23.10.04

Kewajiban Sejarah

Pernah denger tentang kewajiban sejarah?
Kalau belum, gak perlu kuatir, karena aku pikir itu kata itu memang baru baru ini ditemukan. Tepatnya Abang, dalam kegiatan “ngacapruk”nya kali ini, mengeluarkan satu kata itu.

Kewajiban sejarah
Kata itu keluar, waktu kita tengah berbincang tentang seorang teman. Awalnya dimulai dari keengganan teman kami itu untuk membaca buku. Kemudian berlanjut dengan ketidakmengertian kami berdua, terhadap orang-orang yang tidak suka membaca buku, setidaknya buku yang berhubungan dengan apapun yang mereka geluti atau kerjakan. Misalnya seorang peneliti yang tidak pernah melakukan studi pustaka, atau membaca buku yang berhubungan dengan apa yang dia teliti, atau seorang dosen yang tidak pernah mau membaca buku sesuai dengan apa yang dia ajarkan, atau bahkan seorang koki yang tidak pernah, setidaknya, membaca satu atau dua resep baru atau masakan baru. Tidak usah jauh jauh untuk membaca buku tentang hal-hal lain, deh.

Aku gak bisa ngebayangin, bagaimana seseorang bisa menambah wawasannya, khususnya yang terkait dengan apa yang dia geluti, tanpa mencari tahu lebih lanjut dari buku. Yah, bisa jadi ada sumber-sumber lain di luar buku yang menjadi sumber. Mudah-mudahan. Tapi setidaknya, aku pikir, dia harus membaca sesuatu, bahkan jika itu hanya sebuah artikel ringan di surat kabar atau internet.

Nah, kebayang saja, bagaimana dengan orang-orang yang berada di lingkungan pekerjaan yang memiliki jenjang karir yang jelas. Misalnya saja di bank, di kantor pemerintahan, atau di kantor-kantor apapun secara umum. Ambil contoh di lingkungan pemerintahan saja ya, awalnya bisa jadi hanya menjadi tenaga honorer, kalau kebetulan ada pembukaan lowongan PNS (seperti yang aku baca di koran PR beberapa waktu lalu, ada lowongan PNS untuk beberapa tempat di Jawa Barat), maka tenaga honorer itu akan mencoba melamar untuk menjadi pegawai tetap dengan status PNS. Kemudian berlanjut dia menjadi PNS dengan golongan tertentu dan juga pangkat. Sejalan dengan waktu, golongan seorang PNS tentu meningkat. Nah, disinilah muncul kewajiban sejarah.

Peningkatan kelas golongan atau pangkat, tentu saja didasarkan pada kecakapan PNS tersebut, kan. Tapi seberapa banyak sih yang betul betul berupaya meningkatkan kapasitas dirinya, membuka wawasannya untuk menjadi lebih baik lagi dalam pekerjaannya. Khususnya, terkoneksi dengan paragraf sebelumnya (aduh, kok bahasaku bahasa abang banget ya!), apabila orang tersebut enggan untuk membaca. Maaf, maaf saja jika anda merupakan orang yang enggan membaca, tapi aku pikir, kalau anda sampai membaca tulisan ini, dan anda masih bilang anda tidak suka membaca, hmm, coba pikir ulang deh!

Jadi, bisa jadi seseorang itu naik golongan, pangkat, pindah golongan, pangkat, karena kewajiban sejarah, yaitu:
Orang itu harus naik golongan karena untuk orang dengan kurun waktu bekerja tertentu memang sudah bisa naik golongan (di luar masalah kum, kredit atau hal-hal lain yang sangat administratif itu)
Orang itu harus naik golongan, karena ada orang baru yang hendak masuk. Masak sih orang itu langsung ke golongan yang lebih tinggi dari orang lama. Jarang terjadi kan. Jadi, orang lama itu akan naik golongan.
Orang itu sudah bosan di berada di golongan tersebut, waktu tepat, kondisi memungkinkan, pindahlah dia ke golongan di atasnya
Atasan dia sudah bosan
Atasan dia naik golongan, akibatnya, (atau akhirnya) orang tersebut bisa naik golongan.

Jelas, kewajiban sejarah seseorang bisa dipercepat, bisa sangat lambat. Tapi ada kata kewajiban, seakan-akan itulah sejarah yang wajib dijalani seseorang.

Huh, mudah-mudahan, kalaupun aku bekerja di lingkungan yang mengenal suatu jenjang karir, aku gak perlu naik golongan karena kewajiban sejarah. Tapi, apakah juga semata-mata sebuah kewajiban sejarah, kita menjalani pendidikan SD, SMP, SMA, kuliah S1, S2 dan S lainnya, menikah, punya anak, membesarkan anak, menikahkan anak dst?

1 comment:

  1. Anonymous3:41 am

    gimana kabar abang????
    eh sapa sih si abang???
    kenalin dongggg.....
    mellyana, bikin dong foto nya...
    biar kenal gitu lohhhh....
    kalo bisa barengan ama abang :D

    ReplyDelete