19.10.04

Obat Pahit

Terkadang, butuh waktu untuk bisa mencerna semua hal yang orang berikan untuk kita. Terutama kritikan pedas yang memang sangat kita butuhkan atau kritikan pahit ya? Seperti obat pahit yang harus kita minum pas lagi kita sakit (soalnya kalo pedes sih, aku doyan).

Banyak hal melintas tapi aku lewatkan begitu saja, beberapa hari terakhir ini. Entah kenapa. Males banget buat ngapa-ngapain, bahkan untuk mikir. Ini sih gawat sekali. Orang hidup gak bisa tanpa tujuan dan tanpa semangat, tapi itu yang kerasa.

Aku bersyukur atas teman-teman disekitarku. Sayangnya, saat ini rasanya mereka semua jauh banget dari aku. Jadi, abanglah yang terutama aku syukuri saat ini.

Kesamaan diantara kami, membuat dia bisa lebih waspada melihat gejala gejala buruk yang sedang aku alami. Lebih galak, lebih keras untuk mengingatkan aku untuk bangun dari segala “ketidakpuguhan” ini. Makasih ya, Bang (walaupun aku tahu, dia gak pernah baca blog aku).

Entah kenapa, aku lebih sering mengeluarkan sikap “defence”, sikap melawan ketika dibilangin, padahal aku tahu pasti bahwa apa yang diungkapkan tentang aku itu emang bener. Seringkali aku lebih sering ingin memberi kesan bahwa aku “ngeyel”, “keukeuh”, “ngotot” dan kemudian aku akan tunjukkan bahwa aku mencerna semua kritik yang datang. Tapi gengsi aku, bahwa aku akan merubah sesuatu berdasarkan ucapan seseorang terlalu besar. Kacau ya! Aku takut aja, kadang, kalo aku terlalu cepat bilang iya, mengiyakan atau menjanjikan sesuatu, justru itu tidak tercapai, karena aku terlalu cepat dan tidak betul betul memikirkan hambatan yang ada, terlalu semangat tanpa sikap realistis. Sering banget, justru disaat aku bilang gak mungkin, sesuatu itu terwujud. Bisa jadi ini mitos yang aku percaya, jadi aja aku tersugesti dan jadi kejadian.

Apapun itu, aku tidak ingin mengecewakan orang orang yang aku cintai, yang juga mencintai aku dan aku tahu, menginginkan yang terbaik untuk aku. Mudah-mudahan, aku bisa terus menyadari itu, dan mudah-mudahan mereka juga bisa menyadari bahwa ini semua tidak mudah, untuk mempertemukan yang terbaik di pikiran kita dengan yang terbaik di pikiran orang orang yang kita cintai.

I love you, Pi.
I love you, Mi.
I love you, Abang.
(dan tentu saja, adik-adikku dan sobat sobat terbaikku)

No comments:

Post a Comment