30.10.04

Gramedia

Pernah kesel ama Gramedia?
Aku sering banget, dan gobloknya tetep belanja kesana.

Beberapa hari lalu, aku beli Da Vinci Code, barusan dengan semangat, aku coba menghabiskannya, dan ternyata persis di halaman 560 ternyata kekacauan, dimana halaman berikutnya hilang dari buku tersebut, dan langsung aku dihadapkan pada halaman 577. Bayangkanlah, dari pagi aku hanya menghabiskan waktu untuk membaca buku tersebut, kurang dari 100 halaman lagi, justru di saat saat akhir, aku musti dikecewakan.

Sialnya lagi, aku tidak memegang struk pembayaran, dan harga buku tersebut ada di plastik pembungkus buku. Sebagaimana diketahui, sebagian besar buku di Gramedia itu kan selalu dibungkus plastik

Aku coba kontak Gramedia, dan tentu saja sebagaimana diperkirakan, permohonan untuk mengganti buku tersebut ditolak. Yah, wajarlah, karena bisa jadi aku dapat buku itu dari tempat lain. HUH!!!!

Ini memang bukan kali pertama, dan aku gak ngerti gimana cara Gramedia melakukan kontrol terhadap kualitas barang barang yang dijajakannya. Atau memang tidak ada yang namanya “Quality Control” itu? Mungkin, memang sebagai sebuah perusahaan besar, yang selalu mengambil keuntungan besar dalam setiap penjualan bukunya, yang tidak percaya konsinyasi, Gramedia tidak berminat untuk repot-repot memastikan bahwa buku buku yang dia jual memang dalam kondisi prima! Buat apa. Itu adalah resiko pembeli yang ceroboh dan tidak hati-hati seperti aku, yang akhirnya harus kehilangan kurang lebih 60,ooo ribu rupiah, harga buku tersebut. Entahlah, rasanya memang sudah waktunya muncul sekian banyak toko buku lain yang cukup mampu mengawasi buku-buku yang ada di tokonya.

Aku sendiri, saat ini, malas membayangkan pergi ke Gramedia, tapi, buat Gramedia, apalah arti satu orang pembeli seperti aku yang kemudian memutuskan lebih baik pergi ke tempat lain.

25.10.04

evj'ers

Kafe Halaman. Minggu, 24 Oktober 2004.

Anak-anak EVJ harusnya pada ngumpul hari ini. Herannya sejarah kembali terulang, teteup aja, pas udah jam yang ditentukan, tidak ada siapa siapa disitu. Untung Iya udah reservasi, jadi udah ada meja menunggu kami bertujuh disana (sayang Ty’e gak ada di Bandung ya).

Ada sedikit perubahan urutan kedatangan. Iya ternyata kali ini juga terlambat karena beberapa hal. Elise dan Winsley bisa dateng berbarengan dan menyampaikan salam Diana karena tidak bisa dateng. Katanya sih Diana nawarin silahturahmi setelah Lebaran nanti, halal bihalal gitu deh. Well… kita lihatlah. Dan Puche datang di urutan terakhir yang biasanya ditempati Tinong. Cerita bagaimana Tinong tidak hadir, sudah sangat khas Tinong.

Yang pasti, belum jam buka, aku udah ambil tajil plus teh manis hangat dan langsung menyeruputnya. Nikmat banget. Baru kemudian sadar, kalo orang-orang ngeliatin. Duh, mudah-mudahan gak ada yang salah duga melihat aku dan Abang (yang dengan begitu baiknya mau nungguin aku sampe temen-temen dateng). Tapi kalau ternyata ada yang berpikir sudah jam buka karena melihat kami, nasib aja kali ya. Maaf seribu maaf deh. Tidak ada maksud apa apa kok.

Tapi, ternyata, mendapat pelayanan di waktu berbuka puasa itu memang betul betul butuh kesabaran tingkat tinggi. Sudah hampir sejam aku disana, baru bisa memesan makanan! Huh. Ngeselin juga sih. Sempet juga sih, aku ama elise berpikir, kita bisa kabur sajalah, tokh sudah dapat tajil gratisan. Siapa suruh juga lama-lama, gitu. Untunglah, kami ini masih perempuan-perempuan cantik dan baik hati *hah*.

Sop buntut rupanya jadi menu favorit semua orang, juga juice strawberry. Tapi aku sendiri tetep dengan mie tasik yang memang sudah terbayang-bayang selama beberapa waktu. Maklum, sudah lama banget gak ke kafe halaman, dan mie tasik adalah salah satu menu yang aku suka disana.

Ngobrol ngalor ngidul. Update kisah-kisah cinta (seperti biasa, yang selalu jadi menu utama), update kisah keluarga, dan sedikit kisah kerjaan. Rencana-rencana menikah, dan tetap gak ketinggalan, rencana cari pacar baru. Hahahaha. Sambil diselingin penjualan baju dalam yang huhuy dan seru itu.

Asik banget sih, bisa tau lagi kabar orang-orang. Walaupun ngobrol kemarin lebih ke ngobrol ngalor ngidul aja sih. Gak terlalu dalam. Tapi aku enjoy banget. Walaupun juga, semakin kerasa beberapa hal tampak begitu jauh dari duniaku selama ini. It’s OK.

Tapi, seperti kata Remy bahwa Tinong selalu harus jadi pusat cerita, penceria kami semua, dengan atau tanpa kehadirannya (walopun Iya menyanggah dan bilang Tinong itu tepatnya lebih sering jadi obyek penderita kami kami ini). Di menit-menit terakhir keberadaan kami disana, Tinong sms: eh, kpn bukber teh say.

HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

Itu sms yang dikirim tiap hari kemana, Non?

lift-ologi

Lift, memang cuman ada di bangunan yang tingginya setidaknya lebih dari 4 lantai. Rasanya itu aturan yang sempat aku ketahui waktu masih sekolah dulu. Jadi, wajar dong, kalau aku bilang, sebagian besar orang yang berada di sekitar aku, pasti pernah naik lift.


Herannya, dan tidak wajarnya, tetap saja terlalu banyak orang yang bego banget soal urusan masuk keluar lift. Huh! Serius deh, aku tuh gak tahan banget dengan orang-orang yang gak ngerti etika (wuih, etika ya?) naik lift.


Coba deh diperhatikan!

  1. Tanda panah ke atas dan ke bawah itu punya makna. Pencetlah tombol tersebut sesuai ARAH yang hendak DITUJU. Kalau mau ke atas, pencet tombol ke atas, dan sebaliknya. Jadi tombol itu bukan ditujukan untuk menarik sang lift ke tujuan dimana anda berada. Itu sebabnya di lantai paling bawah tidak ada tombol ke bawah, dan di paling atas tidak ada tombol ke atas. Kecuali kalau anda berpikir, harusnya ada, karena waktu di lantai paling bawah, anda perlu “memanggil” lift ke bawah.
  2. Jangan pernah memencet kedua tombol bersamaan. Anda kan tidak mungkin mau ke atas sekaligus ke bawah. Gimana, sih? Kalau memang itu terjadi, kedua tombol ditekan, coba perhatikan, pada waktu pintu lift terbuka, tombol mana yang tidak menyala, berarti itu adalah tujuan lift. Kalau tombol yang mati tombol ke atas, dan tombol ke bawah masih menyala, tunggulah giliran anda.
  3. Kalau keukeuh mau masuk, jangan terus berlaga heran, kok ini lift ke atas ya, saya kan mau ke bawah dan kok nomor lantai tujuan anda, yang tentu saja ada di bawah itu, tidak bisa ditekan. Pikirkanlah baik baik, kenapanya itu!
  4. Lampu pada tombol naik dan turun itu punya makna. Kalau menyala, itu sudah cukup. Menekan tombol terus berulang kali TIDAK AKAN MEMPERCEPAT kedatangan lift dan mempercepat pintu lift terbuka. Percayalah. Jadi, sabar sajalah.
  5. Kalau cuman naik atau turun satu atau dua lantai, kecuali fisik anda memang payah atau bawaan anda setara dengan belanja rumah tangga dalam sebulan, coba deh pakai saja tangga atau tangga berjalan yang pasti selalu ada di sekitarnya.
  6. Kalau ternyata lift tidak mau naik atau turun karena keberatan atau kepenuhan, gak usah belaga bego dan pura pura tidak tahu, apalagi kalau anda berada sangat dekat dengan pintu lift, keluarlah!
  7. Dan yang paling gak tahan nih, kalau keisengan anda memuncak dan memencet semua lantai di dalam lift. Aduh, heran deh, lift itu dibuat untuk mempercepat, tapi tampaknya, menurut aku sih, lebih sering memperlambat. Jadi kalau bawa anak kecil, tolonglah diberi pelajaran yang bisa membuat anak tersebut lebih mengerti, bahwa itu tombol-tombol di dalam lift bermakna dan punya fungsi!

btw, gue sebut ini lift-ologi, terinspirasi oke, lagian bukankah logi itu adalah ilmu?

23.10.04

Kewajiban Sejarah

Pernah denger tentang kewajiban sejarah?
Kalau belum, gak perlu kuatir, karena aku pikir itu kata itu memang baru baru ini ditemukan. Tepatnya Abang, dalam kegiatan “ngacapruk”nya kali ini, mengeluarkan satu kata itu.

Kewajiban sejarah
Kata itu keluar, waktu kita tengah berbincang tentang seorang teman. Awalnya dimulai dari keengganan teman kami itu untuk membaca buku. Kemudian berlanjut dengan ketidakmengertian kami berdua, terhadap orang-orang yang tidak suka membaca buku, setidaknya buku yang berhubungan dengan apapun yang mereka geluti atau kerjakan. Misalnya seorang peneliti yang tidak pernah melakukan studi pustaka, atau membaca buku yang berhubungan dengan apa yang dia teliti, atau seorang dosen yang tidak pernah mau membaca buku sesuai dengan apa yang dia ajarkan, atau bahkan seorang koki yang tidak pernah, setidaknya, membaca satu atau dua resep baru atau masakan baru. Tidak usah jauh jauh untuk membaca buku tentang hal-hal lain, deh.

Aku gak bisa ngebayangin, bagaimana seseorang bisa menambah wawasannya, khususnya yang terkait dengan apa yang dia geluti, tanpa mencari tahu lebih lanjut dari buku. Yah, bisa jadi ada sumber-sumber lain di luar buku yang menjadi sumber. Mudah-mudahan. Tapi setidaknya, aku pikir, dia harus membaca sesuatu, bahkan jika itu hanya sebuah artikel ringan di surat kabar atau internet.

Nah, kebayang saja, bagaimana dengan orang-orang yang berada di lingkungan pekerjaan yang memiliki jenjang karir yang jelas. Misalnya saja di bank, di kantor pemerintahan, atau di kantor-kantor apapun secara umum. Ambil contoh di lingkungan pemerintahan saja ya, awalnya bisa jadi hanya menjadi tenaga honorer, kalau kebetulan ada pembukaan lowongan PNS (seperti yang aku baca di koran PR beberapa waktu lalu, ada lowongan PNS untuk beberapa tempat di Jawa Barat), maka tenaga honorer itu akan mencoba melamar untuk menjadi pegawai tetap dengan status PNS. Kemudian berlanjut dia menjadi PNS dengan golongan tertentu dan juga pangkat. Sejalan dengan waktu, golongan seorang PNS tentu meningkat. Nah, disinilah muncul kewajiban sejarah.

Peningkatan kelas golongan atau pangkat, tentu saja didasarkan pada kecakapan PNS tersebut, kan. Tapi seberapa banyak sih yang betul betul berupaya meningkatkan kapasitas dirinya, membuka wawasannya untuk menjadi lebih baik lagi dalam pekerjaannya. Khususnya, terkoneksi dengan paragraf sebelumnya (aduh, kok bahasaku bahasa abang banget ya!), apabila orang tersebut enggan untuk membaca. Maaf, maaf saja jika anda merupakan orang yang enggan membaca, tapi aku pikir, kalau anda sampai membaca tulisan ini, dan anda masih bilang anda tidak suka membaca, hmm, coba pikir ulang deh!

Jadi, bisa jadi seseorang itu naik golongan, pangkat, pindah golongan, pangkat, karena kewajiban sejarah, yaitu:
Orang itu harus naik golongan karena untuk orang dengan kurun waktu bekerja tertentu memang sudah bisa naik golongan (di luar masalah kum, kredit atau hal-hal lain yang sangat administratif itu)
Orang itu harus naik golongan, karena ada orang baru yang hendak masuk. Masak sih orang itu langsung ke golongan yang lebih tinggi dari orang lama. Jarang terjadi kan. Jadi, orang lama itu akan naik golongan.
Orang itu sudah bosan di berada di golongan tersebut, waktu tepat, kondisi memungkinkan, pindahlah dia ke golongan di atasnya
Atasan dia sudah bosan
Atasan dia naik golongan, akibatnya, (atau akhirnya) orang tersebut bisa naik golongan.

Jelas, kewajiban sejarah seseorang bisa dipercepat, bisa sangat lambat. Tapi ada kata kewajiban, seakan-akan itulah sejarah yang wajib dijalani seseorang.

Huh, mudah-mudahan, kalaupun aku bekerja di lingkungan yang mengenal suatu jenjang karir, aku gak perlu naik golongan karena kewajiban sejarah. Tapi, apakah juga semata-mata sebuah kewajiban sejarah, kita menjalani pendidikan SD, SMP, SMA, kuliah S1, S2 dan S lainnya, menikah, punya anak, membesarkan anak, menikahkan anak dst?

21.10.04

hampir bedug

"Sekarang, kita punya tamu perempuan cantik. Namanya siapa neh?"

"Melly"

"Puasa, Mel?"

"Enggak tuh."

"Tapi suka dapet undangan buka puasa"

"Sering dan suka banget"

"Menu favorit buka puasa?"

"Makanan Sunda, dimanakan rame rame, satu piring rame rame. Asikk banget."

"Makasih ya." Terry menutup perbincangan gue dengan dia di Papandayang, sekitaran pukul setengah enam, hanya beberapa saat menjelang berbuka puasa.

Aneh juga sih, justru gue dan Abang yang sama sama gak puasa, malahan undangan yang masih nekad dateng ke acara itu. Terus ditanya-tanya pula, diajak kenalan, dan selalu kemudian ditanya kerja dimana? Sampe sampe, Firly, salah satu penyiar bilang,"elu gak capek ya ditanyain semua orang gitu, pasti bosen deh ngejawabnya." Iya ya, harusnya dia jadi humas aku ya saat itu, lumayan buat menjawab pertanyaan-pertanyaan orang.

Ternyata keberuntungan masih berlanjut, sodara-sodara. Ada satu tatarucingan (tebak-tebakan, maksudnya), yang langsung aku sambut dengan acungan tangan, yang dilihat Pandji, dan dengan demikian ditanyakan padaku, dan bisa kujawab dengan mantap dong!

Dan, sik asik, ternyata jawaban tersebut dihargai sebuah CD Lovin' R&B yang aku incer beberapa waktu lalu (ada because of you, seperated, don't wanna try, crazy, miss you dan masih banyak lagi...uh kayak iklan banget). Seneng banget. Sorry Bang, aku gak ngambil pilihan yang kaos, mungkin lain waktu deh.

Hmmm, aku kangen temen temenku... buka puasa bareng yoookkk.....

20.10.04

SMS

Triinnggg

New messages
HardRockFM Bandung
Read now?

Yes


selamat anda diundang datang ke acara hampir bedug hardrock fm. dateng ya ke hotel papandayan jam 5 kurang 15.okeh


Asik asik, rejeki emang gak bisa ditolak. Biarpun gak puasa, ternyata undangan untuk berbuka puasa tidak terduga masih bisa datang. Mudah-mudahan, pertanda baik. Cihuy!

19.10.04

Siaran di HardRock

Kayaknya semangat nulis emang lagi gede banget deh. Biarlah, daripada gak puguh, kayaknya nulis emang bikin seluruh emosi aneh aneh bisa keluar

Pas Lusi ulang tahun, aku dapet tawaran ikutan siaran tamu di HardRock. Huhuy. Impian-impian. Walopun cuman untuk satu kali, untuk satu program baru yang diadain mereka. Tapi itu udah berhasil bikin kepergian ke Jakarta untuk ngadirin ulang taunnya Lusi batal (duh, Lus, soridorimori banget, bener bener gak enak hati-nya sampe detik ini loh).

Kebayang-bayang studio, kebayang-bayang mike, kebayang-bayang mixer, kebayang-bayang komputer. Pokoknya semua yang ada di radio, keperluan siaran. Dan, bener banget, begitu ada di ruangan, kekangenan buat siaran lagi memuncak banget, apalagi pas Manik tau dari Lien soal aku pernah siaran dan mulai bertanya tentang keinginan siaran lagi. Duh....

Balik ke hardrock, aku dateng rada mepet, gara-gara tadinya pengen dateng ama Abang tapi ternyata belum bisa keluar kantor sampe jam 17.45. Ya sudahlah, aku langsung aja ke Dipenogoro.

Ternyata, sodara-sodara, aku itu kudu ikutan acara Ddduel (musti ngikutin gaya Manik pas bilang Dduel dong). Pernah baca MTV trax gak? Kayak gitu deh. Lebih gilanya lagi, eala ternyata, mereka lagi cari diantara dua orang yang ikut siaran, siapa sih yang paling hemat.

Kuakakakakakak. Orang-orang ini jelas jelas gak tau aku, yang jelas jelas tidak bisa berhemat. Hebatnya, aku bisa menipu semua orang!

Lagian salah sendiri, pertanyaannya itu membuat aku terlihat hemat dong!

Bayangin, Candra nanya,”Sebutkan tempat parkir gratis di Bandung.”

Walah, serius nih, nanya ini. Ini mah jelas jagoannya deh. Teringat masa masa miskin soalnya (deu kayak yang udah berkelebihan banget deh). Tempat parkir Gelael, eh super indo – duh entah kenapa selalu nyebutnya Gelael, yang di jalan Dago. Pokoke puteran Dago ada Kalam Hidup, Bank Niaga Dago, Bank Mandiri (ampir seluruhnya), ITB kalo parkir di dalem, toko You kalo parkir di PagerGunung dan beberapa tempat lain. Jangan salah loh, seribu perak itu lama lama berasa banget. Sama berasa-nya (eh, terasa, terasa bukan berasa, sori ya Bang) dengan beli teh botol yang dari 1500 itu kalo sehari bisa dua tiga kali, udah berasa banget kan! Makanya sejak itu, rada doyan dengan teh tawar dimanapun berada. Hehehe

Terus ditanya pula pilih mana rok Manggo ama rok Hongkong yang lebih murah beberapa puluh ribu. Jelas pilih yang lebih murah dong. I’m not into branded that much. Coba aja pertanyaannya bukan rok, tapi mereka tanya tentang sepatu atau dompet. Aku bakal ketauan tidak hematnya. Kayaknya untuk sepatu dan dompet, aku masih cukup mengejar merek merek tertentu (hmm, makasih ya, Bang, udah nemenin dapetin itu Esprit untuk gentiin Esprit lama yang udah bulukan itu, walopun ternyata itu tuh dompet cowok bo!entar entar mungkin mau ikut beliin ya....).

Manik ama Candra juga nanya soal kartu diskon didalam dompet. Paling aib adalah masih ada kartu student di Erasmus dulu, yang kebetulan tidak ada tanggal masa berlaku, karena pake barcode. Kalo di Belanda sana, udah ketauan kalo itu kartu udah tidak berlaku, tapi disini kan gak ketauan. Walhasil, walaupun bukan pelajar lagi, masih bisa dapet diskon pelajar buat arung jeram atau buat bowling. Hehehehe…. Maap maap, bener bener hemat atau pelit ya. Kacow kacow

Ditanya punya celengan enggak? Jelas jawabannya adalah punya. Itu celengan dari Widya, berbentuk smurf, dan kadang aku masukin uang kertas untuk keperluan tidak terduga, seperti beli indomie dikala kelaparan di rumah. Kekacauan lainnya nih!

Begitulah 1001 pertanyaan dikeluarkan buat nguji aku ini hemat atau enggak. Mereka tertipu. Karena sms yang masuk menobatkan aku lebih hemat dari lawanku yang aku yakin banget jauh lebih hemat dari aku!

Salah sendiri gak kasih pertanyaan:
Pilih mana: Nabung atau nongkrong di Potluck
Pilih mana: Nyewa VCD atau nonton di Bioskop!


pssttt...untung mereka gak tau tentang ketergantungan aku terhadap film bioskop dan potluck. Phfff

Bangun tidur kuterus mandi...

Aduh, bobonya gak enak banget banget!
Semalem kebangun-bangun entah berapa kali, badanku gatel-gatel semuanya.
Huh, ini pasti gara gara si biang yang bobo di selimutku sebelum dimandiin.
Walhasil, udah mah bentol bentol, pegel leher dan pegel punggung.

Mendingan makan roti bakar pake coklat aja dulu...hmmm...enakkk


Obat Pahit

Terkadang, butuh waktu untuk bisa mencerna semua hal yang orang berikan untuk kita. Terutama kritikan pedas yang memang sangat kita butuhkan atau kritikan pahit ya? Seperti obat pahit yang harus kita minum pas lagi kita sakit (soalnya kalo pedes sih, aku doyan).

Banyak hal melintas tapi aku lewatkan begitu saja, beberapa hari terakhir ini. Entah kenapa. Males banget buat ngapa-ngapain, bahkan untuk mikir. Ini sih gawat sekali. Orang hidup gak bisa tanpa tujuan dan tanpa semangat, tapi itu yang kerasa.

Aku bersyukur atas teman-teman disekitarku. Sayangnya, saat ini rasanya mereka semua jauh banget dari aku. Jadi, abanglah yang terutama aku syukuri saat ini.

Kesamaan diantara kami, membuat dia bisa lebih waspada melihat gejala gejala buruk yang sedang aku alami. Lebih galak, lebih keras untuk mengingatkan aku untuk bangun dari segala “ketidakpuguhan” ini. Makasih ya, Bang (walaupun aku tahu, dia gak pernah baca blog aku).

Entah kenapa, aku lebih sering mengeluarkan sikap “defence”, sikap melawan ketika dibilangin, padahal aku tahu pasti bahwa apa yang diungkapkan tentang aku itu emang bener. Seringkali aku lebih sering ingin memberi kesan bahwa aku “ngeyel”, “keukeuh”, “ngotot” dan kemudian aku akan tunjukkan bahwa aku mencerna semua kritik yang datang. Tapi gengsi aku, bahwa aku akan merubah sesuatu berdasarkan ucapan seseorang terlalu besar. Kacau ya! Aku takut aja, kadang, kalo aku terlalu cepat bilang iya, mengiyakan atau menjanjikan sesuatu, justru itu tidak tercapai, karena aku terlalu cepat dan tidak betul betul memikirkan hambatan yang ada, terlalu semangat tanpa sikap realistis. Sering banget, justru disaat aku bilang gak mungkin, sesuatu itu terwujud. Bisa jadi ini mitos yang aku percaya, jadi aja aku tersugesti dan jadi kejadian.

Apapun itu, aku tidak ingin mengecewakan orang orang yang aku cintai, yang juga mencintai aku dan aku tahu, menginginkan yang terbaik untuk aku. Mudah-mudahan, aku bisa terus menyadari itu, dan mudah-mudahan mereka juga bisa menyadari bahwa ini semua tidak mudah, untuk mempertemukan yang terbaik di pikiran kita dengan yang terbaik di pikiran orang orang yang kita cintai.

I love you, Pi.
I love you, Mi.
I love you, Abang.
(dan tentu saja, adik-adikku dan sobat sobat terbaikku)

can I walk with you

Although I don't feel like I'm in love and want to dedicate this love to someone, but I still want to write this song here. Well, it's been my favourite for the past couple of weeks. Really, I am not sure wheter I still want to say Can I walk with you or not.

"Can I Walk With You"

I woke up this morning you were the first thing on my mind
I don't know were it came from all I know is I need you in my life, yeah
You make me feel like I can be a better woman
If you just say you wanna take this friendship to another place

[Chorus:]
Can I walk with you through your life
Can I lay with you as your wife
Can I be your friend 'till the end
Can I walk with you through your life (fades away)
You've got me wondering if you know that I am wondering about you.

This feeling is so strong that I can't imagine you're not feeling it too.
You've known me long enough to trust that I want what's best for you.
If you want to be happy then I am the one that you should give your heart to.

[Chorus]

Now everyday ain't gonna be like the summers day.
Being in love it really ain't like the movies screen.
But I can tell you all the drama aside
you And I can find what the worlds been looking for forever.
Friendship and love together.

[Chorus]
Can I walk with you in your life?
Till the day that the world stops spinning.
Can I walk with you in your life?
Till the day that my heart stops beating.
Can I walk with you in your life?
Can I walk with you
Till the day that the birds no longer take flight
Till the moon is underwater
Can I walk with you
Can I walk with you
This is the moment I've been waiting for
Can I walk with you
Can I walk with you
Can I walk with you
You are everything I've been looking for
Can I walk with you
Creative intellectual
Can I walk with you
Can I walk with you as your wife

taken from http://www.azlyrics.com/lyrics/indiaarie/caniwalkwithyou.html
19 October 2004 7:46 a.m.

18.10.04

Pekerjaan Tetap

Pekerjaan tetap.
Salah gak kalo dibilang sebagai idaman hampir semua orang, terutama orang orang yang sudah tidak lagi berstatus belajar (dalam artian pendidikan formal, seperti bukan lagi mahasiswa).

Semua orang ingin punya pekerjaan tetap. Bahkan seringkali cita cita masa kecil itu identik dengan pekerjaan tetap, menurut aku. Apa sih cita-cita kamu? Jadi polisi, jadi dokter, jadi menteri bahkan. Cita-cita adalah apa yang kita bayangkan akan kita kerjakan di masa datang, dan biasanya cita cita itu berbentuk pekerjaan (tetap). Jarang ada anak kecil yang bercita-cita untuk menolong orang, tetapi dia bisa saja bercita cita jadi dokter, supaya bisa menolong orang sakit, misalnya.

Ada pekerjaan tetap, berarti ada pekerjaan tidak tetap. Ada yang punya pekerjaan tidak tetap bahkan ketika masih bersekolah (dan gak sedikit juga yang punya pekerjaan tetap juga ketika bersekolah). Kalau di film-film nih, yang kebayang itu mahasiswa/ pelajar bekerja di restoran cepat saji, jadi tenaga part-time deh istilahnya (kebetulan sedang baca negeri fast food di bagian tenaga kerja anak muda di restoran-restoran cepat saji di Amerika).

Kalau pekerjaan identik dengan uang yang diterima, aku sudah mulai punya pekerjaan tidak tetap sejak SD. Pekerjaan atau usaha, ya? Itu tuh waktu aku memanfaatkan perpustakaan pribadiku dengan menyewakan buku-buku cerita yang aku punya ke teman teman SD-ku. Untuk seorang anak SD yang tidak pernah dapat uang saku, ini kegiatan menguntungkan, karena aku bisa beli nasi kuning di warung SD sebelah, plus masih ada sisa ini itu, buat beli buku lagi tentunya!

Semakin mendekati SMP, pekerjaan tidak tetapku beralih membantu papi membuat bahan-bahan kuliah. Aku menuliskan bahan kuliah di transparansi, menggantikan tulisan papi yang sangat butuh interpreter untuk bisa mengartikannya. Masih ingat, untuk penulisan satu halaman transparansi, aku mendapat Rp 1.000,-. Bayangkan saja seribu rupiah di tahun 1987-1989-an itu artinya besar banget loh. Pekerjaan ini rasanya aku lakukan sampe hampir lulus SMA, walaupun upahnya tidak lagi tepat seribu per lembar tetapi lebih sering dirapel, dan gak jarang pake diskon. Yah, untuk papi sendiri, sudahlah. Lagi pula, komputer mulai mengambil alih pekerjaanku, karena tinggal aku ketik, print dan kemudian difotokopi transparansi. Bahkan sekarang, sudah tinggal ketik di laptop. Cara berbeda, tapi sampai detik ini pekerjaan ini masih sering aku lakukan, walaupun sekarang sudah tanpa dibayar lagi.

Ketika aku SMA, aku sering membuat kartu ucapan. Pekerjaankah itu? Entahlah. Aku mendapat sedikit duit, tapi banyak sekali kepuasan.

Masa-masa kuliah, diisi dengan berbagai kegiatan, termasuk jadi asisten dosen. Pekerjaan tidak tetap lainnya yang aku lakukan sambil kuliah. Gaji? Wuih jangan ditanya! Lebih sering dirapel dengan jumlah yang tidak bisa ditebak. Terkadang harus masuk memberi asistensi atau masuk untuk mengawasi ujian (yang terakhir justru lebih menghasilkan duit). Terkadang ikut lomba karya ilmiah misalnya, juga bisa menghasilkan duit. Tapi rasanya itu tidak bisa dibilang pekerjaan yang kemudian menghasilkan duit.

Kerja praktek, judulnya saja sudah ada kata “kerja”. Bentuk pekerjaan lain yang difasilitasi oleh kampus (atau diwajibkan oleh kampus ya kata yang tepat?). Aku bekerja di Dinas PU Propinsi Jawa Barat. Gaji yang diterima kalau tidak salah Rp 50.000,- yang bahkan tidak cukup untuk mengganti ongkos transportasi dan ongkos makan siang aku. Apalagi waktu itu persis bulan Juni-Agustus 1997, pas krismon mulai unjuk gigi. Disitu aku melihat satu jenis pekerjaan yang konon diminati banyak orang: PNS, pegawai negeri sipil. Bukannya jadi ingin menjadi seorang PNS, justru pengalaman di tempat itu memperkuat keyakinanku untuk tidak menjadi seorang PNS. Rasanya pilihan untuk bekerja di situ harus diikuti keyakinan dan keteguhan hati yang kuat. Aku harus mampu ikut arus, yang justru tidak ingin aku lakukan, atau melawan arus, yang sama saja dengan cari mati. Mungkin bisa saja, arus itu gak perlu dilawan, tapi kita coba ikuti, sambil tetap berpegang dengan keyakinan kita. Tapi kok rasanya aku tidak sekuat itu.

Setelah lulus, pekerjaan tetap pertama, aku lakukan hanya 2 hari setelah hari wisudaku. Menjadi asisten salah satu dosenku, mengerjakan beberapa penelitian yang dia lakukan sehubungan dengan disertasi dia. Tidak lama, aku dan seorang temanku, segera ditarik untuk bekerja menjadi asisten peneliti di Pusat Penelitian Kepariwisataan ITB (P2Par ITB). Gaji pertama habis untuk traktir teman teman yang kebetulan saat itu belum pada bekerja, dan juga keluarga, serta kebutuhan sehari-hari. Aku bekerja penuh selama hampir 1,5 tahun, sampai akhirnya aku berangkat bersekolah ke Belanda. Di bulan-bulan terakhir aku bekerja disana, aku sudah mulai gelisah, sudah mulai ingin berpindah tempat, sudah mulai bosan dengan rutinitas yang ada, walopun tidak ada yang salah dengan tempat bekerjaku, apalagi lingkungan kerjaku yang memang mengasyikan (saat itu!). Materi pekerjaanpun sesuatu yang aku sukai.

Selama aku kuliah di Belanda, aku juga sempat bekerja. Pertama, aku bekerja membantu seorang teman di Indonesia untuk menjadi koresponden mereka di Belanda. Aku harus mengirimkan begitu banyak surat untuk mempromosikan kegiatan wisata di Indonesia. Pekerjaan yang tidak sulit, tapi cukup memakan waktu, dengan bayaran yang cukup baik, walaupun sempat tertunda sangat lama. Kedua, aku bekerja untuk dua buah kampus, melakukan survey primer yang kebetulan juga terkait dengan thesis aku. Dengan kemampuan bahasa Belanda yang nyaris nol, aku cukup nekat untuk mendatangi orang memberi kuesioner dalam bahasa Belanda bertanya tentang Rotterdam as European Cultural Capital 2000.

Kembali dari Belanda, aku memutuskan untuk berlibur dulu selama kurang lebih 3 bulan. Hanya bersenang-senang, atau tepatnya menghabiskan tabungan aku selama di Belanda. Sampai akhirnya aku bosan, dan mulai mencari-cari pekerjaan. Ada beberapa tawaran, dan bahkan sempat menjadi asisten seorang kandidat PhD dari Malaysia yang tengah bekerja di Aseansec, sebelum akhirnya aku memutuskan kembali ke P2Par untuk mengerjakan satu penelitian yang cukup menarik di Kalimantan. Ternyata, ketika aku menerima tawaran P2Par, aku juga diterima untuk menjadi dosen tetap di Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi Unpar. Senang sekali. Memang, mereka bilang, karena beberapa hal, mereka tidak mungkin langsung mengangkat aku menjadi dosen tetap, tetapi akan mencoba aku dulu selama 1 atau 2 semester. Karena itu, aku meminta ijin ke P2Par untuk bekerja hanya 80% dengan gaji juga yang dipotong 20% untuk bisa mengajar di Unpar. Aku harus melakukan penelitian tentang Tanjung Batu di Kalimantan Timur dan juga mengajar Teori Ekonomi Makro. Menyenangkan sekali, walaupun deg-deg-an tiap kali harus mengajar.

Memasuki semester kedua-ku di Unpar, dan memasuki bulan terakhirku bekerja di P2Par, aku mencoba satu pekerjaan lain yang pernah sangat aku idam-idamkan waktu kecil: menjadi penyiar. Aku diterima di sebuah radio swasta di Bandung: Her Radio. Pada saat yang sama, aku juga menerima tawaran untuk mengajar di Jurusan Teknik Planologi di Unpas, untuk mengajar Metoda Analisis Perencanaan dan Studio Perencanaan Kota. Saat itu, aku melepas pekerjaan tetap (kalau bisa dibilang begitu) di P2Par, dan mencoba berbagai pekerjaan tidak tetap. Di Unpar, aku bukan dosen tetap, di Unpas juga demikian dan pekerjaan di radio pun lebih jelas lagi bukan pekerjaan tetap. Saat itu, semester itu, sungguh, aku sangat menikmati hidup aku, menyenangkan sekali. Mengerjakan semua hal yang memang aku cintai, aku senangi, aku impikan, punya waktu cukup untuk pacaran, untuk bergaul dengan teman-teman lama, dan masih banyak lagi. Soal duit, memang gak mudah, aku harus hemat, karena tidak ada satu pun dari pekerjaan tersebut yang bisa menanggung seluruh kebutuhan sehari-hariku, kecuali aku sangat berhemat. Lebih sulit lagi, ketika orang bertanya, apa pekerjaanku! Untuk aku sendiri, aku bisa menjawab dengan santai, dan tidak ambil pusinglah. Tetapi sulit ketika orang tua ditanyakan oleh orang orang, apa sih pekerjaan anaknya! Usiaku 26 menjelang 27 tahun, dengan gelar ini itu yang entah kenapa sangat dipedulikan orang-orang (gak penting banget gitu loh!), dan asik asik aja dengan hidup seperti itu, tanpa pekerjaan tetap! Hei, apa peduli orang-orang sih, aku sangat bahagia!

Akhir semester keduaku di Unpar berakhir kurang menyenangkan, karena tanpa alasan yang cukup jelas (alias, menurut aku, dibuat-buat) aku tidak menjadi dosen tetap di Unpar. Agak kaget dan cukup sedih sekali. Saat itu, aku tengah libur mengajar di Unpas, dan boleh dibilang tanpa aktivitas apapun, sampai sampai aku jatuh sakit. Kulupakan Unpar yang tadinya cukup aku harapkan, walaupun juga cukup aku ragukan, untuk berkonsentrasi mengajar di Unpas, sambil siaran, dan untunglah ada tawaran satu dua untuk ikut terlibat dalam proyek-proyek yang cukup bisa mengisi pundi-pundi. Aku mulai sering bolak balik Jakarta Bandung. Bekerja untuk sebuah konsultan swasta, sebuah konsultan asing, sebuah instansi pemerintah pusat, institusi donor internasional dan juga sempat untuk sebuah lembaga penelitian sebuah universitas negeri terkenal di Jakarta. Terkadang aku juga menerima tawaran pekerjaan sehari dua hari yang menyenangkan yang datang dari tempat tempat tidak terduga J Semua kujalani dengan senang hati dan sangat enjoy. Itu kulakukan selama hampir 1,5 tahun terakhir ini.

Bahagia? Iya.
Puas? Sedikit kekurangan disana sini, tapi aku cukup puas.

Tapi, kembali, apapun itu aku ini sebetulnya bisa dibilang pengangguran, tanpa pekerjaan tetap. Kartu namaku sampai saat ini personal, tanpa embel-embel apapun, pekerjaan dan apalagi gelar (gak perlu banget, deh!). Aku gak pernah pusing dengan itu, walaupun di keluargaku (khususnya perlu dibaca tegas: keluarga BATAKku) seringkali dipertanyakan. Dengan usiaku, dengan jenjang pendidikanku, dengan sekolahku ke Belanda, dan terutama dengan statusku yang masih belum menikah! Tampaknya, orang tanpa pekerjaan tetap, masih dianggap belum mencapai apapun, belum berhasil barangkali. Tampaknya kondisi aku ini gak jauh beda dengan status pengangguran. Bisa jadi orangtuaku pun tidak akan pernah lega dan merasa puas selama aku masih seperti ini. Bisa jadi, lingkunganku tetap menganggap aku aneh dengan gaya hidupku yang kelewat santai.

Hi hi, it’s not that I don’t want a steady life, a settled one!

Pekerjaan tetap yang ada di bayanganku adalah mengajar. Berada di kampus. Berada diantara orang orang yang tengah menimba ilmu di bangku pendidikan formal. Tapi tampaknya, kapasitas aku dianggap belum memenuhi syarat? Aku ini bukanlah lulusan cum laude, bukanlah manusia pintar (Kesel deh kalo inget ini, soalnya seringkali orang melihat aku dengan predikat dosen yang kemudian langsung dihubungkan dengan tingkat kepintaran otakku yang sama sekali tidak berhubungan, apalagi kalo ternyata kondisin ini sering membuat orang tidak pede berhadapan dengan aku. Huh!). IPK aku itu hanya nyaris 3, kurang 0,04. Tapi apapun itu, IPK-ku bukan 3. Begitu juga untuk IP S2ku yang juga hanya 7,5. Pas-pas-an. Itulah aku.

Aku sudah mencoba bekerja penuh waktu, bekerja tetap di sebuah lembaga penelitian, di sebuah instansi pemerintah, di sebuah kantor konsultan swasta, semua sudah aku coba, kumplit dengan rutinitasnya.

Seberapa penting sih sebuah pekerjaan tetap?

Memang, aku musti akui, kondisi ini sering membuat aku tidak fokus dalam mengerjakan banyak hal. Tapi ada satu hal yang lebih “tetap” lagi yang lebih aku inginkan. Kehidupan yang lebih tetap, settle down, begitu bukan ya istilahnya?

Entahlah, mungkin aku musti benerin CV aku lagi. Jadi kalo butuh pegawai, kontak aku aja ya.

16.10.04

Monalisa Smile

Pernah nonton Monalisa Smile?
Bisa jadi aku rada telat nonton ini film, maklum, waktu itu rasanya lagi di tengah tengah kerjaan KKPN yang tidak memungkinkan aku untuk melihat dunia luar J untuk meminjam beberapa bulan lalu, aku masih berat untuk minjem bajakannya, dengan 1001 alasannya deh.

Julia Robert sebagai Katherine Watson yang seorang guru untuk mata kuliah History Art, yang diterima untuk mengajar di sebuah sekolah yang sangat konvensional bernama Wellesley.

Film ini bikin aku cukup tergugah dan sedih tapi juga bahagia dan bertanya-tanya. Film ini mengambil setting tahun 1953, dengan obrolan seputar mengajar dan mengejar impian, serta persamaan hak perempuan.

Jadi keinget awal-awal ngajar penuh sebagai seorang dosen, bukan sebagai asisten dosen. Perasaan senang, semangat, antusias dan juga kekuatiran bahwa aku gak bisa ngasih yang mereka butuh. Nah, si Katherine Watson juga punya segudang impian untuk memberi banyak hal ke siswi siswi di Wellesley. Tapi, duh, gak kebayang banget perasaan dia, waktu pertama ngajar. Ternyata seluruh (iya, iya, SELURUH) siswi itu sudah membaca SELURUH bacaan wajib dan juga bacaan tambahannya. Setengah iri hati, karena itu tidak pernah terjadi deh kayaknya di dunia nyata yang aku jalani. Setiap slide yang dipasang oleh Katherine, bisa dikenali dengan mudah oleh seisi kelas, berikut komentar, kritikan yang tentu saja mereka telah baca dari buku buku teks yang ada di silabus mata kuliah History of Art itu.

Kuliah kedua, Katherine datang dengan metoda baru, dia membawa slide yang bukan dari buku buku teks. Jelas semua kaget. Katherine menantang mereka. Dia bilang,’It’s not in sylabus”. Dilanjutkan dengan,” Is it any good? There’s no wrong answer, no text book to tell.”

Kita memang terbiasa (setidaknya Melly deh) untuk takut mengeluarkan jawaban, komentar, kritikan terhadap apapun. Ketakutan akan memberi jawaban yang salah, jawaban yang bodoh, yang mempermalukan kita. Lebih enak dan lebih percaya diri, ketika kita sudah membaca buku teks, dan ingat apa isi buku teks tersebut dan berkomentar berdasarkan buku teks tersebut. Padahal, tidak bisa seperti itu, kan.

Di kelas, sangat sulit untuk membangun suasana belajar mengajar, dimana semua bisa antusias mengikuti pelajaran. Bertanya atau menjawab, atau apapun sekedar untuk mengeluarkan suara di kelas. Hampir tidak pernah. Terkecuali untuk protes ketika tiba tiba ada kuis mendadak, atau ada tugas yang belum selesai dikerjakan!

Aku juga diingatkan, bahwa seringkali buku teks begitu menjadi patokan untuk banyak hal, dan tidak membiarkan otak kita berpikir bebas, sebagaimana otak kita inginkan, di luar apa yang dikatakan oleh buku buku teks tersebut.

Kembali ke Monalisa Smile, slide yang ditampilkan oleh Katherine adalah gambar sebuah seni modern yang abstrak dan hampir seluruh isi kelas: menjijikan. Menurut Betty Warren, salah seorang siswi berpengaruh yang juga adalah putri kepala komite alumni, untuk semua seni dia bilang, ”There are standards, techniques, composition, color, even subject.” Ketika ditanya lebih lanjut apa sih yang membuat sebuah seni itu bagus atau buruk, Betty bilang,”Art isn’t art until someone say it is”. Someone disini jelas mengacu kepada “The right people”.

Sebetulnya siapa sih “the right people” itu? Siapa yang punya wewenang untuk mengatakan buruk atau bagus? Untuk banyak hal dalam kehidupan kita, kapankah suatu hasil itu baik atau buruk? Siapa yang berhak menghakimi hidup kita?

Ketika Katherine membawa mereka melihat lukisan Pollock, dia ingin membawa murid-muridnya untuk membuka hati dan pikiran kepada ide ide baru. Siswinya terhenyak, dan mulai berbisik bisik cemas. Cemas untuk disuruh membuat ulasan tentang itu. Tahukah apa kata Katherine?
Let us open our mind to a new idea
You are not required to write a paper
You are not even reqired to like it
But you are required to consider it


Terkadang sulit untuk kita buat nerima hal hal baru dalam kehidupan kita. Sulit menerima ada hal hal lain di luar mainstream yang kita kenal. Ada banyak hal yang berbeda dengan apa yang biasa kita ketahui, kita lihat, kita percaya. Tapi apakah itu berarti bahwa hal lain itu buruk dan salah? Bisakah kita berupaya tidak menilai begitu saja tetapi berupaya setidaknya mempertimbangkannya saja. Tidak perlu menyukainya, cobalah untuk mengenalinya. Tetapi seringkali, sesuatu yang berbeda itu kita anggap sebagai sebuah musuh, sebuah ancaman yang harus dicegah, dibuang jauh-jauh, diperangi sampai mati kalau perlu. Tanpa ada keinginan untuk tahu sedikit lebih jauh.


Terkadang, hal yang berbeda terjadi karena hal itu memang belum bisa kita tangkap dengan daya pikir kita yang terbatas, dengan otak kita yang memang tidak pernah sempurna. Tahu Vincent Van Gogh kan? Aku suka banget lukisan dia, terutama yang kamar tidur. Aku suka karena begitu cerah warnanya, ceria, walopun itu gambar yang sedih. Nah, sebuah percakapan antara Katherine dan murid-muridnya juga melibatkan pelukis Belanda yang satu ini.

Vincent van Gogh
He painted what he felt not what he saw. People didn’t understand, to them it seemed like childlike and crude. It took years for them to recognize his actual technique to see the way he brush strokes seemed to make the night sky move. Yet, he never sold a painting in his lifetime. This is his selfportrait. There is no camouflage, no romance, honesty

Now, 60 years later, where is he? FAMOUS. So famous in fact, that everybody has a reproduction. There are postcards, we have calendar. With the ability to reproduce art, it is available to the masses. No one needs to own a Van Gogh original. The can paint their own, Van gogh in a box. The newest form of mass-distributed art: van gogh by numbers.

Ironic, isn’t? Look at what we have done to the man who refused to conform his ideals to popular taste. Who refused to compromise his integrity. We have put him in a tiny box and asked you to copy him. So the choice is yours. You can conform to what other pople expect or you can be ourselves.

Terutama dua kalimat terakhir, sesuatu yang sangat sangat sulit untuk bisa dilakukan. Kita punya pilihan yang seharusnya hak kita, tapi seringkali hal itu sulit sekali dilakukan. Sulit sekali untuk betul betul membuat pilihan tanpa memikirkan apa yang orang harapkan. Sulit.

Seperti percakapan Betty dan ibunya tentang lukisan Monalisa
Betty: “She’s smiling. Is she happy?
Mom: “The important thing is not to tell anyone!”
Betty: “She looks happy. So what does it matter”
Mom: “Don’t wash your dirty laundry in public”.

Betulkah? Betulkah bahwa ini juga yang sedang kita lakukan. Biarlah orang bisa melihat kita tampak bahagia, tampak sebahagia senyum Monalisa, tetapi entahlah apa yang sebetulnya kita rasakan di dalam hati kita. Apapun itu, selama publik tidak mengetahuinya, selama orang lain tidak tahu, kita menjadi Monalisa yang selalu tersenyum dan bertindak sebagaimana yang diharapkan orang?

To change for other is to lie to yourself.
Not all who wander are aimless. Especially not those who seek truth beyond tradition, beyond definition, beyond the image


(masih banyak yang muncul dari film ini, mungkin nanti masih akan terus berlanjut)

13.10.04

Jujur tapi mampus?!?

Tahu BSB?
Backstreetboys.
Tapi, maaf maaf saja, bukan fans BSB kalau dihubungkan dengan backstreetboys. Tapi kok kayaknya fans aja ama hubungan-hubungan backstreet.

Entah kenapa, setelah berabad-abad berada di dalam hubungan seperti itu *hey, udah tau hiperbolis-nya seorang melly kan* untuk kali ini, aku pengen brenti aja. Apapun halangan di depan mata, kayaknya lebih baik dihadapi sajalah.

Wuih, sok PD banget ya ngejawabnya!

Beneran gak gampang bener. Seharian kemarin, aku musti muter muter ama mami. Ini, nih, pekerjaan luar biasa beratnya. Lebih baik disuruh ngajar seharian, disuruh siaran seharian, atau kerja lagi ngurusin KKPN daripada musti nganter nganter mami. Kerjaan yang butuh batin dan fisik yang kuat *hiperbolis...hiperbolis... remember?*

Untuk ngurus STNK, yang mana dia menolak lewat agen, buat apa lewat agen kalau mami selalu berhasil menembus birokrasi dan aturan dan orang orang seribet apapun? Walhasil, bolak balik ke beberapa tempat, karena ada ada aja yang lupa dibawa atau disiapin. Udah gitu, masih harus nemenin belanja, ke You, ke kantor papi, ke bank, dan ke salon.

Terus, balik ke tiga paragraf sebelumnya, aku pikir, ini kesempatan buat cerita aja ama mami. Padahal biasanya, cukup 15 menit, pasti suka udah ribut. Mendingan gak ngobrol daripada malah jadi kesel! Sedangkan kemarin, udah pasti akan seharian dan plus, ada niatan ngobrol. Apa gak salah tuh? Gitu kali ya bayangan gue sendiri yang sampe panas dingin dan lemes banget ngebayangin *mau ngobrol* itu.

Pernah musti nembak cewek/ cowok, menyatakan cinta, di jaman jaman smp atau sma? Aku sih belum pernah, tapi aku yakin banget, itu perasaan yang aku alami selama seharian itu.

Ngobrol awal masih enak. Aku cerita soal hubunganku ama Made yang udah kandas. Tidak terlalu detail, setidaknya, tidak perlulah dia tahu berapa abad sih aku berhubungan ama dia, dan cerita cerita detail lain, yang biasanya jadi bahan curhatan gitu. Jelaslah reaksi mami terlalu bisa diprediksi. Walaupun gak marah-marah, gak tereak-tereak, dia memberi (kembali) seribu satu alasan kenapa hubungan itu tidak bisa dilakukan, dilihat dari banyak sisi (dipikir-pikir, kayak analisis SWOT aja, atau bahkan kayak feasibility study yang cukup dalam deh). Berlanjut ke pria pria yang selama ini dicoba dikenalkan ke aku yang memang tidak berlanjut. Jangan ditanya deh, apa apa saja yang terlontar dari mulut mami. Intinya memang harapan semua orang tua untuk anak anak mereka.

Tapi, aku belum bisa sampe ke obrolan utama, keinginan utama aku untuk ngobrol dengan mami. Butuh, hampir 10 jam untuk akhirnya sampai ke obrolan itu. Di mobil, ketika kita tidak perlu bertemu muka dengan muka, dan matahari sudah lama lagi masuk ke peraduannya. Dan, tentu saja, sebuah bentuk penolakan segera keluar. Gak cukup sampai disitu, gak lama, papi juga harus ketemu dengan aku, untuk klarifikasi, pembekalan dan hal hal lain.

Aku hanya mencoba untuk jujur. Aku tidak ingin main belakang. Aku ingin orangtuaku tahu persis dengan siapa aku jalan. Aku gak minta (well, belum kali ya) dikawinin (menurut UU Perkawinan, yang tepat itu kawin loh). Aku hanya mencoba mendapat kesempatan untuk bisa jalan dengan seseorang, yang aku bisa hidup bersama dengan dan mudah2an dia juga bisa hidup bersama dengan aku. Seseorang dengan segudang mimpi dan harapan, sebagaimana juga aku yang hidup untuk segudang mimpi dan harapan. Seseorang yang membuat aku begitu bersemangat, selalu menjadi lebih baik, selalu bikin aku kangen, kesel, gemas, marah dan 1001 emosi lainnya. Seseorang yang aku tahu, bukan orang yang tanpa cacat dan bukan orang yang sempurna, tapi jujur untuk mengakui itu semua dan mau berjuang untuk hal yang dipercayainya. Tidak mudah menyerah, dan terus berpikir untuk menjadi lebih baik. Seseorang yang sayangnya hidup dengan banyak stigma dan praduga dari orang orang sekitarnya.

Tapi sulit sekali. Orang tua cenderung malah ketakutan.

Adik-adikku bilang, itulah nasib jadi kesayangan papi. Dia begitu overprotective buat aku. Untuk banyak hal. Ketika hal yang sama musti terjadi pada diri adik-adikku, mereka tidak akan sebegitu panik dan sebegitu kesal. Berbeda dengan diriku, yang sedari kecil memang hidup dengan segudang harapan dari orangtua. Mimpi-mimpi yang menurut mereka bisa aku wujudkan.

Tidak ada orang yang sempurna. Abang bisa jadi punya 1001 kekurangan dan kelemahan, tapi juga punya 1001 kelebihan lainnya. Juga diriku, juga semua orang lainnya.

Aku gak nyesel sudah berkata jujur untuk itu. Walaupun kemungkinan besar, setiap pertemuanku dengan Abang akan tetap didampingin keluarga. Adikku akan menjadi bodyguardku? Tidak apa apa. Tokh tidak ada apapun yang kami lakukan yang tidak pada batasnya. Tidak ada tempat pertemuan yang kami sembunyikan. Potluck atau Sukaasih. Hanya dua tempat itu. Aku berupaya jujur untuk banyak hal.

Aku sadar, hubungan ini butuh perjuangan yang gak kira kira. Mudah-mudahan aku cukup kuat. Mudah-mudahan abang juga kuat.

5.10.04

Komputer Baru

Asik, sebentar lagi komputer baru dateng!
Sebetulnya, sedih, untuk ngelepas komputer lama.
Bukan saja karena itu komputer sebetulnya cukup menyenangkan tapi sebetulnya sih, masih sesuailah dengan kebutuhanku selama ini.

Pentium III 733
Ram 128
Motherboard Asus CUBX
VGA 32MB bukan share
HD 20GB SeagateCD Rom
CDRW TEAC 52x
Soundcard Yamaha gak onboard
TV Turner
Modem external
Monitor 17"

Awalnya dibilang paling mahal laku 1,2 juta saja.
Huh, ternyata bisa sampe hampir 1,7 juta kok!
Karena dua CD dan monitor? Entah.
Sekarang ganti dengan

Pentium IV 1,2
Motherboard 848P-A
DDR 256
VGA GeForce4 64MB
HD 40GB Seagate Barracuda
DVD (untung punya eksternal CDRW yang TDK)
ATW 350 WTv Turner (teteup, wajib banget)
Monitor 17" flat Samsung

Hasilnya: bangkrut berat.
Ini berarti, komputer baru harus bisa balik modal!

Sayang, bluetooth-nya sedang kosong.
Hiks

4.10.04

Anonymous

Aku seneng banget, dapet komentar baru.
Sayangnya itu tuh Anonymous

Coba aja aku tahu namanya ya?
Kalo liat lagi, mau tau dong namanya

Kadang, menyenangkan menjadi orang yang anonymous.
Tidak dikenal.
Apalagi ada diantara sekumpulan orang, yang kita sendiri cukup tahu latar belakangnya, tapi mereka tidak tahu latar belakang kita.

Beberapa waktu lalu, aku maen ke Lesehan. Salah satu warung buku baru di Imam Bonjol. Karena selama beberapa bulan terakhir, aku sering main ke toko buku toko buku itu, juga kenal dengan orang orang baru di lingkungan itu, aku juga sudah dengar beberapa informasi tentang Lesehan, dan beberapa orang di dalamnya. Asiknya, mereka tidak tahu apapun tentang aku. Jadilah, salah satu temanku membuat cerita tentang latar belakang aku, yang jelas jelas menyesatkan! Jadilah aku seorang Mellyana yang agak agak aktivis kali ya. Ngakak deh. Herannya, waktu dikasih sedikit informasi yang sangat benar, malah tidak dipercaya! Waktu dibilang dosen, malah disangka becanda. Dia pikir, aku ini kerja di universitas, tapi di bagian administrasi. Jadi siapa yang salah dong :)

Sudahlah.
Hari ini masih sakit gigi, karena baru dikencengin kawatnya. Mood asik.

1.10.04

BeTe

BeTe


BeTe banget

Kesel banget

Ucapan yang kadang kadang suka jadi garing buat aku
Tapi hari ini, aku bener bener BT!

Dari kemarin, entah kenapa, mood naik turun. Kurang semangat untuk ngejalanin banyak hal. Kayaknya sumber semangatku lagi hilang entah kemana (padahal kayaknya gak kemana-mana kok). Pagi-pagi tadi juga semakin parah. Mungkin karena musti kasih kuliah yang sebetulnya bukan bagian aku, dan salahku sendiri dari kemarin males mempersiapkan itu semua. Walhasil panik dan kemalasan yang begitu tinggi membuat aku gak bergairah untuk mengerjakan banyak hal.

Ealahhh, musti disisipin ama kekesalan.

Kesal, yang kemudian ujung ujungnya berakhir sedih seperti biasa.
Kesal, karena kegiatan yang justru aku pikir bisa menenangkan diriku, dan bisa membuat aku bersemangat justru berbalik membuat aku semakin marah. Salah aku? Bisa jadi iya. Saat ini malah merembet.

Katanya, semangat bisa sangat besar dan bahkan mengagetkan ketika ada cinta didalamnya. Cinta bisa membuat kita mampu melakukan hal-hal yang tampaknya tidak mampu kita lakukan atau biasanya berat kita lakukan. Cinta orangtua membuat banyak hal yang tampaknya tidak mungkin dilakukan, ternyata mampu dilakukan oleh orang tua kita. Cinta teman teman membuat persahabatan tidak mengenal waktu dan kondisi juga. Cinta Tuhan terutama, adalah Cinta Agape yang tidak bisa dikomentari apapun olehku.

Diluar cinta yang kayak gitu, aku seringkali meragukan cinta lawan jenis. Cinta yang menurutku kadang kali berpamrih, cinta karena, dan bukan cinta walaupun. Rasanya aku sulit percaya ada orang bilang mencintai diriku kalau dia bukan orang tua atau sahabatku.

Kali ini, aku jadi mempertanyakan cinta itu. Betulkah itu semua? Apakah juga berlebihan mengharapkan beberapa hal kecil yang sangat berarti, karena itu berarti aku mulai menuntut dan aku pikir itu tidak benar.

Sudahlah, bete ini mulai menyesakan dan mengambil energiku, aku harus bisa normal dalam waktu 2 jam sebelum ngajar....

Bete