16.10.04

Monalisa Smile

Pernah nonton Monalisa Smile?
Bisa jadi aku rada telat nonton ini film, maklum, waktu itu rasanya lagi di tengah tengah kerjaan KKPN yang tidak memungkinkan aku untuk melihat dunia luar J untuk meminjam beberapa bulan lalu, aku masih berat untuk minjem bajakannya, dengan 1001 alasannya deh.

Julia Robert sebagai Katherine Watson yang seorang guru untuk mata kuliah History Art, yang diterima untuk mengajar di sebuah sekolah yang sangat konvensional bernama Wellesley.

Film ini bikin aku cukup tergugah dan sedih tapi juga bahagia dan bertanya-tanya. Film ini mengambil setting tahun 1953, dengan obrolan seputar mengajar dan mengejar impian, serta persamaan hak perempuan.

Jadi keinget awal-awal ngajar penuh sebagai seorang dosen, bukan sebagai asisten dosen. Perasaan senang, semangat, antusias dan juga kekuatiran bahwa aku gak bisa ngasih yang mereka butuh. Nah, si Katherine Watson juga punya segudang impian untuk memberi banyak hal ke siswi siswi di Wellesley. Tapi, duh, gak kebayang banget perasaan dia, waktu pertama ngajar. Ternyata seluruh (iya, iya, SELURUH) siswi itu sudah membaca SELURUH bacaan wajib dan juga bacaan tambahannya. Setengah iri hati, karena itu tidak pernah terjadi deh kayaknya di dunia nyata yang aku jalani. Setiap slide yang dipasang oleh Katherine, bisa dikenali dengan mudah oleh seisi kelas, berikut komentar, kritikan yang tentu saja mereka telah baca dari buku buku teks yang ada di silabus mata kuliah History of Art itu.

Kuliah kedua, Katherine datang dengan metoda baru, dia membawa slide yang bukan dari buku buku teks. Jelas semua kaget. Katherine menantang mereka. Dia bilang,’It’s not in sylabus”. Dilanjutkan dengan,” Is it any good? There’s no wrong answer, no text book to tell.”

Kita memang terbiasa (setidaknya Melly deh) untuk takut mengeluarkan jawaban, komentar, kritikan terhadap apapun. Ketakutan akan memberi jawaban yang salah, jawaban yang bodoh, yang mempermalukan kita. Lebih enak dan lebih percaya diri, ketika kita sudah membaca buku teks, dan ingat apa isi buku teks tersebut dan berkomentar berdasarkan buku teks tersebut. Padahal, tidak bisa seperti itu, kan.

Di kelas, sangat sulit untuk membangun suasana belajar mengajar, dimana semua bisa antusias mengikuti pelajaran. Bertanya atau menjawab, atau apapun sekedar untuk mengeluarkan suara di kelas. Hampir tidak pernah. Terkecuali untuk protes ketika tiba tiba ada kuis mendadak, atau ada tugas yang belum selesai dikerjakan!

Aku juga diingatkan, bahwa seringkali buku teks begitu menjadi patokan untuk banyak hal, dan tidak membiarkan otak kita berpikir bebas, sebagaimana otak kita inginkan, di luar apa yang dikatakan oleh buku buku teks tersebut.

Kembali ke Monalisa Smile, slide yang ditampilkan oleh Katherine adalah gambar sebuah seni modern yang abstrak dan hampir seluruh isi kelas: menjijikan. Menurut Betty Warren, salah seorang siswi berpengaruh yang juga adalah putri kepala komite alumni, untuk semua seni dia bilang, ”There are standards, techniques, composition, color, even subject.” Ketika ditanya lebih lanjut apa sih yang membuat sebuah seni itu bagus atau buruk, Betty bilang,”Art isn’t art until someone say it is”. Someone disini jelas mengacu kepada “The right people”.

Sebetulnya siapa sih “the right people” itu? Siapa yang punya wewenang untuk mengatakan buruk atau bagus? Untuk banyak hal dalam kehidupan kita, kapankah suatu hasil itu baik atau buruk? Siapa yang berhak menghakimi hidup kita?

Ketika Katherine membawa mereka melihat lukisan Pollock, dia ingin membawa murid-muridnya untuk membuka hati dan pikiran kepada ide ide baru. Siswinya terhenyak, dan mulai berbisik bisik cemas. Cemas untuk disuruh membuat ulasan tentang itu. Tahukah apa kata Katherine?
Let us open our mind to a new idea
You are not required to write a paper
You are not even reqired to like it
But you are required to consider it


Terkadang sulit untuk kita buat nerima hal hal baru dalam kehidupan kita. Sulit menerima ada hal hal lain di luar mainstream yang kita kenal. Ada banyak hal yang berbeda dengan apa yang biasa kita ketahui, kita lihat, kita percaya. Tapi apakah itu berarti bahwa hal lain itu buruk dan salah? Bisakah kita berupaya tidak menilai begitu saja tetapi berupaya setidaknya mempertimbangkannya saja. Tidak perlu menyukainya, cobalah untuk mengenalinya. Tetapi seringkali, sesuatu yang berbeda itu kita anggap sebagai sebuah musuh, sebuah ancaman yang harus dicegah, dibuang jauh-jauh, diperangi sampai mati kalau perlu. Tanpa ada keinginan untuk tahu sedikit lebih jauh.


Terkadang, hal yang berbeda terjadi karena hal itu memang belum bisa kita tangkap dengan daya pikir kita yang terbatas, dengan otak kita yang memang tidak pernah sempurna. Tahu Vincent Van Gogh kan? Aku suka banget lukisan dia, terutama yang kamar tidur. Aku suka karena begitu cerah warnanya, ceria, walopun itu gambar yang sedih. Nah, sebuah percakapan antara Katherine dan murid-muridnya juga melibatkan pelukis Belanda yang satu ini.

Vincent van Gogh
He painted what he felt not what he saw. People didn’t understand, to them it seemed like childlike and crude. It took years for them to recognize his actual technique to see the way he brush strokes seemed to make the night sky move. Yet, he never sold a painting in his lifetime. This is his selfportrait. There is no camouflage, no romance, honesty

Now, 60 years later, where is he? FAMOUS. So famous in fact, that everybody has a reproduction. There are postcards, we have calendar. With the ability to reproduce art, it is available to the masses. No one needs to own a Van Gogh original. The can paint their own, Van gogh in a box. The newest form of mass-distributed art: van gogh by numbers.

Ironic, isn’t? Look at what we have done to the man who refused to conform his ideals to popular taste. Who refused to compromise his integrity. We have put him in a tiny box and asked you to copy him. So the choice is yours. You can conform to what other pople expect or you can be ourselves.

Terutama dua kalimat terakhir, sesuatu yang sangat sangat sulit untuk bisa dilakukan. Kita punya pilihan yang seharusnya hak kita, tapi seringkali hal itu sulit sekali dilakukan. Sulit sekali untuk betul betul membuat pilihan tanpa memikirkan apa yang orang harapkan. Sulit.

Seperti percakapan Betty dan ibunya tentang lukisan Monalisa
Betty: “She’s smiling. Is she happy?
Mom: “The important thing is not to tell anyone!”
Betty: “She looks happy. So what does it matter”
Mom: “Don’t wash your dirty laundry in public”.

Betulkah? Betulkah bahwa ini juga yang sedang kita lakukan. Biarlah orang bisa melihat kita tampak bahagia, tampak sebahagia senyum Monalisa, tetapi entahlah apa yang sebetulnya kita rasakan di dalam hati kita. Apapun itu, selama publik tidak mengetahuinya, selama orang lain tidak tahu, kita menjadi Monalisa yang selalu tersenyum dan bertindak sebagaimana yang diharapkan orang?

To change for other is to lie to yourself.
Not all who wander are aimless. Especially not those who seek truth beyond tradition, beyond definition, beyond the image


(masih banyak yang muncul dari film ini, mungkin nanti masih akan terus berlanjut)

No comments:

Post a Comment