18.10.04

Pekerjaan Tetap

Pekerjaan tetap.
Salah gak kalo dibilang sebagai idaman hampir semua orang, terutama orang orang yang sudah tidak lagi berstatus belajar (dalam artian pendidikan formal, seperti bukan lagi mahasiswa).

Semua orang ingin punya pekerjaan tetap. Bahkan seringkali cita cita masa kecil itu identik dengan pekerjaan tetap, menurut aku. Apa sih cita-cita kamu? Jadi polisi, jadi dokter, jadi menteri bahkan. Cita-cita adalah apa yang kita bayangkan akan kita kerjakan di masa datang, dan biasanya cita cita itu berbentuk pekerjaan (tetap). Jarang ada anak kecil yang bercita-cita untuk menolong orang, tetapi dia bisa saja bercita cita jadi dokter, supaya bisa menolong orang sakit, misalnya.

Ada pekerjaan tetap, berarti ada pekerjaan tidak tetap. Ada yang punya pekerjaan tidak tetap bahkan ketika masih bersekolah (dan gak sedikit juga yang punya pekerjaan tetap juga ketika bersekolah). Kalau di film-film nih, yang kebayang itu mahasiswa/ pelajar bekerja di restoran cepat saji, jadi tenaga part-time deh istilahnya (kebetulan sedang baca negeri fast food di bagian tenaga kerja anak muda di restoran-restoran cepat saji di Amerika).

Kalau pekerjaan identik dengan uang yang diterima, aku sudah mulai punya pekerjaan tidak tetap sejak SD. Pekerjaan atau usaha, ya? Itu tuh waktu aku memanfaatkan perpustakaan pribadiku dengan menyewakan buku-buku cerita yang aku punya ke teman teman SD-ku. Untuk seorang anak SD yang tidak pernah dapat uang saku, ini kegiatan menguntungkan, karena aku bisa beli nasi kuning di warung SD sebelah, plus masih ada sisa ini itu, buat beli buku lagi tentunya!

Semakin mendekati SMP, pekerjaan tidak tetapku beralih membantu papi membuat bahan-bahan kuliah. Aku menuliskan bahan kuliah di transparansi, menggantikan tulisan papi yang sangat butuh interpreter untuk bisa mengartikannya. Masih ingat, untuk penulisan satu halaman transparansi, aku mendapat Rp 1.000,-. Bayangkan saja seribu rupiah di tahun 1987-1989-an itu artinya besar banget loh. Pekerjaan ini rasanya aku lakukan sampe hampir lulus SMA, walaupun upahnya tidak lagi tepat seribu per lembar tetapi lebih sering dirapel, dan gak jarang pake diskon. Yah, untuk papi sendiri, sudahlah. Lagi pula, komputer mulai mengambil alih pekerjaanku, karena tinggal aku ketik, print dan kemudian difotokopi transparansi. Bahkan sekarang, sudah tinggal ketik di laptop. Cara berbeda, tapi sampai detik ini pekerjaan ini masih sering aku lakukan, walaupun sekarang sudah tanpa dibayar lagi.

Ketika aku SMA, aku sering membuat kartu ucapan. Pekerjaankah itu? Entahlah. Aku mendapat sedikit duit, tapi banyak sekali kepuasan.

Masa-masa kuliah, diisi dengan berbagai kegiatan, termasuk jadi asisten dosen. Pekerjaan tidak tetap lainnya yang aku lakukan sambil kuliah. Gaji? Wuih jangan ditanya! Lebih sering dirapel dengan jumlah yang tidak bisa ditebak. Terkadang harus masuk memberi asistensi atau masuk untuk mengawasi ujian (yang terakhir justru lebih menghasilkan duit). Terkadang ikut lomba karya ilmiah misalnya, juga bisa menghasilkan duit. Tapi rasanya itu tidak bisa dibilang pekerjaan yang kemudian menghasilkan duit.

Kerja praktek, judulnya saja sudah ada kata “kerja”. Bentuk pekerjaan lain yang difasilitasi oleh kampus (atau diwajibkan oleh kampus ya kata yang tepat?). Aku bekerja di Dinas PU Propinsi Jawa Barat. Gaji yang diterima kalau tidak salah Rp 50.000,- yang bahkan tidak cukup untuk mengganti ongkos transportasi dan ongkos makan siang aku. Apalagi waktu itu persis bulan Juni-Agustus 1997, pas krismon mulai unjuk gigi. Disitu aku melihat satu jenis pekerjaan yang konon diminati banyak orang: PNS, pegawai negeri sipil. Bukannya jadi ingin menjadi seorang PNS, justru pengalaman di tempat itu memperkuat keyakinanku untuk tidak menjadi seorang PNS. Rasanya pilihan untuk bekerja di situ harus diikuti keyakinan dan keteguhan hati yang kuat. Aku harus mampu ikut arus, yang justru tidak ingin aku lakukan, atau melawan arus, yang sama saja dengan cari mati. Mungkin bisa saja, arus itu gak perlu dilawan, tapi kita coba ikuti, sambil tetap berpegang dengan keyakinan kita. Tapi kok rasanya aku tidak sekuat itu.

Setelah lulus, pekerjaan tetap pertama, aku lakukan hanya 2 hari setelah hari wisudaku. Menjadi asisten salah satu dosenku, mengerjakan beberapa penelitian yang dia lakukan sehubungan dengan disertasi dia. Tidak lama, aku dan seorang temanku, segera ditarik untuk bekerja menjadi asisten peneliti di Pusat Penelitian Kepariwisataan ITB (P2Par ITB). Gaji pertama habis untuk traktir teman teman yang kebetulan saat itu belum pada bekerja, dan juga keluarga, serta kebutuhan sehari-hari. Aku bekerja penuh selama hampir 1,5 tahun, sampai akhirnya aku berangkat bersekolah ke Belanda. Di bulan-bulan terakhir aku bekerja disana, aku sudah mulai gelisah, sudah mulai ingin berpindah tempat, sudah mulai bosan dengan rutinitas yang ada, walopun tidak ada yang salah dengan tempat bekerjaku, apalagi lingkungan kerjaku yang memang mengasyikan (saat itu!). Materi pekerjaanpun sesuatu yang aku sukai.

Selama aku kuliah di Belanda, aku juga sempat bekerja. Pertama, aku bekerja membantu seorang teman di Indonesia untuk menjadi koresponden mereka di Belanda. Aku harus mengirimkan begitu banyak surat untuk mempromosikan kegiatan wisata di Indonesia. Pekerjaan yang tidak sulit, tapi cukup memakan waktu, dengan bayaran yang cukup baik, walaupun sempat tertunda sangat lama. Kedua, aku bekerja untuk dua buah kampus, melakukan survey primer yang kebetulan juga terkait dengan thesis aku. Dengan kemampuan bahasa Belanda yang nyaris nol, aku cukup nekat untuk mendatangi orang memberi kuesioner dalam bahasa Belanda bertanya tentang Rotterdam as European Cultural Capital 2000.

Kembali dari Belanda, aku memutuskan untuk berlibur dulu selama kurang lebih 3 bulan. Hanya bersenang-senang, atau tepatnya menghabiskan tabungan aku selama di Belanda. Sampai akhirnya aku bosan, dan mulai mencari-cari pekerjaan. Ada beberapa tawaran, dan bahkan sempat menjadi asisten seorang kandidat PhD dari Malaysia yang tengah bekerja di Aseansec, sebelum akhirnya aku memutuskan kembali ke P2Par untuk mengerjakan satu penelitian yang cukup menarik di Kalimantan. Ternyata, ketika aku menerima tawaran P2Par, aku juga diterima untuk menjadi dosen tetap di Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi Unpar. Senang sekali. Memang, mereka bilang, karena beberapa hal, mereka tidak mungkin langsung mengangkat aku menjadi dosen tetap, tetapi akan mencoba aku dulu selama 1 atau 2 semester. Karena itu, aku meminta ijin ke P2Par untuk bekerja hanya 80% dengan gaji juga yang dipotong 20% untuk bisa mengajar di Unpar. Aku harus melakukan penelitian tentang Tanjung Batu di Kalimantan Timur dan juga mengajar Teori Ekonomi Makro. Menyenangkan sekali, walaupun deg-deg-an tiap kali harus mengajar.

Memasuki semester kedua-ku di Unpar, dan memasuki bulan terakhirku bekerja di P2Par, aku mencoba satu pekerjaan lain yang pernah sangat aku idam-idamkan waktu kecil: menjadi penyiar. Aku diterima di sebuah radio swasta di Bandung: Her Radio. Pada saat yang sama, aku juga menerima tawaran untuk mengajar di Jurusan Teknik Planologi di Unpas, untuk mengajar Metoda Analisis Perencanaan dan Studio Perencanaan Kota. Saat itu, aku melepas pekerjaan tetap (kalau bisa dibilang begitu) di P2Par, dan mencoba berbagai pekerjaan tidak tetap. Di Unpar, aku bukan dosen tetap, di Unpas juga demikian dan pekerjaan di radio pun lebih jelas lagi bukan pekerjaan tetap. Saat itu, semester itu, sungguh, aku sangat menikmati hidup aku, menyenangkan sekali. Mengerjakan semua hal yang memang aku cintai, aku senangi, aku impikan, punya waktu cukup untuk pacaran, untuk bergaul dengan teman-teman lama, dan masih banyak lagi. Soal duit, memang gak mudah, aku harus hemat, karena tidak ada satu pun dari pekerjaan tersebut yang bisa menanggung seluruh kebutuhan sehari-hariku, kecuali aku sangat berhemat. Lebih sulit lagi, ketika orang bertanya, apa pekerjaanku! Untuk aku sendiri, aku bisa menjawab dengan santai, dan tidak ambil pusinglah. Tetapi sulit ketika orang tua ditanyakan oleh orang orang, apa sih pekerjaan anaknya! Usiaku 26 menjelang 27 tahun, dengan gelar ini itu yang entah kenapa sangat dipedulikan orang-orang (gak penting banget gitu loh!), dan asik asik aja dengan hidup seperti itu, tanpa pekerjaan tetap! Hei, apa peduli orang-orang sih, aku sangat bahagia!

Akhir semester keduaku di Unpar berakhir kurang menyenangkan, karena tanpa alasan yang cukup jelas (alias, menurut aku, dibuat-buat) aku tidak menjadi dosen tetap di Unpar. Agak kaget dan cukup sedih sekali. Saat itu, aku tengah libur mengajar di Unpas, dan boleh dibilang tanpa aktivitas apapun, sampai sampai aku jatuh sakit. Kulupakan Unpar yang tadinya cukup aku harapkan, walaupun juga cukup aku ragukan, untuk berkonsentrasi mengajar di Unpas, sambil siaran, dan untunglah ada tawaran satu dua untuk ikut terlibat dalam proyek-proyek yang cukup bisa mengisi pundi-pundi. Aku mulai sering bolak balik Jakarta Bandung. Bekerja untuk sebuah konsultan swasta, sebuah konsultan asing, sebuah instansi pemerintah pusat, institusi donor internasional dan juga sempat untuk sebuah lembaga penelitian sebuah universitas negeri terkenal di Jakarta. Terkadang aku juga menerima tawaran pekerjaan sehari dua hari yang menyenangkan yang datang dari tempat tempat tidak terduga J Semua kujalani dengan senang hati dan sangat enjoy. Itu kulakukan selama hampir 1,5 tahun terakhir ini.

Bahagia? Iya.
Puas? Sedikit kekurangan disana sini, tapi aku cukup puas.

Tapi, kembali, apapun itu aku ini sebetulnya bisa dibilang pengangguran, tanpa pekerjaan tetap. Kartu namaku sampai saat ini personal, tanpa embel-embel apapun, pekerjaan dan apalagi gelar (gak perlu banget, deh!). Aku gak pernah pusing dengan itu, walaupun di keluargaku (khususnya perlu dibaca tegas: keluarga BATAKku) seringkali dipertanyakan. Dengan usiaku, dengan jenjang pendidikanku, dengan sekolahku ke Belanda, dan terutama dengan statusku yang masih belum menikah! Tampaknya, orang tanpa pekerjaan tetap, masih dianggap belum mencapai apapun, belum berhasil barangkali. Tampaknya kondisi aku ini gak jauh beda dengan status pengangguran. Bisa jadi orangtuaku pun tidak akan pernah lega dan merasa puas selama aku masih seperti ini. Bisa jadi, lingkunganku tetap menganggap aku aneh dengan gaya hidupku yang kelewat santai.

Hi hi, it’s not that I don’t want a steady life, a settled one!

Pekerjaan tetap yang ada di bayanganku adalah mengajar. Berada di kampus. Berada diantara orang orang yang tengah menimba ilmu di bangku pendidikan formal. Tapi tampaknya, kapasitas aku dianggap belum memenuhi syarat? Aku ini bukanlah lulusan cum laude, bukanlah manusia pintar (Kesel deh kalo inget ini, soalnya seringkali orang melihat aku dengan predikat dosen yang kemudian langsung dihubungkan dengan tingkat kepintaran otakku yang sama sekali tidak berhubungan, apalagi kalo ternyata kondisin ini sering membuat orang tidak pede berhadapan dengan aku. Huh!). IPK aku itu hanya nyaris 3, kurang 0,04. Tapi apapun itu, IPK-ku bukan 3. Begitu juga untuk IP S2ku yang juga hanya 7,5. Pas-pas-an. Itulah aku.

Aku sudah mencoba bekerja penuh waktu, bekerja tetap di sebuah lembaga penelitian, di sebuah instansi pemerintah, di sebuah kantor konsultan swasta, semua sudah aku coba, kumplit dengan rutinitasnya.

Seberapa penting sih sebuah pekerjaan tetap?

Memang, aku musti akui, kondisi ini sering membuat aku tidak fokus dalam mengerjakan banyak hal. Tapi ada satu hal yang lebih “tetap” lagi yang lebih aku inginkan. Kehidupan yang lebih tetap, settle down, begitu bukan ya istilahnya?

Entahlah, mungkin aku musti benerin CV aku lagi. Jadi kalo butuh pegawai, kontak aku aja ya.

No comments:

Post a Comment