan mendengar mereka membuat aku tersenyum! Bahkan tak jarang, kami terlibat percakapan menyenangkan. Datang sendiri kesana? Sama sekali bukan masalah!

Pasti banyak orang-orang seperti ini di lingkungan kita, seringkali tidak kita kenal. Mereka, menurut aku, sangat membantu, dan sesungguhnya, punya satu ikatan khusus dengan kita. Sebuah senyum, bukanlah sebuah hal yang terlalu sulit yang bisa kita lakukan untuk mereka.

Dulu, sekarang, dan nanti

Teringat satu tulisan yang berhubungan dengan masa lalu, masa sekarang dan masa akan datang di friendster. Ini nih tulisannya

10 tahun lalu, aku
-- baru aja jadi "maha siswa", ketemu teman-teman baru, ketemu jenis kehidupan baru, gaya belajar baru dan banyak hal baru lainnya

5 tahun lalu, aku
-- lulus, baru aja mulai bekerja di sebuah lembaga penelitian, menikmati waktu-waktu diluar bekerja dengan bermain dengan teman-teman kuliah, teman-teman SMA, pergi pagi pulang pagi...kakakakak

3 tahun lalu, aku
-- baru lulus (lagi), meninggalkan Rotterdam dengan berat hati, meninggalkan teman-teman dan kehidupannya, kembali ke kehidupan "nyata", kembali tinggal di rumah dengan berbagai aturan dan norma yang kembali harus aku ikut, berupaya dan berjuang untuk menemukan tempat berkarya yang pas

Setahun lalu, aku
-- mulai kehidupan bolak-balik Jakarta-Bandung, mahir menyetir Bandung-Jakarta pp, mulai bekerja dengan bule2 itu, dan mulai bega' dengan ketidakadilan yang ada!

Tahun ini, aku
-- melepas dua orang yang sangat aku sayangi, satu yang sekian tahun telah menjalani hari-hari bersama melewati batas negara, dan yang kedua adalah orang yang dalam masa yang cukup singkat mengisi hari-hariku, memberiku inspirasi dan cinta, mengajarku banyak hal.

Kemarin, aku
-- belajar untuk menerapkan satu prinsip penting yang seringkali dianggap klise yaitu "komunikasi" dalam keluarga, belajar menerima kelebihan dan kekurangan didalam keluarga, belajar untuk lebih menerima dan juga mulai lebih berani untuk berbicara tentang cinta yang aku rasakan

Hari ini, aku
-- untuk pertama kali bisa bangun tanpa harus sembab-sembab...yippeeee

Besok, aku
-- harus kembali memulai mencoba kembali mewujudkan mimpi-mimpi yang aku bangun....walaupun harus seorang diri

Bulan depan, aku
-- menikmati bulan yang menyenangkan dan santai, mempersiapkan natal dan akhir tahun dan liburan keluarga lagi...asikkk

Tahun depan, aku
-- tidak ingin membayangkan apapun yang muluk-muluk, hanya berharap bahwa aku bisa terus membantu mewujudkan mimpi orang yang aku sayangi dan juga mimpiku sendiri, berharap pintu-pintu mulai terbuka....

Semua hal berubah, ada hal yang berjalan seperti yang kita harapkan,ada yang tidak, tapi itu tidak pernah membuat aku berhenti berharap dan membayangkan suatu hal di masa akan datang. Berharap, yang akan datang aku berhasil mewujudkan banyak hal lain. Perubahan? Itu hal biasa. Bukan hanya lingkungan yang berubah, bukan hanya teman-teman yang berubah (sebagian datang dan pergi, sebagian tetap bersama), tapi juga diri kita sendiri berubah! Cara pikir, cara pandang, dan banyak hal lain. Tentu saja, fisik adalah satu hal yang paling nyata perubahannya ya? Hmmm, jadi inget salah satu foto lama yang dibuat hampir 20 tahun lalu nih. Apapun itu, perubahan bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, itu menurut aku. Perlu diterima dengan lapang dada dan penuh syukur!

Lihatlah, perubahan tidak selalu perlu dihindari kan. Aku tidak merasa perubahan fisik aku dari hampir 20 tahun lalu dengan sekarang sebagai sesuatu yang menyebalkan. Hmm, rasanya aku tidak jauh berbeda kan :))

28.11.04

Keluarga

Pagi-pagi tadi semua sudah dipanggil untuk ngobrol-ngobrol pagi. Yah, akhirnya sih tidak semua, karena salah satu adikku masih tewas ditempat tidur. Ini sesuatu yang sudah lama gak bisa kami lakukan, soalnya semua sibuk antara Bandung dan Jakarta. Selalu ada ada saja yang masih ada di Jakarta, atau sebaliknya ada ada saja yang tengah berada di Bandung.

Ngobrol banyak, walaupun aku cukup tahu pasti, sebetulnya bintang tamu pagi ini adalah aku sendiri. Tidak jauhlah, pasti percakapannya berhubungan dengan satu orang yang begitu aku sayangi juga. Tapi aku bersyukur, ternyata obrolan bisa berjalan lancar, walaupun, yah, tissue terpaksa harus keluar dari tempatnya juga sih.

Pernah punya hubungan begitu dekat dengan keluarga? Baguslah, kalau iya. Kalau aku ini, hubungan yang dekat dengan keluarga, tetapi terlalu sangat dekat dengan ayahku. Susah! Nasib anak perempuan kali ya, anak perempuan pertama pula, anak kesayangan pula, anak yang jadi tumpuan impian dan cita-cita satu keluarga. Mau dianggap beban, ya jadi berat, tapi dianggap bentuk penghargaan, ya mudah-mudahan bisa dijalani.

Nyatalah, bahwa hubungan aku dengan ayahku memang begitu kuat, sehingga sulit untuk mulai berbagi dengan orang lain di luar keluarga. Tapi, tokh hidup ini kan sebuah proses, sebuah pembelajaran juga. Aku harus belajar lebih mengerti dan memahami dan juga keluargaku.

Senang, bahwa itu semua bisa keluar. Senang, bisa ngobrol lagi, mengeluarkan unek-unek, berbagi kasih. Pada akhirnya, kita semua ingin yang terbaik buat orang-orang yang kita kasihi, bukan? Aku sayang banget ama keluargaku.

Terimakasih, Tuhan...

27.11.04

Sakit gigi atau sakit hati?

Entah, aku harus pilih mana sakit gigi atau sakit hati? Kata orang lebih baik sakit gigi daripada sakit hati? Bukan begitu? Bagaimana kalau ternyata, sialnya, kamu harus ngalamin dua-duanya bersamaan? Wuih, jangan tanya deh rasanya.

Biasanya sih, kalau habis dikencengin kawat gigi, palingan baru besoknya aku sakit gigi. Yah, ditambah sehari dua hari setelah itu deh, gigi cenut cenut. Tapi belum pernah aku sakit gigi di hari gigiku diperiksa, sampai hari ini.Hari ini, Oom Dokter melakukan sesuatu yang berbeda di gigiku. Entah apa, tapi dia memang sudah mewanti-wanti kalau kali ini bakalan sakit. Dia sama sekali tidak bercanda, sakit banget! Padahal aku ini bukan orang yang mudah merasa sakit untuk urusan gigi. Wong, operasi cabut gigi yang miring sekali empat sekaligus dan cuman bius lokal aja berhasil dengan sukses kujalani, bahkan masih menyetir sendiri dari rumah sakit.

Ah, nafsu makan lagi turun, dan tadi siang lupa makan enak. Walhasil, sore ini, bener bener deh malam minggu kelabu *cie cie*. Cuman bisa berupaya bobo atau nulis blog, siapa tahu sakitnya lupa.

Hmm, pengen nongkrong supaya aku lupa sakit gigi, tapi ternyata orang yang aku pikir ingin ketemu akupun tidak bisa bertemu. Sempurnalah!

Jangan pernah sakit gigi deh ya, apalagi sakit hati dan berbarengan. Perih!

Antrian

Satu hal yang paling aku gak suka adalah orang yang tidak bisa mengantri, mulai dari antri telepon umum (ini sih jaman ditemui di sepuluh tahun kebelakang kali ya, sekarang sudah jarang aku melihat ada antrian di depan telepon umum), antri bus, antri beli makanan, antri di kantor pos, antri di bioskop.
Masih terbayang, pengalaman mengantri di salah satu restoran cepat saji di Cirebon. Malam itu, malam minggu. Kami semua kelaparan, dan memutuskan untuk makan di restoran tersebut. Seingatku, pelayan di restoran tersebut biasanya cukup ketat urusan antri mengantri, tapi kali ini aku bernasib apes. Aku, dengan sabar, berdiri di belakang 2 orang. Tiba-tiba, ketika sudah tiba giliran aku, serombongan ibu-ibu datang dan langsung memesan makanan! Kaget. Sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Konon kabarnya, waktu itu mall tersebut baru saja dibangun di Cirebon, dan malam minggu, orang orang dari luar Cirebon sering sekali main ke mall tersebut, dan, maaf nih, biasanya mereka memang tidak tahu kata antri!
Ada satu pengalaman lain, makan bakso di Blok S. Saat itu, mangkok sudah habis. Ya sudahlah, aku menunggu di antrian, kebetulan semua temanku sudah mendapatkan mangkok. Ealaa, begitu mangkok selesai dicuci (hanya ada 3 mangkok), ada ibu-ibu (lagi!) langsung mengambil mangkok. Hanya saja, kali ini, kebiasaan lama kumat, dengan santai aku ambil saja mangkok dari tangan si ibu sambil bilang,"Bu, antri dong, saya juga antri." Keterlaluankah aku? Rasanya lebih keterlaluan lagi ibu-ibu itu, yang sepertinya kemudian mengurungkan niatknya untuk makan baso. Huh, gak tau diri deh.
Memang, di jaman nonton midnight selalu penuh, seringkali aku dan abangku memperhatikan muka-muka orang yang mengantri, dan, biasanya sihhh, ada saja muka yang kami kenal. Ujung-ujungnya? Bisa ditebak, kami tidak perlu mengantri! Sekarang memang sudah tidak pernah melakukan itu, barangkali lebih dikarenakan aku sudah cukup lihai menebak antrian. Aku bisa tahu, kalau antrian tersebut sudah mencapai titik tertentu aku tidak akan mendapat tiket, tapi kalo masih didalam jarak tertentu, aku tahu pasti, aku masih bisa dapat tiket. Itu sebabnya aku lebih sering ngotot nonton bioskop di tempat biasa. Sudah ada hitungannya sih :)
Tapi, jangan deh coba-coba berharap banyak deh untuk mengantri tiket kereta Jakarta-Bandung di hari Jumat sore. Itu adalah antrian penipuan, apalagi untuk tiket eksekutif. Silahkan mengantri selama 3 jam, waktu yang sama yang dibutuhkan untuk tiba ke Bandung dari Jakarta. Kalau tidak mau antri, silahkan beli di calo.
Senang sekali waktu aku berkesempatan tinggal di satu kota dengan budaya antri tinggi. Bahagia sekali. Tidak perduli seberapa panjang, orang akan mengantri. Tapi paling kaget waktu musim obral tiba, antrian untuk memakai baju di ruang ganti begitu panjang!
Aku senang sekali dengan garis antrian yang sering ada di belakang suatu loket. Biasanya di depan loket penjualan tiket bioskop, ada garis merah. Sial, tampaknya lebih banyak orang yang tidak mengerti bahwa garis merah itu punya makna! Orang masih sering mengabaikannya, dan langsung berdiri di belakang orang yang tengah membeli tiket. Wooiiiii, itu garis dimaksudkan buat kamu, yang persis di belakang orang yang beli tiket, untuk menjadi batas atau menjadi garis yang berkata,"eits, tunggu disini dulu ya."
Sebal sekali deh, kalau didalam antrian orang di belakang aku mendesak-desak, seakan-akan takut ada ruang kosong diantara kami yang bisa diisi oleh orang lain. Antri sih antri, tapi kan gak usah main dorong-dorongan seperti itu. Phhhfff. Apalagi kalau aku harus memasukan nomor pin kartu debit, baik di ATM, ataupun di kasir, aku gak suka orang yang dibelakangku berdiri begitu dekat, dan melihat nomor pin tersebut. Walaupun, aku tahu, dia bisa jadi gak ada kerjaan, dan gak ada niatan untuk menjebol kartuku, tapi, duh, itu kan wilayah pribadi aku. Ini nih yang aku kangen waktu tinggal di Rotterdam, orang biasanya akan menjaga jarak yang pas didalam antrian ATM atau di kasir.
Hari ini, aku harus antri di dokter gigi. Sedikit terlambat, karena sudah banyak orang di ruang tunggu. Sudah bisa ditebak, ada satu dua orang yang begitu gelisah, sebentar-sebentar berdiri dan bolak balik ruang dokter. Tentu saja, kemudian mereka mulai masuk ruangan untuk melihat apakah dokter sudah selesai atau belum. Inipun masih ditambahi embel-embel sebuah percakapan dengan siapapun yang berhasil diseret untuk menemaninya ke dokter bahwa,"biasanya sih tidak antri, langsung masuk, sayangnya, tadi gak sempet telepon."
Hei, sini deh aku kasih tahu, telepon atau tidak, itu bukan menjadi tiket untuk begitu datang bisa langsung diperiksa, karena, coba deh lihat sekelilingmu, kita semua sama-sama pasien rutin yang juga biasa menelepon dokter. Jadi satu-satunya cara untuk bisa dilayani dokter adalah dengan mengantri!

26.11.04

Jangan Jenuh, Say...

Temanku menuliskan satu kalimat yang bukan sekali dua kali kulontarkan:
knapa ya, gw lg mengalami kejenuhan yg luar biasa dlm bekerja, awalnya gw pikir itu efek baru libur seminggu, tp masak sih efeknya sampe hari ini..:( enaknya ngerjain apa yaa...
Jenuh, bosan, malas, loyo. Aduh, itu semua sepertinya yang juga tengah aku rasakan, dan sebagaimana kejenuhan sebelumnya, seringkali aku tidak tahu kenapa aku jenuh, kenapa aku bosan, kenapa aku malas dan kenapa aku loyo.
Temanku ini juga jenuh dan tidak begitu pasti kenapa dia merasa jenuh.
Rasanya tidak mengenakan. Sangat. Dari bangun pagi sudah tidak bersemangat, pergi ke kantor atau pergi ke tempat kerja apapun itu juga tidak bersemangat, melakukan segala sesuatu hanya karena itu harus dilakukan *masih mending kalau dilakukan, nah kalo ternyata malah bengong, gimana dong*. Begini salah, begitu salah.
Hari ini, aku seperti disadarkan *pencerahan gitu? kwakakak*, daripada aku pusing mikirin kenapa gini dan kenapa gitu, lebih baik aku coba mencari sesuatu yang membuat aku bersemangat. Biasanya, bertemu abang adalah salah satu obat terbaik, tapi saat ini bukan pilihan terbaik. Jadi apa dong? Nongkrong di Potluck, nonton ke bioskop *aku gila bioskop dan gak gitu suka nonton di rumah*, baca buku? Satu hal yang selalu bisa membuat aku tidak lagi jenuh adalah perubahan, apalagi kalau itu dilakukan bersama teman-teman tersayangku. Aku selalu bisa merasa bahagia, merasa lebih baik, dan tidak jenuh *setidaknya selama beberapa saat, itu bagus kan*.
Karena itu, aku pingin bilang makasih ya, teman-temanku, tanpa ada maksud mengurangi peran teman-teman yang lain yaaa, khususnya untuk kalian berempat (kayaknya kelompok ini kurang satu, maaf ya Jus, gak ada fotonya).


Mengajar atau Menghajar?

Sebetulnya malas sekali untuk masuk kelas hari ini. Untunglah sebetulnya hari ini bukan aku yang memberikan materi di kelas, tapi pak Prof. Tapi ini bukan berarti aku bisa bersenang-seneng! Aku tetap harus masuk ke kelas, walaupun diberi kelonggaran oleh Pak Prof untuk bisa datang sejam lebih terlambat. Tetap saja, aku memilih datang tepat waktu.

Uh, sepertinya suasana masih suasana liburan ya. Ribut banget kelas hari ini. Waktu akhirnya aku yang harus berdiri di depan kelas untuk membahas tugas besar yang mereka lakukan, aku merasa harus teriak-teriak untuk bisa berbicara! Huh. Padahal badan lagi demam banget. Tapi, rasa kangen sama kelas membuat aku bersemangat dan coba terus berdiri di depan kelas.

Senang, ada beberapa yang begitu antusias, tapi lebih banyak lagi yang tidak peduli. Sedih deh. Lebih baik, rasanya, hanya ada beberapa mahasiswa di dalam kelas tapi semangat mengikuti kuliah, daripada keseluruh 83 mahasiswa tersebut ada di depanku, tapi asyik ngobrol satu sama lain! Soalnya bawaannya bukan ingin mengajar, tapi jadi pengen menghajar.

Jalan Lagi, Gosip Lagi

Sikk asik, ketemu Ratna.

Ini adalah salah satu penerapan aku, upaya nyata aku untuk keluar dari persembunyian, keluar dari kenyamanan tempat tidur dan kamarku, untuk kembali ke kehidupan normal, kembali bertemu orang-orang *cie*. Aku harus keluar dan kembali bersosialisasi, kan. Untung Ratna punya waktu untuk ketemu.

Memutuskan ke BSM, karena lagi semangat berbelanja. Ratna sih ingin mempergunakan THR yang menganggur selama ini kan. Kekekekek, coba aku juga punya THR ya? Sayangnya tidak ada euy.

Makan siang dulu dong, dan, wakkks, Ratna lagi program penggemukan di kala aku lagi tidak semangat untuk makan apapun. Duh, bersyukur banget dia lagi semangat makan dan beli ini itu, aku jadi bersemangat makan loh! Malah sempat berpikir, kayaknya ini blueberry cheese cake-nya kurang deh.

Metro sedang sale. Plarak kiri kanan, duh, ada tas lucu, aduh ini baju keren deh, aduh ini dompet mau deh, aduh dan aduh deh. Sayang, aku sendiri lagi harus hemat-hemat, sudah mau akhir tahun dan pekerjaanku tidak menjamin ada pemasukan berarti untuk akhir tahun ini. Jadilah aku cuman nemenin Ratna yang, akhirnya, mengembat tas biru itu *hiks, pengen deh, Na!* dan beberapa barang lain ya.

Makasih ya, udah mo nemenin, beneran deh, lega juga, dan terutama karena suasana tempat belanja tidak seramai suasana sebelum lebaran, aku bisa jalan-jalan dengan nyaman.

Senangnya berjalan-jalan lagi, bergosip-gosip lagi. Sering-sering ahhh...

High Fidelity

Buku ini aku pinjam karena masuk kategori buku “tidak mikir”, alias bisa dibaca santai-santai saja. Bayangan aku: chicklit. Bisa jadi tidak tepat karena tokh pengarangnya laki-laki dan ceritanya juga bukan tentang perempuan umur 20-an atau 30-an.

Buku ini tentang laki-laki di pertengahan 30 tahun, tentang laki-laki yang memiliki sejarah dengan beberapa perempuan di belakangnya, tentang laki-laki yang pernah jatuh cinta dan putus cinta, dan tentu saja sebagaimana chicklit, tentang laki-laki yang bergulat juga dengan pekerjaan yang dia lakukan (walaupun porsi terbesar sudah pasti diambil oleh urusan asmara).

Capek! Itu yang aku rasakan waktu baca buku ini. Cape dengan kesinisan Rob melihat hidup, capek dengan pesimistis dia, capek dengan ketidakbisaan dia menerima kenyataan. Kamu mencari yang namanya pecundang berat? Itu dia, Rob! Tapi, hey, aku capek karena aku juga seringkali sangat sinis melihat hidup, sangat pesimistik dan juga sering tidak bisa menerima kenyataan.

Sulit sekali menamatkan buku ini, entah kenapa. Bisa jadi karena begitu banyak hal yang berbeda. Bukan tentang perempuan dan bukan oleh perempuan. Mirip dengan buku John O’Farell yang berjudul The Best A Man Can Get. Tentang laki-laki. Apa ini juga yang dirasakan laki-laki kalau harus baca chicklit ya?

Akhirnya buku ini bisa diselesaikan dalam sehari. Phhff. Gak begitu besar keinginan untuk membaca ulang buku ini.

Satu hal, duh, ternyata laki atau perempuan, sama aja ya, hancur hati kalau putus cinta. Kekekekekek…pembenaran….cari balad yeuh!

25.11.04

Kacamata Kuda


Bukan, bukan kacamata di jaman kuda yang bentuknya gak jelas. Ini juga jelas-jelas bukan kacamata cengdem yang kadang bikin mata panas, tapi ditahan demi sebuah gaya. Kacamata kuda itu kacamata yang bentuknya sama sekali berbeda dengan kacamata yang aku tahu, yang dipakaikan ke mata kuda. Kalau gak salah inget, itu dibuat supaya sang kuda tidak plarak plirik kiri kanan *hmm, kayaknya beberapa orang perlu dipakaikan kacamata kuda, deh*, dan menurutku, terutama supaya kuda itu memang hanya melihat ke arah yang diinginkan ama Pak Kusir di belakang kemudi.

Itu dia, supaya si kuda jalan sesuai dengan yang dimauin ama Pak Kusir.
Aku sih yakin, Pak Kusir tidak ada niatan untuk membawa si kuda ke jalan yang buruk, tapi Pak Kusir tahu pasti, jalan mana yang harus diambil si kuda. Apapun itu, si kuda pasti harus nurut dan biasanya memang selalu menurut dengan arah kemudi Pak Kusir.

Dalam hidup kita, apakah kita juga memakai kacamata kuda? Mungkin tidak dalam bentuk fisik, tapi menyambung kalimat yang pernah dilontarkan abang, kita memang memakai satu kaca mata kuda dalam hidup kita. Ada hal-hal yang membuat kita melihat satu hal dengan cara tertentu. Paradigma? Entah, apapun itu. Mungkin satu sikap hidup, mungkin agama, mungkin ideologi apapun, bahkan jika itu menganut paham tidak dikendalikan oleh sesuatu apapun, itupun satu kacamata kuda sendiri.

Aku juga memakai kacamata kuda tersebut, hanya saja baru sadar, bahwa itu adalah satu kacamata kuda yang aku pakai. Ada kusir yang mengendalikan diriku, walaupun sebagaimana ada kuda bandel, kadangkala aku juga ingin membandel, pengen lihat kiri kanan, pengen melewati jalan lain. Tapi aku tahu, aku punya kusir yang sangat baik dan sungguh tahu kebutuhanku. Aku sudah memilih kusir. Hmm, kayaknya salah ya, pernah denger kuda milih kusir? Kayaknya kusir kan ya yang milih kuda. Jadi kuganti deh, kusir itu udah milih aku menjadi salah satu kudanya. Aku bersyukur banget. Kayak seseorang yang sudah diberi sesuatu yang sangat berharga. Seperti kalau kamu berada di satu jurang, sudah mau mati, dan tiba-tiba ada seseorang yang mengulurkan tangan dan kamu selamat. Kamu pasti bersyukur, sangat bersyukur. Begitulah rasa syukurku, karena kusir itu udah milih aku.

Karena itu, aku tahu, aku harus taat pada kusir itu. Bukan karena takutku pada sang kusir, bukan pada lecutnya, tapi karena rasa syukurku. Aku memutuskan kacamata kuda yang dipasangkan memang dengan senang hati aku terima. Kalau aku harus di-tendem dengan kuda lain, harus milik kusir yang sama dong ya? Harus pakai kacamata yang sama dong? Kalau enggak, ya lieur atuh!

24.11.04

Take It To The Limit

Heran, kenapa ya, judul tulisan-tulisan terakhir jadi berbahasa Inggris, padahal itu jatah halaman yang lain yang memang berbahasa Inggris (dan malahan yang berjudul bule itu belum aku terjemahkah, huh). Tapi, ya itulah yang langsung terketik waktu mulai nulis.

Kali ini, entah kenapa aku cuman ingin ngungkapin ini...

All alone at the end of the of the evening and the bright lights have faded to blue. I was thinking 'bout a (wo)man who might have loved me and I never knew. You know I've always been a dreamer (spent my life running 'round) and it's so hard to change (can't seem to settle down). But the dreams I've seen lately. Keep on turning out and burning out and turning out the same. So put me on a highway and show me a sign and take it to the limit one more time.You can spend all your time making money. You can spend all your love making time. If it all fell to pieces tomorrow. Would you still be mine? And when you're looking for your freedom (nobody seems to care) and you can't find the door(can't find it anywhere). When there's nothing to believe in. Still you're coming back, you're running back. You're coming back for more. So put me on a highway and show me a sign and take it to the limit one more time.

Copy Paste

‘Eh, kapan dong kita jalan, mencari skripsi yang judulnya sama tea.’

Ha?! Aku bengong. Apa sih yang baru dia bilang? Betulkah pendengaranku? Mencari skripsi dengan JUDUL SAMA? SAMA? Aku terhenyak, dan kuputuskan untuk menunda meneruskan buku yang tengah kubaca.

‘Yah, paling enggak, gue mau kopi bab 1-nya aja dulu.'

Uih, aku sama sekali tidak salah dengar. Beneran, aku kaget. Bagaimana bisa?

Dulu, aku justru main ke perpustakaan, melihat Tugas Akhir (TA) yang ada untuk memastikan bahwa TA aku tidak sama dengan mereka. Tapi, ini, malah mencari yang sama?!

Lebih gila lagi, dia memang sudah berniat untuk mengambil Bab 1 dari skripsi siapapun itu, supaya bisa memberikan judul. Duh, aku bener-bener gak bisa ngerti. Mereka betul-betul sedang membicarakan “membuat skripsi” kan, bukan sekedar tugas makalah kelas *wah, apakabar dengan “sekedar tugas makalah kelas” ya? Maaf deh, bawaan “berasa ada di kelas” aku mulai keluar *eh, draftnya salah satu mahasiswa aku belum dikoreksi, ugkh*. Apa dia tidak tahu apa itu Bab 1, apa artinya, kenapa harus ada dan seterusnya. Itu bukan sekedar hanya Bab 1, tapi justru menjadi landasan seluruh penelitian yang mau dilakukan. Berat memang, tapi seseorang yang mau meneliti jelas harus tahu pasti kenapa mau meneliti itu, untuk apa, bagaimana melakukannya dan seterusnya.

Jadi inget satu waktu, aku dan abang pernah tanpa sengaja membahas ini di salah satu masa-masa ngacapruk. Waktu itu, (rasanya) satu diantaranya kami membahas kebingungan kami berdua dengan kata kata’ Sudah sampai bab berapa’ yang sering ditanyakan kepada orang yang sedang skripsi *kayaknya dulu, aku gak bisa jawab deh kalau pertanyaannya ini, karena betul-betul tidak bisa dilakukan bab per bab seperti itu*. Betapa memang ya, pembuatan skripsi itu bagaikan momok, dan mimpi buruk. Ada apa sih dengan mahasiswa sekarang? Apa memang TA atau skripsi itu suatu beban berat dan dilihat hanya sebagai satu tiket untuk bisa diwisuda dan dengan demikian bisa sedikit pamer kiri pamer kanan? Apa memang tidak ada keinginan untuk mengetahui lebih lanjut suatu hal yang berhubungan dengan studi yang diambilnya? Sedih. Ada beberapa orang yang begitu bersemangat mengerjakan skripsi harus mengalami kendala finansial atau kendala akademik, misalnya saja karena dianggap tidak sesuai dengan apa yang dianut pembimbingnya.

Bikin skripsi itu memang penuh luka liku. Seperti ikut ospek aja, penderitaan lahir batin, walau tidak mau diulang, tapi gak penah mati buat dibicarakan!

Tapi, hey, itulah yang membedakan kamu dengan anak SMA, dengan mereka yang mungkin tidak beruntung untuk bersekolah formal seperti kalian *walau pengalaman membuktikan bahwa banyak orang pintar yang tidak menempuh jalur formal tersebut*. Duh, seandainya saja dia sadar bahwa dia adalah orang yang beruntung bisa punya kesempatan ntuk mencoba mensitesis suatu hal dan mendapat bimbingan untuk itu, mudah-mudahan penelitian bukan milik "peneliti" semata, mudah-mudahan tidak lagi terpikir untuk copy paste skripsi.

Oops...I did it again

Aku pernah bikin pengakuan ke Lusi, kalau aku itu sanggup-sanggup aja mendengarkan omongan orang yang gak keru-keruan, yang bikin sakit hati, yang bikin muntah, karena aku bisa membagi otak aku ini ke beberapa bagian. Gak sulit untuk bisa mendengar seseorang mengomel di depan aku, sementara sebetulnya aku tengah memikirkan suatu yang lain. Tidak perlu takut kelihatan tidak memperhatikan, karena aku sanggup melakukan keduanya dengan baik. Orang yang sedang ngomel itu tidak akan tahu, kok, karena aku memang mendengarkan dia bahkan bisa memberi komentar (seperlunya), padahal saat itu aku tengah memikirkan hal lain, yang membuat aku jauh lebih bahagia daripada mendengarkan dia.

Beberapa waktu lalu, Lusi kuatir aku melakukan itu lagi. Waktu itu aku kaget, yak ampun, aku bahkan sudah tidak bisa ingat kapan aku melakukan hal itu. Hmm, senang sekali, berarti sekian lama aku menikmati setiap obrolan, atau berarti sekian lama gak ada orang ngomel, atau berarti sekian lama, aku berhasil menjaga diriku di dunia nyata.

Tapi, semalam, Oops…I did it again. Maaf Lus, tiba-tiba aku terlalu sedih untuk mendengar ucapannya, dan kembali, kebiasaan lama, refleks aku lakukan. Aku membayangkan hal lain, selama dia berbicara. Sedih.

Maafku untuknya. Aku denger semuanya, kok. Karena, untungnya, begitu aku melakukannya, aku sadar, aku tidak menghargai dia, padahal, sungguh, aku sangat menghargai dia.

23.11.04

Loyo

Aneh banget. Biasanya aku menikmati suasana Bandung yang kayak sekarang ini. Mendung, agak hujan, dingin (walaupun tidak sedingin jaman SD dulu). Ini adalah cuaca yang paling pas untuk ada di rumah sambil minum coklat hangat, syukur-syukur bisa ada bacaan yang menyenangkan. Kalau lagi melankolis, paling ditambah teringat masa-masa kuliah di negara yang terkenal dengan cuaca mendung setiap saat itu.

Tapi tidak hari ini. Cuaca mendung kayaknya kok membuat aku tambah malas untuk melakukan apapun. Males beberes rumah *untung udah gak ada anak kecil di rumah jadi gak terlalu berantakan kecuali di depan TV*, males belanka dan males masak *maaf buat adek-adekku, cari makan di luar aja yaa*, bahkan males buat baca buku juga *ini keajaiban*.

Kebetulan papi lagi ada di Bandung nih, tapi parahnya, aku juga males juga untuk berinteraksi dengan orang. Biasanya, pasti aku semangat untuk ngobrol segala macem dengan papi, dan bahkan bisa membuat orang merasa tersisih atau memilih untuk tersisih kalau kami berdua sudah ada di dunia perbincangan antara kami berdua. Dia udah sengaja makan siang di rumah, eala, aku gak masak, terpaksalah dia cari makan di luar. Pulang ke rumah, aku yakin, supaya bisa ngobrol juga dengan aku. Tapi aku males banget. Jadinya dia ngomong, aku terdiam sambil makan mie baso yang dibawakannya *makasih ya, Pi*.

Adek-adekku juga pusing kali ya ngeliat kelakuan aku!

Loyo!

Entah apakah harus minum yang kata orang minuman energi itu. Biasanya sih sumber energiku itu harusnya secangkir coklat panas. Tapi kali ini, keinginan untuk makan atau minum juga berada pada titik terbawah *harusnya dirayakan ya, eh diharap berlangsung agak lama, lumayan buat ngurusin badan kekekek*. Biasanya sih, bertemu teman, berada di potluck, mendengarkan dnj bisa membuat bersemangat. Kalau semua gagal, entah kenapa, sebuah pelukan hangat, selalu membuat aku kembali bersemangat.

Contekan dong, teman-teman, kalo kamu lagi loyo, “dopping” kamu apa?

Punten, lagi males!

Males banget ngapa-ngapain nih. Sebel juga baterei kamera abis, charger di Jakarta, males keluar rumah beli yang baru, jadi gak bisa upload beberapa foto baru. Huh!

Dari tadi, kebayang-bayang lagu ini aja

Some people live for the fortune
Some people live just for the fame
Some people live for the power
Some people live just to play the game
Some people think that the physical things define what's within
I've been there before but that life's a bore so full of the superficial
Some people want it all but I don't want nothing at all
If it ain't you baby

Some people want diamond rings
Some just want everything but everything means nothing
If I ain't got you

Some people search for a fountain promises forever young
Some people need three dozen roses and that's the only way to prove you love them
And in a world on a silver platter and wondering what it means
No one to share, no one who truly cares for me
Some people want it all but I don't want nothing at all
If I ain't got you baby

But everything means nothing ff I ain't got you
If I ain't got you with me baby
Nothing in this whole wide world don't mean a thing if I ain't got you with me baby

lirik, curi curi liat dari http://www.lyrics007.com/Alicia%20Keys%20Lyrics/If%20I%20Ain't%20Got%20You%20Lyrics.html

22.11.04

Hari Baik?

Ngobrol ama Ayunk kemaren sore. Ngalor ngidul lah, namanya juga ngobrol sore. Cuman gak pake kopi, gak tau ya kalo Ayunk, soalnya kita ngobrol virtual.

Salah lima kalimat diantaranya adalah seperti ini:

kyuti_fluti: ultimus minggu depan pindahan dong ya?
---dihapus---
kyuti_fluti: eh, bukannya tanggal 1 desember gitu? itu bukan minggu depan ya?
--dihapus---
minke_1917: hmm...ga tau juga sih..
minke_1917: gw sendiri blom dapet tgl pastinya..
minke_1917: tergantung hari baik tgl baik mgkin..:d


Hari baik. Tanggal baik.
Apaan sih? Kamu yang sudah menikah atau pernah harus buka usaha bisa jadi pernah berurusan dengan hari baik atau tanggal baik.
Hari baik. Tanggal baik?
Buat apa sih? Supaya perkawinannya mulus? Supaya usahanya lancar? Supaya acara berjalan baik?

Apakah itu artinya ada hari tidak baik? Apakah itu artinya hari baik menjadi penentu kegiatan kita tersebut?

Ah, memang tidak ada salahnya kok, lagi pula perhitungan hari baik itu kan tidak selalu berdasarkan primbon atau itung-itungan kekuatan ini itu, kan. Aku juga suka hitung hari baik untuk bikin suatu acara, misalnya jangan pas bulan puasa untuk bikin acara musik terbuka tengah hari bolong, jangan bikin konser paduan suara di akhir bulan pas udah seret dan deket dengan jaman ujian, jangan bikin acara ospek berbarengan dengan ujian akhir atau langsung setelah ujian akhir, nanti gak ada yang dateng.

Buat aku, hari dan tanggal baik adalah hari apapun dan tanggal apapun yang kita perhitungkan membuat kegiatan hari itu bisa lebih lancar dibandingkan hari dan tanggal lainnya. Hari dan tanggal baik adalah hari dimana kita mampu melakukan kegiatan tersebut dengan sebaik-baiknya, dan mudah-mudahan hasilnya kemudian bisa juga sebaik-baiknya karena persiapan yang dilakukan dengan sebaik-baiknya. Bukan sulap, bukan tipu muslihat.

Saat ini, hari baik buat aku, adalah hari dimana aku bisa bangun dengan segar, tidak bermimpi buruk dan bisa bilang, makasih Tuhan, hari ini akan menjadi hari baik lain buat aku.

Sore-soreku...

Waktu awal-awal kerja di Bandung, baru lulus nih, teman-teman masih di Bandung, sepulang kerja pastilah waktunya “beredar”. Soalnya bingung aja kalau langsung pulang ke rumah. Walhasil, sepulang dari kantor pasti muter-muter, kumpul-kumpul (bener-bener) tanpa beban.

Beda cerita dengan saat-saat harus kerja di Jakarta, biarpun biasanya hanya beberapa bulan dalam setahunnya. Hampir tidak pernah pulang ke rumah sore-sore, tapi karena alasan macet! Kalaupun pulang cepat, pasti kena macet (untungnya biasanya pergerakannya palingan dari seputaran Jakarta Pusat ke daerah Kebon Nanas). Jadi biasanya aku lebih memilih kerja sampe agak larut.

Sekarang nih, dengan kondisi kerja di Bandung yang tidak terlalu padat, dan juga teman-teman yang udah menyebar (atau udah menikah), membuat sore-sore pulang kerja gak terlalu aneh-aneh. Tapi, aku tetap nunggu sore-sore gitu. Tau gak kenapa? Soalnya aku doyan banget Manik dan Candra di Drive n Jive. Hehehe! Kadang aku pikir, huh, kayak ABG banget ya? Tapi sebetulnya ini tuh gara-gara dulunya aku doyan banget dengerin GMHR di Jakarta, dengerin Melissa, Yosi ama Bram deh kalo gak salah.

Kalau udah sore tuh, pasti aku semangat deh nyalain radio. Terus, minta lagulah, ngasih tau kondisi jalan *yang satu ini ternyata bukan cuman Jakarta yang butuh, Bandung juga..udah mulai macet tidak terduga*, atau apalah gitu. Suka sedih juga kalo lagi pas pulsa sms habis *iya nih, masih pra bayar*. Herannya, mereka tuh kayaknya tahuuu aja mood aku, jadi lagu yang diputer selalu pas. Percaya gak, kadang tuh, aku lagi mikiran lagu A misalnya, eh tiba tiba diputer. Gak tau dengan kamu ya, tapi kalau aku, hui, seneng banget kalau bisa denger lagu yang ingin banget aku denger *apalagi kalo belum punya kasetnya* Kayak detik ini pas nulis, tiba tiba aku denger lagu yang aku suka. Jangan salah sangka ya, bukan karena aku udah pernah dapet makan gratis, pernah dapet kaos gratis, dan kesempatan siaran *gila, aku kangen banget untuk bisa siaran lagi*, tapi karena, bisa jadi, gaya mereka berdua ini cocok aja ama gaya aku. Bisa jadi karena komentar mereka sama persis dengan komentar aku, dan mungkin karena ketawanya Manik yang ajaib itu, atau karena gaya becanda Candra yang nohok itu. *aduh, bener bener pengen siaran!*

Bener kan, waktu pulang kerja itu bukan saja menyenangkan karena sudah bebas dari pekerjaan, tapi juga karena bisa denger obrolan yang membuat –sesaat– lupa dengan apapun yang berat yang ada di kepala.

Kamu sendiri, paling seneng ngapain sesudah bekerja?

Utak Utik


Aku ini tidak punya pendidikan (formal) apapun untuk urusan komputer, apalagi urusan utak utik gambar/ foto. Desain grafis. Setidaknya aku tahu itu nama salah satu jurusan di sekolahku dulu. Aku memang punya teman-teman disana, teman-teman menyenangkan, dan dulu suka diikutsertakan di penyusunan tugas mereka. Tapi aku memang suka sekali dengan komputer, dan juga dengan utak atik gambar/ foto. Modal nekat, dan mungkin modal sarana. Kekekek. Untunglah ada peralatan yang tepat yang bisa memudahkan hobi aku yang satu itu.

Kemarin, aku memperlihatkan ke keponakan abang, beberapa foto mereka yang aku beberapa waktu sebelumnya. Salah satu diantaranya memang sangat tidak biasa dengan jenis kamera yang aku pakai, yang itu loh, yang bisa langsung terlihat, bisa langsung ditransfer ke komputer. Penuh dengan pandangan keheranan deh menunjukkan barang seperti itu itu Itah. Ya udah, sore itu, aku putuskan untuk bermain-main sedikit. Aku mengajak Itah dan Shifa untuk mengotak-utik foto yang aku buat, aku coba oprek foto mereka, beri latar belakang baru, potong sana sini, diperbesar, diperkecil, ditambahi ini itu, dihilangi ini itu.

Seru juga melihat reaksi mereka. Aku memang beruntung bisa mempelajari itu sendiri karena semua (kebetulan) tersedia di hadapanku. Aku senang bisa bermain-main dengan mereka. Hasilnya, aku bilang aku mo bikin mereka berfoto di depan Monas yang belum pernah mereka kunjungi. Hihihi... Jadi ada utang baru nih :)

Bandung Utara


Akhir pekan kemarin ngapain, nih?

Aku memutuskan jalan-jalan ke arah Bandung Utara. Niatnya, ingin ke makan strawberry. Tapi ternyata, tempat yang biasanya sangat tenang, dan dingin, hari itu berubah jadi penuh sesak. Mobil dengan plat dari berbagai tempat, dan sekumpulan manusia yang berdesakan, membuat aku mengurungkan niat. Lebih baik memutar kendaraan dari daerah Parongpong tersebut untuk terus ke arah Cihideung, Lembang.

Uih, ternyata memang Bandung Utara itu memang mengejutkan. Hanya beberapa waktu, sekian bangunan muncul di sepanjang jalan. Ada beberapa tempat yang tengah dibuka, entah karena longsor atau karena hendak dibuat sebuah perumahan baru. Rumah-rumah di kiri dan kanan, dan sekolah dasar yang menjadi tampak lebih layak (kalau ini sih melegakan!). Plus sebuah terminal di sekitar UNAI. Udaranya pun tidak lagi sedingin yang aku bayangkan. Gak salah kalau Kawasan Bandung Utara jadi salah satu topik di kelas.

Sayangnya, bangunan yang ada, secara fisik, boleh bertambah lebih baik, tetapi tidak dengan kondisi fisik jalan. Sudah bukan rahasia ya, kalau jalanan di Bandung, dan ini bahkan sampai ke daerah Cihideung rusak berat. Dulu sih, aku bisa tahu mana wilayah Kota Bandung, mana wilayah Kabupaten Bandung dari kondisi jalan rayanya. Kalau mulus, kemungkinan besar itu ada di Kabupaten Bandung. Sayangnya, daerah Parongpong tampaknya masih masuk wilayah Kota Cimahi, sepertinya punya masalah (atau ketidakperdulian) yang sama dengan Kota Bandung untuk urusan jalan. Huh! Mobilku bukan mobil dengan shockbreaker yang baik, tapi ya dinikmati ajalah sambil potrat potret, sambil melihat tanaman yang dijual sepanjang jalan.

Sesampai di Lembang, karena perut memang sudah keroncongan, aku kebayang-bayang ayam goreng brebes. Hmmm. Langsung menuju kesana, ternyata, parkir sudah membludak. Beruntung, ada sebuah mobil keluar dari tempat yang cukup strategis. Sayangnya, entah karena masih suasana berlibur atau hal lain, pelayannya bener bener tidak perduli dan ayam yang dihidangkan tidak lagi hangat (akhirnya minta dihangatkan, tapi duh, tetep mengecewakan). Hanya sambal dadakannya yang bisa menghibur. Sesudah itu, walaupun baru makan, mata ini tergoda sama ketan goreng pake sambal oncom. Sampe kuping ini mau meledak karena makan sekaligus satu cengek (cabe rawit kecil yang pedes itu)!

Walaupun suasana jauh berbeda, dan teman pergi juga berbeda, seneng juga bisa jalan jalan di situ. Sengaja tidak lewat jalan-jalan yang biasa. Jadi inget, jaman masih sma atau kuliah awal, suka pergi ke Lembang rame-rame, cuman untuk minum susu di sumur atau makan jagung. Kamu juga suka, kan?

Kita tidak sedang bercinta lagi...

Pernah denger gak orang ngomong gini,

"Enggak, gak ada apa apa, kita cuman temenan kok,"

Atau versi ini

"Gue ama dia? Kita ini udah kayak kakak adek, bukan pacaran, dia itu udah gue anggep abang/kakak/adek"

Atau versi ini

"Kata siapa kita pacaran, duh, enggak lagi, kita emang suka sharing gitu deh"

Atau versi ini

"Gue gak selingkuh ama dia kok, wong kita cuman jalan biasa aja gitu, sebagai teman"

Uiihh, aku yakin, bisa ada 1001 versi deh kalimat-kalimat yang berbeda tetapi sejenis seperti yang diatas. Apalagi kalau sering nonton acara gosip yang kemudian mengkonfirmasi hubungan seseorang manusia dengan manusia lainnya *pengakuan: iya, iya aku doyan nonton gosip, satu-satunya acara tivi yang gue tonton*.

Sebetulnya apa yang menjadi pembeda hubungan pacaran dengan hubungan pertemanan *biasa* ? Sebuah sms/ telepon dengan kata sayang, sebuah pelukan, sebuah ciuman atau sebuah hubungan coitus? Bisa jadi, semua itu menjadi ciri sebuah hubungan pacaran, atau bisa jadi semua itu bisa ada tanpa harus ada hubungan pacaran.

Jadi apakah itu akhirnya tergantung hati? Apakah aku ada "rasa" cinta atau tidak? Tetapi apakah itu berarti kemudian sebuah cinta-lah yang membedakan hubungan itu pertemanan biasa atau pacaran? Aku yakin, tidak juga ya. Seseorang bisa sangat cinta terhadap orang lain, tanpa harus dalam satu hubungan pacaran. Gimana dengan yang katanya HTI-lah, HTS-lah atau H lain yang setipe dengan itu?

Dewa bilang, kita tidak sedang bercinta lagi/ lupakan semua kenang nostalgia/ kini kita hanya berteman saja/tak ada ikatan tali cinta! Gampang ya pembatasannya. Sekarang gimana untuk bilang, kita tidak sedang pacaran lagi... tapi untuk urusan hati, urusan rasa, silahkan diatur oleh masing-masing pihak, sendiri-sendiri.

Putus

Apa sih putus itu?
Aku tidak berhasil menemukan Kamus Besar Bahasa Indonesiaku, tapi gak apa apa.

Tali bisa putus. Biasanya memang pada putus lebih pas buat tali yang putus. Tali layangan, tali jemuran, tali pengikat suatu kotak. Tali apapun. Tali itu awalnya hanya terdiri dari satu potong, satu bagian, yang kemudian jadi dua atau lebih. Bisa putus karena memang dipotong pakai pisau atau karena kualitas tali yang tidak begitu baik dan dipaksa untuk menopang sesuatu yang berat, misalnya tali jemuran tadi.

Tapi ternyata kata putus itu gak cuman untuk benda mati seperti itu. Manusia juga mengenal satu bentuk hubungan yang kemudian dikategorikan sebagai putus. Putus pacaran, adalah salah satu yang kata aku paling populer.

Kadang aku pikir, kalau dikaitkan dengan tali yang memang merupakan satu bagian sebelum putus, bagaimana dengan putus pacaran ya? Berarti sebelum putus, hubungan itu adalah satu. Iya gak sih? Soalnya kalau pacaran, dua kepala, gak kebayang juga hubungan itu bener bener merupakan satu hubungan, yang pasti hubungan pacaran bukannya menggabungkan dua orang jadi satu, kan.

Berarti, kalau tidak pernah jadi satu, gimana bisa putus ya? Mungkin untuk pacaran, penyebab putus bisa jadi karena yang membuatnya menjadi satu itu tidak begitu kuat. Kalau pacaran, berarti putus bisa karena ada alat tajam yang memotongnya, atau kualitas yang tidak begitu baik sehingga tidak sanggup untuk dipergunakan menopang atau mengikat sesuatu yang terlalu kuat.

Jadi, pada kalau kamu pernah putus pacaran, kira kira penyebabnya adalah adanya alat tajam yang memotongnya atau kualitasnya? Apakah ada pisau yang membuat harus putus atau memang hubungannya tidak cukup kuat?

Apapun itu, putus itu menyakitkan!

*Terimakasih untuk semuanya, untuk ngacapruknya, untuk waktu-waktu Abang buat aku, buat kita… *

19.11.04

Ultimus

Salah satu tujuan aku dan Lusi hari ini adalah Ultimus. Salah satu tempat di Bandung yang cukup rutin aku datangi, apalagi setelah kekecewaan ke Gramedia beberapa waktu lalu, Ultimus jadi salah satu tempat favoritku.


Di Bandung ini, kalau kamu kebetulan penggemar buku, kamu punya banyak pilihan, terutama beberapa waktu terakhir. Ada beragam toko buku yang katanya alternatif. Bacaan yang berbeda, yang tidak semata-mata buku yang, menurut aku, didiktekan oleh Gramedia, misalnya. Selain Ultimus, ada Tobucil (toko buku kecil) di Kyai Gede Utama, ada Rumah Buku di Hegarmanah, ada Ominum di Sultan Agung (aduh aku selalu aja sulit mengeja nama toko buku yang satu ini), ada Wabule di Imam Bonjol, ada Rumah Malka di Dago, ada beberapa toko lain deh. Suasana yang asik, dan tentu saja buku-buku yang menarik jadi sebab kenapa aku suka ke toko-toko buku ini.

Ceritanya, mau ngenalin Lusi ke toko-toko ini. Aku usaha keras untuk tidak liat banyak buku, tetep aja, jebol. Memilih dua buku ini, yang satu cukup tipis, tentang identitas, judulnya In The Name of Identity. Satu lagi adalah satu buku yang selama ini aku pikir tidak pernah ada, tentang gaya hidup khusus di Indonesia yang entah kenapa dikasih judul berbahasa Inggris: Lifestye Ectasy. Buku yang kedua sebetulnya berupa kumpulan tulisan dari berbagai penulis.

Sayang, Rumah Buku ternyata tutup, padahal buku yang aku pinjam sudah terlambat beberapa hari (jadinya aku dan Lusi malah mampir ke Teko di Ciumbuleuit). Mudah-mudahan lain waktu bisa jalan-jalan ke toko buku lainnya ya. Buat yang belum tahu, jalan jalan deh kesana, jadi sasaran jalan-jalan ke Bandung bukan hanya factory outlet yang kayaknya udah mau meledak (Kata Lusi, Rumah Mode dari jam 9 pagi, sejam sebelum waktu buka, udah diantri-in banyak orang! Mo muntah gak sih?), atau tempat jajanan yang juga udah kayak cendol, dan apalagi menyesaki distro-distro di Bandung yang biasanya terdiri dari sebuah ruangan mungil (hey, dulu itu ruangan yang menyenangkan dan nyaman untuk beli kaos kaos yang lutu-lutu). Ke Bandung untuk berburu buku? Kenapa tidak?

Kopi Aroma

Ketemu Lusi yang tengah liburan. Terimakasih ya, lebih memilih memperlambat pulang untuk bisa ketemuan. Seneng banget.
Tujuan pertama sih jelas makan. Pilihan jatuh ke lomie di Imam Bonjol. Aduh, penuh sesek busek banget. Padahal, awal-awal tukan lomie ini, sekitar tahun 1999-an gitu, sepi banget. Cuman ada satu jongko, cuman ada lomie, enak banget. Tapi itu gak lama, beberapa bulan dari awal buka, memesan semangkok lomie bisa jadi usaha lahir batin, aku dan Lusi pernah membuat rekor selama 1 jam menunggu pesanan datang! Untunglah, kali ini, walaupun penuh, kami gak perlu tunggu lama. Lomie nyam nyam plus semangkok mie baso kuah dan gak lupa teh botol itu, langsung habis dalam sekejap. Padahal sejam sebelumnya baru makan siang loh. Hahaha
Setelah itu, tujuan selanjutnya adalah Kopi Aroma. Ada yang tau? Pecinta kopi, apalagi yang tinggal di Bandung, kemungkinan besar tahu banget tempat ini. Musti niat untuk pergi kesana, karena letaknya di Jl. Banceuy, di tengah-tengah hiruk pikuk mobil. Kopi yang diolah dengan cara yang unik, berdiri dari tahun 1930 deh kalo gak salah.
Untunglah Oom Widya, pemilik tempat yang merupakan pabrik sekaligus toko itu, punya cukup waktu di menit-menit terakhir jam operasi toko. Kami diajak berjalan-jalan. Oom Widya cerita bahwa dia memegang prinsip yang sangat teguh soal produksi kopi ini. Kopi harus fresh! Bukan sistem panen langsung dibakar, loh. Kopi arabica-nya itu, ditunggu betul-betul sampai 8 tahun untuk akhirnya bisa dibakar, jadi, aku dan Lusi yang punya perut dan kepala sensitif sama kopi yang berkafein tinggi bisa minum kopi dengan tenang. Buat Oom Widya adalah cara pembuatan yang harus benar, bukan semata-mata mengejar keuntungan, tapi caranya tidak betul. Prinsip yang mengagumkan, dimana saat ini, kayaknya keuntungan adalah satu-satunya tujuan yang dicari oleh banyak pebisnis.
Kami diajak melihat berbagai mesin tua, mulai dari mesin pemanggang, mesin pemilah biji kopi dengan sistem sentrifugal, mesin pengiling, toples-toples tua, hingga bungkus kemasan kopi yang teksnya masih menggunakan ejaan lama, seakan membawa suasana kembali ke masa silam. Duh, Kopi Aroma seakan tak terpengaruh dengan perkembangan teknologi yang berlomba-lomba diterapkan dan diunggulkan oleh berbagai industri. Menurut Oom, semua masih bisa dipakai dengan baik, bahkan sempat dia bilang, ini buatan orang Indonesia di tahun 1930! Sayang sekali R&D yang baik sulit diperoleh disini, bisa dibayangkan kalau kita punya R&D yang baik...

Biji kopi yang didapatkan dari berbagai perkebunan di tanah air seperti Aceh, Medan, Toraja, Jember, dan Timor-Timur adalah betul-betul biji kopi yang merah dan tua. Kemudian disimpan dalam karung goni di gudang selama 5 sampai 7 tahun. Bila siap digiling, biji-biji tesebut dijemur dahulu di sinar matahari selama 7 jam. Baru ditumbuk, disangrai, lalu digiling.
Aku sendiri baru sekali itu diajak keliling di tokonya. Memang sih, beberapa temanku penggemar berat kopi aroma. Kami memutuskan membeli 1/4 arabica untuk dinikmati dan 1/4 robusta untuk yang lelah, gitu kata Oom Widya. Harga? Gak perlu kuatir, terjangkau banget. Belum berubah selama 5 tahun terakhir: Rp 3.000-Rp 3.800 per 100 gram.

Argkh!

Pengen NGAMUK!

Tiba-tiba tadi, pas bisa login, ada yang berhasil ngerubah tampilan dashboard aku. Emang sih tadi gak sempet logout udah keburu disconnect. Untunglah tidak terlalu panik, sambil coba klik beberapa link yang mau bekerja! Beneran deh, basi banget.

18.11.04

Baca

Seminggu ini, selama libur Lebaran, aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Maklum, harus ikut menjaga rumah tetap bersih, nyaman, musti masak, dan jaga rumah. Gentian sih ama yang lain.

Entah kenapa, semangat untuk bekerja ada di titik terendah, jadi selama beberapa waktu, aku coba menghabiskan beberapa bacaan yang udah jadi utang. Masyarakat Konsumsi? Hmm, ntar deh. Terus buku Kritik Moral Pembangunan juga dikesampingin dulu deh. Kayaknya malah buku Lynda Weinman yang punya Dindin lebih menarik, dan emang berhasil terbaca semua (Din, kalau lagi baca, makasih banget ya). Untuk bacaan ringan, aku baca ulang beberapa novel. Akhirnya aku memutuskan untuk baca satu buku dan satu novel.

Good and Culture ini buku terjemahan. Ternyata cukup menarik. Belum semua kubaca sih, baru beberapa chapter. Ini buku berisi tulisan beberapa orang, jadi bisa dibaca secara terpisah. Satu hal yang menarik, mengingatkan aku sama percakapan-seumur-hidup aku dengan dia, yang aku coba kontak beberapa waktu lalu. Toleransi. Sebetulnya artikel itu bicara tentang pluralisme. Carson melihat ada 3 jenis pluralisme:
1. Pluralisme bisa mengacu kepada keragaman yang semakin meningkat (di dalam budaya Barat).
2. Walaupun agak kabur, pluralisme bisa mengacu pada toleransi keragaman seperti ini, jadi, dalam penggunaannya, ketika orang berbicara tentang "masyarakat kita yang pluralistik" yang mereka maksudkan bukan hanya bahwa masyarakat kita memiliki keragaman yang begitu lar biasa, tetapi juga bahwa secara umum masyarakat kita bersifat toleran terhadap keragaman tersebut, atau seharusnya bersifat demikian.
3. Tetapi pluralisme sering pula mengacu kepada suatu pendirian filosofis. Pendirian ini menegaskan bahwa toleransi merupakan mandat, karena tak ada gelombang di laut keragaman yang memiliki hak untuk mendahului semua gelombang lain. Di dalam dunia religius, tak ada agama yang berhak menyatakan bahwa hanya dia yang benar sementara yang lainnya alah. Satu-satunya kredo yang mutlak adalah kredo pluralisme (didalam pengertian ketiga ini) sendiri.
Batasan pertama merupakan akibat dari definisi pluralisme kita yang ketiga. Orang-orang yang yakin dengan proposal bahwa semua wawasan adalah sama absahnya, telah meniadakan kemungkinan ada satu atau lebih opini yang memiliki suatu klaim khusus akan kebenaran atau keabsahan. Saat menyanjung keunggulan pikiran terbuka, mereka secara bersamaan menutup keterbukaan pikiran; mereka bersikap dogmatis tenang pluralisme dalam pengertian ketiga dan dengan demikian, mengeyahkan pluralisme dalam pengertian kedua.
Ini yang menarik. Apakah toleransi kemudian harus diartikan sebatas kita menerima perbedaan itu, atau malah mengagung-agungkan perbedaan. Apakah betul kita bisa menerima perbedaan? Seberapa tidak menghakiminyakah kita?
Kebiasaanku itu, membaca beberapa buku bersamaan. Biasalah, satu untuk dibawa-bawa kemana-mana, persiapan nunggu di tempat parkir, nunggu orang dan lain lain, biasanya ini nih bacaan gak mikir, itu istilah aku, bacaan lain ada bacaan di tempat tidur, ada bacaan di urusan ngajar, ada bacaan urusan pengen tau aja, ada bacaan untuk nemenin aku makan. Hehe.
Nah untuk bacaan santai hari ini, aku memilih Birthday Girl. Gak perlu mikir, dan gak butuh waktu lama. Konon sih buku ini cukup "lucu". Pas aku baca, buku ini sebetulnya tidak terlalu pas deh kalo musti dikategorikan sebagai lucu. Cukup menyentuh tapi rada kedodoran juga sih. Cukup seru, karena plotnya seperti plot film Love Actually. Jadi tiap bab kayak bicara tentang orang lain, tapi kemudian satu sama lain terkait. Ceritanya, jelas tentang perempuan yang berulang taun. Dari yang berulang tahun ke 10 tahun sampai ke 60 taun. Hmm, ulang tahunku sendiri masih lama, tapi aku tahu, bulan November itu, banyak banget teman-temanku yang berulang tahun. Ada orang-orang yang terbiasa merayakannya, ada yang bahkan tidak menganggap itu sebagai satu hari istimewa. Gimana dengan kamu?
Buku yang pertama belum selesai sih, tapi buku kedua langsung selesai dalam beberapa waktu. Itu pun dibaca sambil nonton film. Hihihi. Berarti musti cari buku santai lagi nih, buat nemenin nyelesain buku pertama.

17.11.04

Gombal?!

Temenku selalu bilang,”aduh, laki-laki itu dimana-mana sama. Semua gombal." (maaf ya mas Kemplu!) Gitu tuh dia selalu mengeluh. Kadang keluhannya berubah, terutama kalau sedang jatuh cinta. Tiba-tiba sosok laki-laki itu menjadi sosok yang begitu mempesona, katanya lagi,”Ini bukan gombal, tapi sesuatu yang tulus keluar dari hatinya, duh, pokoknya gue yakin, laki-laki ini adalah “the one”,”gitu dia selalu berkata.

Sayangnya, biasanya sih, kalimat pertama yang selalu muncul. Kadang-kadang aku cuman bisa tersenyum geli. Aku sendiri sih sering tidak begitu memperdulikannya. Aku udah bersama dengan laki-laki itu sebegitu lamanya, sampai aku juga sudah malas menghitung jumlah hari, minggu, bulan atau tahun kami bersama. Lagipula, kami tidak pernah sempat mengalami hubungan panjang sebelumnya, juga tidak di kala masa-masa SMA, sehingga acara perayaan hari jadi menjadi sesuatu yang begitu jauh dari agenda kami berdua.

Beberapa waktu lalu, dia datang lagi kepadaku. “Penting sekali! Ini bisa jadi persoalan hidup dan mati gue.” Begitu isi sms dia. Seperti biasalah. Aku cuman tersenyum dan mengiyakan ajakan bertemu, lagipula, aku juga agak sedikit bosan di rumah, teman teman lain sedang berlibur atau sibuk dengan urusan keluarga, dan pacarpun sedang sibuk. Jadi, ini tawaran menyenangkan untuk mendengar curhat temanku yang satu ini.
(acara curhat dengan dia memang selalu menyenangkan, penuh dengan berbagai emosi)

Kali ini kalimat pembukanya sudah bisa ditebak. Itu tuh, kalimat di awal tadi.
“Pokoknya memang gombal! Gue bingung musti gimana nih, soalnya gue sayang banget ama dia.”

Hmmm, rasa sayang, selalu menjadi alat pembenaran setiap tingkah laku yang dirasakan tidak mengenakkan.

“Kali ini, gue yakin banget dia selingkuh,”katanya sambil langsung menyeruput choc mint aku.

“Iya, iya, tapi itu minuman gue, woy, maen embat aja!” Aku sewot.

“Aduh ama temen sendiri, gitu, loh, lagian gue lagi sedih banget nih.”

Aku diam, menunggu kalimat selanjutnya dari dia, pasti masih panjang, tanda-tanda ini akan menjadi sebuah sore yang panjang semakin nyata.

“Inget gak, waktu gue cerita tentang dia terlambat menjemput gue? Gue sms elu, kan? Gue kesel banget soalnya, tiba-tiba aja dia membatalkan janji pertemuan kitanya. Katanya sih ada pertemuan di kantor lain, dan karena orang-orang udah pada kabur dari kantor, jadi dia harus menjadi utusan kantornya untuk pergi kesana. Inget kan, waktu itu gue ampe nyusulin ke tempat itu? Sampai telepon elu, buat nanya itu jalan, terus elu tuh lagi sama siapaa gitu temen elu yang laen, yang dengan baik hati ngasih tau gimana caranya gue bisa sampe ke tempat itu. Inget kan? Gue udah sampe disana, kok gak keliatan ada tanda-tanda apapun, lagian gue gak berhasil nemuin itu kantor, walhasil gue bolak balik di daerah situ, sambil terus coba telepon, tapi gak pernah diangkat. Inget kan?

“Iya…iya, inget inget, udah terusin aja atuh ceritanya, gue pasti inget, lagian elu juga kayaknya asik menceritakan ulang gitu,”samber aku gak tahan ama celoteh dia, ini anak mau cerita atau enggak sih?

“Nah, waktu itu kan akhirnya kita ketemuan juga tuh, sekitar 3 jam dari janjian awal. Gue tuh sempet yakin banget kalo dia itu ketemu cewek lain saat itu. Yakin banget. Tapi waktu itu dia bilang 1001 alasan, yang menurut aku agak gak masuk akal, tapi gue gak perduli karena gue capek, gue kan harus belajar percaya ama dia kan, ya, elu kan selalu bilang gitu, kan, percaya dong ama cowok elu, ya udah gue percaya aja. Walaupun tadinya ngerasa aneh, kok telepon gak diangkat, kok sms gak diangkat, kok gak mau dijemput, kok malah minta ketemu di perempatan jalan, kayak aku ini perempuan apaan gitu,”mata dia tiba-tiba mendelik ke belakang punggungku, aku menoleh, ahh, ada cowok tampan, pantesan, dia ini nih, walaupun selalu mengeluh laki-laki itu gombal, tetap aja sulit untuk menghiraukan laki-laki keren yang lewat di sekitar dia. Aku langsung sewot,”eh, jaga mata, udah terusin ceritanya!”

“Duh, maap deh, neng, itu cowok keren banget soalnya, ya udah gak usah melotot gitu dong, gue terusin deh. Waktu itu, walaupun selama sejam itu gue nangis, di depan dia gue berusaha tegar aja, gue terus bilang ama diri gue, ayo, gue percaya dia, ya udah, ngapain dimakan perasaan. Gitu deh. Setelah itu emang gak banyak peristiwa kayak gitu terjadi. Jadi gue udah rada lupa. Nah kemarin itu… eh, mas,”katanya sambil melambai ke salah satu pelayan,”saya minta kentangnya dong, yang anget, jangan terlalu kering ya.”

Aduh ini anak satu emang deh ya, gak bisa konsentrasi. Untunglah kayaknya dia melihat kalau aku udah melotot.

“Gue laper, jadi perlu makan dong,”pembenarannya untuk kelakuannya yang tiba-tiba minta pesen kentang,”kemarin kejadian lagi deh, kayaknya. Dia ketemu perempuan lain.”

“Apa buktinya, elu ini emang cewek parno, buktinya aja, elu selalu bilang semua laki-laki itu gombal, coba deh, gak usah parno gitu, apa yang kurang dari cowok elu itu, ini mah elu yang biasanya kegatelan!”Sambar aku yang mencoba membuat dia sadar bahwa dia itu gak kurang gombalnya dari laki-laki yang selalu dia tuduh gombal itu.

“Elu tau kan, gue pernah cerita, kan, dia itu, gak pernah angkat telepon dari gue cuman kalau sedang barengan cewek itu. Dia juga gak pernah mau angkat telepon dari cewek itu kalo ama aku, kecuali kalo aku udah maksa-maksa. Iya kan. Nah, kemarin, telepon aku juga gak diangkat-angkat. Gak keitung deh berapa kali aku telepon. Beneran. Oma gue ampe kesel, karena gue nelepon di kamar oma, biar gak kedengeran ama mama papad dan sodara-sodara gue. Gue ngendon terus disitu, coba dan coba telepon. Gak pernah diangkat. Oya, sempet diangkat sekali, alesannya telepon ada di tas jadi gak kedengeran. Herannya, ya, waktu ketemu aku setelah itu, dia gak pake tas sama sekali loh,”matanya menerawang, mungkin mencoba mengingat-ingat kejadian itu,”nah, akhirnya gue mutusin untuk keluar, beli bensin. Disitu, dia nelpon aku, dia bilang dia ada di satu tempat yang gue tau deket banget ama rumah seorang temen cewek dia. Huh. Gue udah ngerasa gak enak banget deh. Akhirnya sih kita ketemu, tampangnya kusut banget, mungkin supaya gue kasian apa ya? Wong udah lama gak ketemu gitu, loh. Gue tunggu penjelasan dia, ealaaa, gak dateng dateng, yang ada dia bermuram durja gitu. Aduh, gimana sih? Kayaknya gue berhak deh nuntut penjelasan,”tiba tiba dia berhenti karena ada sebuah sms masuk, tapi tidak dihiraukannya, mungkin dari orang yang tidak dikenal. Hehehe.

“Ya udah, elu kenapa juga gak tanya aja,”kataku.

“Yah, akhirnya sih lagi-lagi dia bisa memberi 1001 alasan lainnya, persis seperti waktu itu. Gue, lagi lagi, memutuskan untuk percaya aja sama apapun yang dia bilang. Habis aku musti gimana lagi. Masak gue musti mengejar cewek yang satu itu untuk bertanya. Gak gue banget, deh. Emang, masih banyak yang menurut gue gak pas, gak benar, dan seluruh kata hati gue bilang, dia menyembunyikan sesuatu! Buat gue, banyak yang ganjil, banyak gak benar. Gue sedih aja, kok dia gak mau cerita ya ama gue. Kesel gue. Bener bener kesel.”

Hmm, kok kayaknya tiba-tiba mood temenku yang satu ini berubah ya? Aku merasa, dia tidak begitu semangat untuk meneruskan cerita itu, karena biasanya, cerita kayak gini pasti akan keluar dengan detail-detail yang menakjubkan. Akhirnya, aku cuman bisa bilang,”Ya udah, kalo elu memutuskan untuk percaya, harus bener bener percaya, kalo gak, ya udah, jangan percaya, putusin aja gitu, kenapa?”

“Eh, emang gue belom bilang ya?”

“Bilang apa”, aku jadi bingung, kayaknya aku dengerin semua keluh kesah dia dengan seksama deh.

“Gue barusan udah sms dia, bilang putus, soalnya kayaknya cowok barusan bener bener keren banget, dan keliatannya gak gombal deh, jadi, bentar deh, gue kesana dulu bentar, siapa tau, ya say, tunggu disini, gue bakal kembali, dan kentang gue jangen elu embat!!!!!”

Haaaaa? Aduh temenku yang satu ini emang aji gile deh? Pertama dia bilang semua laki-laki gombal, tapi sebetulnya siapa yang gombal? Lagi pula apa sih sebetulnya gombal itu. Huh!
Jadilah aku duduk sendirian, menikmati choc mint aku. Hmmm.

16.11.04

sms

Dia kaget, tiba-tiba dia mendapat sms yang tidak pernah dia sangka...
  • Aku minta tolong, jauhkan dia dari aku, buat hubungan kalian berdua dan aku juga gak mau ada diantara klian lg. smoga klian bahagia. tolong aku...
Bingung harus dibalas dengan cara seperti apa, dia memutuskan untuk membalas dengan tulisan ringan, penuh keyakinan diri dan kasih, meyakinkan pemberi sms bahwa dia tidak punya prasangka apa apa, dan juga tidak akan merusak hubungan pertemanan mereka. Ternyata masih dibalas dengan sms lain
  • Pertemanan? selama ini pun lbh dr TEMAN. aku minta maaf, udah ganggu hub.klian. Aku ga pnya cowo. cuma ada dia dan akan sll dia..
Ah? Dia kaget, apakah si dia itu adalah dia-yang-senantiasa-bersama selama beberapa waktu terakhir ini. Kok bisa begini sih? Ada apa sebenernya? Apakah ini sebuah upaya untuk menggapai sesuatu yang sudah sempat terlepas? Sebuah upaya lain untuk mendapatkan sesuatu yang sudah terlanjur berada di tempat lain?
Pemberi sms itu cuman terus menulis
  • maaf udah ganggu hubungan klian
  • aku berupa nlepas dia bener bener buat kebahagiaan kalian

dan bahwa pemberi sms tersebut

  • pgn liat kalian bahagia tp msh blm bs. berat bgt. aku bkl coba. maafin aku
Hmmm, Dia semakin bingung. Apakah ini sebuah bentuk pengakuan atau pemaksaan? Apa yang harus dia lakukan. Sebetulnya apa yang terjadi. Oh, kemanakah dia-yang-selalu-bersama? Oy, bantu aku untuk mengerti semua ini. Oh, kemanakah dia-yang-selalu-bersama yang biasanya selalu tersenyum dan selalu siap dengan 1001 komentar untuk segala sesuatunya. Oh, kemanakah dia....
Hai, itu dia, kok kusut sih?
"Hai, liat deh, ada sms aneh."
"Mana?"
"Ini nih'
Dia senang, karena dia-yang-selalu-bersama sedang bersamanya saat ini, melihat telepon genggamnya dan....
"aduh.... kamu ini gimana sih, ini kan nomor gak dikenal, salah sambung gitu, kok dipikirin dan terutama kok dibales, gak pake tanya tanya dulu!!!"
*GUBRAK*
Dia kaget, lalu mengambil telepon genggamnya, mengamati lebih baik, ups, iya, nama yang mirip tapi ini orang berbeda, ini sih teman lama yang pasti salah sms. Dia tersipu, dia malu. Dia melihat kepada dia-yang-selalu-bersama untuk bilang,"maaf ya, aku salah".
Dia memang sayang. Sayang sekali sama dia-yang-selalu-bersama itu.

Puisi hari ini

Jarang-jarang harus berpuisi ria disini. Tapi kali ini, kayaknya yang satu ini berhasil menyentuh hati aku.

Our eyes are looking for at things,
But they are also for crying
When we are very happy or very sad
Our ears are for listening
But so are our hearts
Our noses are for smelling food
But also the wind and the grass and
If we try very hard, butterflies
Our hands are for feeling
But also for hugging and touching so gently
Our mouths and tounges are for tasting
But also for saying words, like
'I love you,' and
'Thank you, God, for all these things'
Ini dibuat oleh seorang anak kecil. Aku dapet ini dari buku Heartsongs karangan Mattie J.T. Stepanek, yang diterbitkan oleh Thorsons di tahun 2002.
Membuat aku ingin sekali bilang, terimakasih Tuhan buat semuanya. Betul-betul untuk semuanya. Untuk hal indah dan juga hal buruk yang aku pernah dan tengah alami.
Terimakasih Tuhan.

Mobil Jakarta

Orang-orang Jakarta itu harusnya gak perlu dateng ke Bandung!

Buat aku orang Jakarta adalah orang orang yang
• berKTP Jakarta, atau
• lahir dan besar di Jakarta,
• bekerja di Jakarta, apalagi kalau tidak pernah kuliah atau sekolah di Bandung misalnya (kalau sudah sempet kuliah disini, biasanya sih asik asik aja orang-orangnya),
• juga termasuk orang orang yang mengaku orang Bandung tapi menghabiskan jauh lebih banyak masa hidupnya di Jakarta.

Oke, suatu waktu, mungkin aku juga akan jadi orang Jakarta sih....

Huh, lagi kesel banget nih. Barusan aja lewatin daerah Dago, dan, seperti biasa, Dago itu dari ujung utara sampai ujung selatan, di hari-hari libur, selalu padat. Sebenernya sih sesuatu yang biasa ya, setidaknya udah setiap minggu aku alami. Tapi tadi, mungkin juga karena mood yang lagi gak enak, rasanya muak banget liat mobil-mobil berplat B itu.

Memang sih tidak semua mobil berplat B itu dimilki oleh orang Jakarta. Baik itu orang Jakarta karena KTP atau karena sehari-hari bekerja di Jakarta atau karena hidup dari pekerjaan yang dilakukan di Jakarta. Tapi, aku sering langsung menerka dari gaya membawa mobil. Gosh. Mau tau, gini nih:
1. Cara bawa mobil yang sangat egois dan *sok* berketerampilan tinggi, khususnya soal ada ruang kosong, begitu ada ruang kosong sedikit aja, langsung main embat, tidak perduli itu hak dia atau bukan. Hey, don't get mad at me. I've been there. Aku juga, dalam beberapa waktu di setiap tahunnya harus bekerja di Jakarta, harus tinggal di Jakarta. Aku dan keluarga pernah menghabiskan sebagian besar hari dalam seminggu di Jakarta, atau setidaknya setengah minggu di Jakarta. Aku tahu bagaimana rasanya menyetir di Jakarta, aku tahu perubahan apa yang aku rasakan waktu aku harus kembali menyetir di bandung. Maurice adikku pernah bilang, sekian lama bolak balik menyetir di Jakarta membuat saat kembali menyetir di Bandung, bawaan dia pasti langsung ingin nyerobot dan itu bisa dilakukan dengan sangat baik, sudah terbiasa soalnya. Ah, kalau tidak begitu, bisa jadi menyetir di Jakarta menjadi penderitaan lahir batin! Jadi, kalo kamu ada di bandung dan ngeliat mobil menyetir dengan begitu egoisnya, coba deh liat plat nomor kendaraan tersebut.

2. Masih tentang cara bawa mobil yang sangat egois dan *sok* berketerampilan tinggi, kali ini berkaitan dengan ketidakmauan untuk mengalah. Barusan tuh aku ngelewatin daerah Golf Dago, mau tidak mau harus melewati daerah Kordon, daerah yang berdasarkan pengamatan selama dua tahun terakhir selalu macet di malam minggu. Hari ini juga. Macetnya itu bukan semata-mata karena volume kendaraan yang memang membludak, tapi juga karena ketidakmauan untuk mengalah. Jalan itu kecil, kadang masih diperkecil oleh mobil-mobil yang parkir. Jalan menuju kafe-kafe yang menjadi tujuan utama orang-orang ke daerah tersebut mengharuskan kendaraan berbelok tajam ke arah jalan yang sangat menanjak. Biasanya, semua ingin bisa segera jalan, plus ditambah selalu saja ada kendaraan yang sok pintar dan malas mengantri, mereka memutuskan untuk menyela dan kemudian, hei, berhadapan dengan kendaraan lain yang menuju arah berlawanan. Gosh, apa susahnya sih sabar dan memberi jalan buat orang?

3. Jalan dianggap sebuah jalur perlombaan menjadi mobil tercepat dan tergesit. Kalau sebuah kendaraan memberi tanda sen atau tanda berbelok atau hendak masuk ke sebuah jalan besar dari jalan kecil, herannya kendaraan yang tadinya lambat malah dipercepat, alias, begitu tahu ada orang yang kalau dia tetep mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sama akan bisa masuk di depan dia, itu adalah kesalahan.

Bahkan di tempat nongkrong favoritku, aku bisa menebak mana yang bukan orang Bandung. Maaf, tapi kelakuan kalian bener bener memuakan. *coba deh perhatikan tempat tempat nongkrong dan makan favorit di Bandung, yang banyak diantaranya saat ini udah jadi mantan tempat favorit buat aku, dan juga tempat belanja di Bandung. Perhatikan baik baik*

Tapi teteup, aku sebel kotaku jadi tambah gak puguh! Mungkin, ini seperti keluhan salah satu pembimbing aku dulu, Paolo Russo. Dia orang Venesia, dan kami pernah membahas ini dalam satu diskusi kami, mungkin, Venesia perlu menerapkan pembayaran untuk orang-orang yang tidak berKTP Venesia untuk bisa masuk kota demi menjaga kota dan penduduk didalamnya.

Jadi, untuk siapa sih sebetulnya kota itu? Untuk orang yang tinggal disana semata? Seberapa publik sebuah kota yang merupakan ruang publik itu? Sulit untuk mentutup sebuah kota dari orang luar dan memperlakukannya seperti ruangan bioskop yang bisa dibatasi dan elu harus bayar kalau mau masuk.

Mungkin aku hanya perlu menutup mata melihat dan merasakan kelakuan yang semena-mena dari orang luar yang ingin membuang penatnya di kotaku tercinta: makan, berbelanja, kuririlingan atau *katanya* melihat perempuan-perempuannya. Apapun itu, aku hanya berharap tolonglah berperilaku menyenangkan. Aku memang gak bisa buat apa apa, lagipula Bandung mengklaim dirinya sebagai kota pariwisata, dan mengambil duit dari label yang dibuatnya itu.

Tertawalah!

Senangnya bisa tertawa!




Calvin dan Hobbes adalah salah satu favoritku. Pagi ini dapet dari salah satu tempat favorit. Untunglah, bisa menghibur aku yang lagi kesakitan karena digigit salah satu dari 7 anjing di rumah.

Hey, kamu yang emang selaluuu aja benar, apa kabar?

15.11.04

*sigh*

Apakah aku harus berhenti sampai disini atau aku justru harus terus mengetok sampai pintu dibukakan, meminta sampai akhirnya mendapat?

Sehari Sebelum Lebaran

Sabtu kemarin, aku pergi ke Pasar Ujung Berung, sekalian mo nganter Ema dan Ita yang mau belanja buah. Dan, yak ampun, aku tahu sih, kalo yang namanya pasar itu selalu bikin macet jalan, tapi kali ini, bener bener bikin macet banget. Kayaknya semua orang tumpah di jalan. Maklum sehari sebelum Lebaran, semua berupaya menyelesaikan utang belanja terakhir sebelum besok berlebaran! Toko-toko di lantai 2 bisa jadi sebagian besar tutup, tapi itu bukan pengahalang, wong lebih banyak lagi yang memutuskan berdagang di trotoar bahkan di badan jalan. Orang-orang yang berbelanja, dan mungkin sebagian lagi hanya ngabuburit, juga dengan santai berjalan di ruang kosong manapun yang mereka lihat!


Polisi sih memang berupaya untuk mengatur lalu lintas. Hampir setiap sekitar 10 meter ada polisi yang berjaga. Tapi tampaknya mereka hanya terdiam. Barangkali pusing juga melihat kondisi yang ada. Aku pikir mereka lebih berupaya untuk tidak membuat kondisi tambah buruk, deh. Tidak ada niatan untuk membuat lalu lintas lebih lancar. Soalnya sudah gak jelas yang mana yang harus dibereskan untuk membuat lalu lintas lebih lancar. Pejalan kaki hilir mudik di sekitar polisi dengan cueknya. Palingan angkot memang tidak begitu berani untuk menaikturunkan penumpang di badan jalan di mana polisi bisa melihat mereka!


Ah, memang sudah macet dimana-mana. Baik ke arah Bandung ataupun keluar Bandung, seluruh moda transportasi saling berebut ruang di badan jalan. Bukan saja dengan moda transportasi lain, tapi juga dengan pejalan kaki dan pedagang. Mulai dari mobil, mobil boks, truk, angkot, motor, becak dan huih, sepeda juga ada, semua tumplek jadi satu di badan jalan. Aduh aduh. Lieur!

Seperti aku baca di beberapa surat kabar, volume kendaran bermotor roda dua memang meningkat. Makin banyak orang yang memutuskan mudik dengan mempergunakan kendaraan bermotor. Walhasil, tidak butuh lama untuk melihat sebuah ruang kosong langsung diambil alih oleh pengemudi motor tersebut. Kayaknya cukup beberapa detik, tiba tiba penuhlah jalan dengan motor yang saling tumpang tindih. Duh!

Ya sudahlah, ini memang antusias yang muncul setahun sekali. Fenomena yang rutin aku lihat. Bukti semangat berlebaran?

Apapun itu, selamat lebaran teman-teman!

Menang Kuis

Seneng banget, menang kuis lagi, dari HardRock FM Bandung (lagi). Huhuy. Pas ke sana, ketemu adik dari temen lama, temen SD aku, dan satu muka yang udah cukup akrab dengan aku: Aconk. "Apa kabar, nih?" Ternyata aku dapat kaos biru yang lucu dari sebuah distro di Bandung deh, kayaknya. Pokoknya aku hepi deh!

13.11.04

Cemburu

Gak tau kenapa, dan gak ngerti kenapa. Tapi hubungan yang satu ini membuat aku jadi perempuan yang mudah sekali merasa cemburu. Sesuatu yang bukan aku. Sangat bukan aku.

Aku ini sulit sekali untuk bisa merasa cemburu, kalopun ada, terkadang sebetulnya agak sedikit dibesar-besarkan, karena katanya cemburu itu bumbu penyedap. Bukan berarti aku tidak pernah cemburu. Pernah, tapi kadar cemburunya sebetulnya sangat sangat kecil.

Bisa jadi, aku terbiasa menjadi yang pertama, kalo kalian bisa mengerti apa yang aku maksud. Jarang aku bersama seseorang yang pernah punya mantan, gitu loh maksudnya. Mungkin itu juga penyebabnya aku tidak pernah cemburu, dan malah jadi terlalu percaya diri *huh, memang deh semua yang berlebihan itu tidak baik*.

Sekali waktu aku tidak menjadi yang pertama buat seseorang, hubungan itu tidak begitu bisa dikategorikan sebagai hubungan pacaran, lebih ke HTS, kali ya, kalau memang HTS itu merupakan kategori sebuah hubungan. Kalaupun cemburu, saat itu cemburu tersebut justru tidak pada tempatnya, dan malah biasanya aku ini yang dicemburui oleh perempuan perempuan dari lelaki yang jadi sahabatku *bentuk kepercayaan diri yang terlalu berlebihan lainnya*.

Cukuplah basa basinya.

Aku ini sekarang sangat mudah untuk merasa cemburu. Itu saja intinya. Satu bahan percakapan yang sebelumnya selalu aku tanggapi asik-asik aja, kali ini aku terima dengan hati agak miris.

Aku cemburu, tapi tidak cemburu yang menyebabkan aku benci kepada seseorang atau orang tertentu. Aku cemburu kepada kesempatan, kepada kebersamaan, kepada sebuah sejarah yang aku tidak tahu akan aku miliki atau tidak. Aku cemburu karena juga rasa kuatir, aku tidak bisa memberikan itu, menggantikan itu semua.

Lucu sekali, aku justru cemburu kepada masa lalu. Atau itu sebetulnya tidaklah lucu dan sangat manusiawi? Entahlah.

Untuk yang satu ini, aku agak enggan untuk menceritakannya, membahasnya, mengakuinya. Aku takut, abang justru akan berhenti bercerita tentang itu semua (atau mungkin tepatnya tentang orang itu semua, ya?). Aku tidak mau itu. Aku ingin tidak ada yang perlu ditutupi, atau sesuatu yang artifisial *ehm, kamu suka bilang gitu, kan*, dibuat-buat untuk menutupi sesuatu. Tidak. Jangan. Apa aku ini sakit? Udah tau gak suka, tapi kok dibiarkan. Bukan gitu, dimana-mana sesuatu yang tidak terlihat jadi jauh lebih berbahaya dan menyeramkan. Dan di atas semua itu, itu semua masa lalu yang pernah begitu penting buatnya, masa lalu yang punya arti penting untuknya, masa lalu yang gak bisa dibuang begitu saja. Masa lalunya.

Dan terutama, karena aku musti belajar menerima seseorang yang selalu dengan masa lalu *masa lalu yang spesifik, ya*, karena apapun masa lalunya, aku sayang dia.

12.11.04

Parkir

Tadi malem, aku ketemu dengan orang-orang menakjubkan. Saat itu, aku tengah ngobrol-ngobrol santai dengan Iya, Remmy waktu, tiba-tiba, kru Potluck mengampiri aku, terus bilang,

"Mba, mobilnya yang 119 ya?"

Aku langsung aja jawab,"Iya"

"Bisa dikepinggirin gak, Mba, ada mobil yang mau masuk," dia memohon gitu.

Hmm, rasanya aku parkir di tempat yang tepat deh. Malah, karena udah tau, aku memberi ruang yang cukup buat motor untuk keluar masuk, sangat cukup malah, dan mobil aku itu kan kecil.

"Ok deh, emang ngalangin ya?" ngotot nih, gak percaya aja, tapi sambil jalan kaki.

"Enggg, ada yang mo masuk, Mba," dia ngerespon

Ok deh, mari kita lihat. Aku lihat di belakang mobilku ada mobil setipe mobilku dengan versi yang lebih garang. Kalo motor ada moge, motor gede, ini kali moge juga tapi mobil gede. Item, terawat gitu.

Tiba tiba aku dihampiri tukang parkirnya,"Neng, maap ya, bisa dipinggirkan, biar mobil ini bisa masuk."

Oke oke... tapi... tunggu dulu, kalaupun mobil aku pepetin ke mobil sebelah kananku, tetep aja, gak mungkin mobil gede itu bisa masuk.

Aku panggil tukang parkir yang sudah siap memberi aba-aba itu,"Pak, teu mungkin dipepetkeun (Pak gak mungkin dipepetin), kekecilan, udahlah saya pindah aja ya."

Si Bapak teh panih,"Eh, gak usah Neng, pangkepinggirin aja."

Oke oke, aku coba, tapi, ehm, gak mungkin. Kemampuan aku untuk parkir dan menebak jarak cukup baik, dan aku sangat yakin kalau mobil di belakang itu tetep gak akan bisa masuk ke sebalah kiriku.

Aku panggil lagi si Bapak,"Udahlah Pak, teu naon-naon, saya pindah aja kesitu ya," sambil nunjukkin salah satu tempat parkir yang sering aku pakai, walaupun tidak persis di depan potluck.

Si Bapak terlihat terhenyak,"Aduh Neng, maaf ya, maaf, tapi... gak apa apa gitu, emang kosong sih."

Aku sih santai aja menjawab sambil mulai memundurkan mobil,"Gak apa-apalah, Pak."

Hmm, aneh juga nih, kayaknya ada yang gak asik disini. Tapi aku terus mundur, setelah menunggu agak lama, karena itu mobil yang katanya mau masuk itu, tadinya ngotot banget di belakang mobilku dan gak mau mundur, baru setelah sekian lama, dia mundur. Ah, ini tempat asik kok, tempat yang baru, cuman lebih banyak sekitar 10 langkahlah dari tempat lama.

Sesampainya di tempat baru, si Bapak parkir kembali, tergopoh-gopoh menghampiri aku,"aduh Neng, maap ya, itu mobil ngotot pengen parkir disitu."

Haaa, jadi bukan karena mau masukin barang nih? Serius?

"Maksudnya gimana nih, Pak?" Aku belaga gak ngerti.

"Iya, maap banget, harus pindah, abis itu tuh, keukeuh pengen parkir disitu."

Duh, kasian si Bapak ini, dari tadi diomelin apa ya sama yang punya mobil, aku cukup yakin itu bukan kru kok, atau siapapun yang tampak begitu berhak di tempat itu, lagian kru aja kayaknya gak pernah ngotot untuk parkir di lokasi tertentu.

"Ah, teu naon naon atuh Pak, cuman tempat parkir doang, beneran."

"Neng, punten ya, maaf,"gitu si Bapak berkali-kali memohon.

"Gak apa apa, Pak, mangga atuh ya," kataku sambil kembali jalan ke dalam, untuk mendatangi teman-temanku yang tengah menunggu.

Waktu aku jalan, orang yang ada di dalam mobil tiba tiba ngomong (dari dalam mobil),"Makasih ya, Mba, sorry."

Ah, emang aku pikirin ya? Udah kejadian. Terus apa urusannya gitu. Dia kan udah dapet tempat yang dia pengen. Sambil, beneran deh, gak abis pikir, aku cuman bilang,"Gak pa pa kok, tempat parkir doang, gitu,"sambil ngeloyor.

"I owe you,"dia berseru, a ha, bisa ngomong Inggris atau baru belajar bahasa Inggris nih.

Sesampainya di tempat duduk, aku cerita ke Iya. Gak lama ada Ari dateng, aku cerita juga. Gak habis pikir aja, kok ada orang segitu ngototnya ingin parkir di satu titik, padahal masih banyak tempat parkir lain. Ternyata orangnya laki-laki, dua orang, yang satu orang Indonesia dengan kaos klub motor gede yang mahal itu loohhh dan satu lagi kayak bule, tapi kata temen temen bule kecebur got itu. Gaya mereka sepa banget, duduk di ujung, sambil kaki naik, tapi, walaupun kaki naik kursi adalah hal biasa di sana, yang ini beda banget. Belagu banget. Huh. Untunglah, aku gak ambil pusing. Cuman makin kebayang muka Bapak parkir. Kasian deh kayaknya.

Kedua orang itu pulang lebih cepat dari kami, pas pulang, dengan tampang penuh penyesalan sekali lagi menyampaikan maafnya ke kami. Ya ampun, buat apa deh. Udah kejadian. Aku sih lupain aja.

Cuman gak ngerti aja, betapa sombongnya ya? Aku tau, orang orang klub motor itu suka belaga, tapi aku tau juga yang sangat bersahaja. Tapi yang satu ini, aduh lagaknya, bener bener gak tahan deh. Aku pikir, dia agak gak enak begitu tau bahwa mobil yang mau dia depak itu mobil seorang perempuan. Tapi seharusnya dia lebih mikir lagi gitu, apa sih susahnya untuk parkir sekitar 5 langkah lebih jauh? Apakah sebegitu sulitnya.

Aku tahu, aku suka nge-tek tempat parkir. Tuh, waktu jaman kuliah, aku selalu minta ama Pak Ujang untuk ngetek-in tempat parkir di deket pintu masuk, di tempat yang teduh, di kumpulan parkir anak PL. Di tempat kerja di Jakarta, aku juga berupaya dapat tempat parkir terbaik yang teduh, kalau perlu bayar tukang parkir buat sekalian cuciin mobil.

Tapi, gak akan aku begitu berlagak, untuk menyuruh seseorang keluar dari tempat dimanapun dia berada, untuk berpindah tempat parkir, karena, aku begitu sombong untuk mengatakan ini tempat parkirku, dan yang lain, harus mengerti dan harus menuruti permintaanku!!