13.10.04

Jujur tapi mampus?!?

Tahu BSB?
Backstreetboys.
Tapi, maaf maaf saja, bukan fans BSB kalau dihubungkan dengan backstreetboys. Tapi kok kayaknya fans aja ama hubungan-hubungan backstreet.

Entah kenapa, setelah berabad-abad berada di dalam hubungan seperti itu *hey, udah tau hiperbolis-nya seorang melly kan* untuk kali ini, aku pengen brenti aja. Apapun halangan di depan mata, kayaknya lebih baik dihadapi sajalah.

Wuih, sok PD banget ya ngejawabnya!

Beneran gak gampang bener. Seharian kemarin, aku musti muter muter ama mami. Ini, nih, pekerjaan luar biasa beratnya. Lebih baik disuruh ngajar seharian, disuruh siaran seharian, atau kerja lagi ngurusin KKPN daripada musti nganter nganter mami. Kerjaan yang butuh batin dan fisik yang kuat *hiperbolis...hiperbolis... remember?*

Untuk ngurus STNK, yang mana dia menolak lewat agen, buat apa lewat agen kalau mami selalu berhasil menembus birokrasi dan aturan dan orang orang seribet apapun? Walhasil, bolak balik ke beberapa tempat, karena ada ada aja yang lupa dibawa atau disiapin. Udah gitu, masih harus nemenin belanja, ke You, ke kantor papi, ke bank, dan ke salon.

Terus, balik ke tiga paragraf sebelumnya, aku pikir, ini kesempatan buat cerita aja ama mami. Padahal biasanya, cukup 15 menit, pasti suka udah ribut. Mendingan gak ngobrol daripada malah jadi kesel! Sedangkan kemarin, udah pasti akan seharian dan plus, ada niatan ngobrol. Apa gak salah tuh? Gitu kali ya bayangan gue sendiri yang sampe panas dingin dan lemes banget ngebayangin *mau ngobrol* itu.

Pernah musti nembak cewek/ cowok, menyatakan cinta, di jaman jaman smp atau sma? Aku sih belum pernah, tapi aku yakin banget, itu perasaan yang aku alami selama seharian itu.

Ngobrol awal masih enak. Aku cerita soal hubunganku ama Made yang udah kandas. Tidak terlalu detail, setidaknya, tidak perlulah dia tahu berapa abad sih aku berhubungan ama dia, dan cerita cerita detail lain, yang biasanya jadi bahan curhatan gitu. Jelaslah reaksi mami terlalu bisa diprediksi. Walaupun gak marah-marah, gak tereak-tereak, dia memberi (kembali) seribu satu alasan kenapa hubungan itu tidak bisa dilakukan, dilihat dari banyak sisi (dipikir-pikir, kayak analisis SWOT aja, atau bahkan kayak feasibility study yang cukup dalam deh). Berlanjut ke pria pria yang selama ini dicoba dikenalkan ke aku yang memang tidak berlanjut. Jangan ditanya deh, apa apa saja yang terlontar dari mulut mami. Intinya memang harapan semua orang tua untuk anak anak mereka.

Tapi, aku belum bisa sampe ke obrolan utama, keinginan utama aku untuk ngobrol dengan mami. Butuh, hampir 10 jam untuk akhirnya sampai ke obrolan itu. Di mobil, ketika kita tidak perlu bertemu muka dengan muka, dan matahari sudah lama lagi masuk ke peraduannya. Dan, tentu saja, sebuah bentuk penolakan segera keluar. Gak cukup sampai disitu, gak lama, papi juga harus ketemu dengan aku, untuk klarifikasi, pembekalan dan hal hal lain.

Aku hanya mencoba untuk jujur. Aku tidak ingin main belakang. Aku ingin orangtuaku tahu persis dengan siapa aku jalan. Aku gak minta (well, belum kali ya) dikawinin (menurut UU Perkawinan, yang tepat itu kawin loh). Aku hanya mencoba mendapat kesempatan untuk bisa jalan dengan seseorang, yang aku bisa hidup bersama dengan dan mudah2an dia juga bisa hidup bersama dengan aku. Seseorang dengan segudang mimpi dan harapan, sebagaimana juga aku yang hidup untuk segudang mimpi dan harapan. Seseorang yang membuat aku begitu bersemangat, selalu menjadi lebih baik, selalu bikin aku kangen, kesel, gemas, marah dan 1001 emosi lainnya. Seseorang yang aku tahu, bukan orang yang tanpa cacat dan bukan orang yang sempurna, tapi jujur untuk mengakui itu semua dan mau berjuang untuk hal yang dipercayainya. Tidak mudah menyerah, dan terus berpikir untuk menjadi lebih baik. Seseorang yang sayangnya hidup dengan banyak stigma dan praduga dari orang orang sekitarnya.

Tapi sulit sekali. Orang tua cenderung malah ketakutan.

Adik-adikku bilang, itulah nasib jadi kesayangan papi. Dia begitu overprotective buat aku. Untuk banyak hal. Ketika hal yang sama musti terjadi pada diri adik-adikku, mereka tidak akan sebegitu panik dan sebegitu kesal. Berbeda dengan diriku, yang sedari kecil memang hidup dengan segudang harapan dari orangtua. Mimpi-mimpi yang menurut mereka bisa aku wujudkan.

Tidak ada orang yang sempurna. Abang bisa jadi punya 1001 kekurangan dan kelemahan, tapi juga punya 1001 kelebihan lainnya. Juga diriku, juga semua orang lainnya.

Aku gak nyesel sudah berkata jujur untuk itu. Walaupun kemungkinan besar, setiap pertemuanku dengan Abang akan tetap didampingin keluarga. Adikku akan menjadi bodyguardku? Tidak apa apa. Tokh tidak ada apapun yang kami lakukan yang tidak pada batasnya. Tidak ada tempat pertemuan yang kami sembunyikan. Potluck atau Sukaasih. Hanya dua tempat itu. Aku berupaya jujur untuk banyak hal.

Aku sadar, hubungan ini butuh perjuangan yang gak kira kira. Mudah-mudahan aku cukup kuat. Mudah-mudahan abang juga kuat.

2 comments:

  1. Anonymous1:27 am

    sapa sih si abang itu. koq gue jadi penasaran :D
    kasih tau kita2 dong.

    ReplyDelete
  2. ka Mel.. kayanya aku TAU deh si ANONYMOUS kita ini ;P anyway, good luck buat perjuangannya yah? you're not alone lah.. hehehe.. :D
    Godspread, sist..!

    ReplyDelete