25.9.04

Selamat Jalan, Abang

Kemarin, hari Sabtu 24 September 2004, Bang Ferry pergi dipanggil Bapa.

Setelah 10 hari berada di rumah sakit dan 7 hari dalam keadaan koma.Tepat pukul 18.25, seluruh bantuan pernapasan mulai dilepas satu-satu.Tepat pukul 18.30, abang pergi meninggalkan kami semua.Abang, memang sudah pernah kena stroke, yang membuat beberapa tahun ke belakang dalam kondisi setengah lumpuh di setengah badannya, tapi tidak mengurangi pelayanan yang dia lakukan untuk Tuhan. Sampai saat terakhir, Abang masih dikenal sebagai pendeta di GKKD.

Abang, udah aku kenal jauh ke belakang, ketika aku bahkan masih di Sekolah Dasar, waktu Abang masih pacaran dengan Kak Rita. Baik, tapi juga keras banget waktu berkhotbah. Tidak banyak bicara.
Di hari-hari terakhir, aku juga melihat kekuatan Kak Rita yang begitu luar biasa. Kekuatan yang aku yakin cuman karena Tuhan, cuman karena iman kepada Tuhan. Keyakinan yang luar biasa.

Kami semua sekeluarga, di awal koma Abang, memilih untuk melepas alat pernapasan yang membantu Abang. Awalnya memang sempat direncanakan untuk dioperasi, tapi karena kesadaran Abang yang melemah, rencana itu dibatalkan. Adanya beberapa perkembangan membuat alat tersebut tetap dipasang. Jumat malam, waktu aku sempat melihat Abang, hatiku sedih tapi juga tenang. Memegang kaki Abang yang sangat hangat, berdoa, dan tiba tiba hanya ingin bernyanyi. Saat itu kondisinya masih antara 17-20 tapi per berapanya, aku udah gak inget.Sabtu itu, kondisi Bandung macet banget, sampai mau ke Advent pun harus memutar jalan. Dari sabuga yang macet total, ke arah wastukencana. Tapi Abang memang sudah pergi saat itu. Air mata udah cuman keluar tanpa bisa aku bendung. Apalagi waktu melihat Abang di rumah sakit. Melihat Rachel yang terus menerus menangis, melihat Jojo yang begitu diam (mana sehari-harinya juga sudah pendiam). Mira yang tetap tenang, dan juga Kak Rita yang luar biasa kuat dan tenang. Aku yakin Tuhan sangat mengasihi Abang dan keluarga, dan Tuhan punya rencana dengan memanggil Abang terlebih dahulu.

Walaupun sedih, aku ingin mengucap syukur dan bernyanyi untuk itu. Tuhan sangat baik, dan Tuhan juga yang terus menjaga dan memelihara keluarga yang ditinggalkan.

Saat ini, karena kondisi rumah di Maleer yang sedang renovasi, Abang disemayamkan di Rumah Duka Borromeus. Belum tahu, jam berapa tepatnya akan dimakamkan hari ini. Bersamaan dengan HUT Kota Bandung.Tuhan, Engkau baik. Kuatkan kami semua.

Dan Tuhan, Engkau tahu kebutuhanku, bukan kebetulan bahwa hari ini Engkau menguatkan Melly lewat saat teduh lewat firmanMu.

2Korintus 5:1-8
1. Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.
2 Selama kita di dalam kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman sorgawi di atas tempat kediaman kita yang sekarang ini,
3 sebab dengan demikian kita berpakaian dan tidak kedapatan telanjang.
4 Sebab selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama, supaya yang fana itu ditelan oleh hidup.
5 Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita.
6 Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan,
7 -- sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat --
8 tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan.

Dave Egner menulis renungannya untuk ayat ini

Pada tanggal 28 Agustus 2003, sahabat saya Kurt De Haan, mantan redaktur pelaksana Our Daily Bread, meninggal karena serangan jantung ketika makan siang. Ketika mendengar berita itu, saya berkata kepada diri sendiri, "Ia di surga." Kata-kata itu sungguh menghibur saya.

Beberapa hari kemudian saya bercakap-cakap dengan mantan pendeta saya, Roy Williamson, yang berusia delapan puluhan. Saya menanyakan keadaan seorang pria di jemaat kami. "Ia sudah di surga," jawabnya. Saya lalu menanyakan seorang jemaat lain. "Wanita itu juga sudah di surga," jawabnya. Kemudian, dengan mata berbinar-binar, ia berkata, "Saya mengenal lebih banyak orang di surga daripada di dunia."

Kemudian saya merenungkan perkataan Pendeta Williamson itu. Ia sebenarnya dapat dengan mudah berkata, "Ia sudah meninggal," atau "Wanita itu sudah tiada." Namun, betapa meneguhkan saat mendengar bahwa orang kudus yang dikasihi Allah telah berada di surga. Alangkah bersukacitanya mengetahui bahwa ketika orang-orang yang memercayai Kristus meninggal, mereka langsung bersama Yesus! Rasul Paulus menjelaskannya demikian, "Tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan" (2 Korintus 5:8). Tak ada lagi rasa sakit, kesedihan, dan dosa. Yang ada hanyalah kedamaian, sukacita, dan kemuliaan.

Kita masih berdukacita ketika seorang percaya yang terkasih meninggal. Dukacita adalah ungkapan kasih. Tetapi pada hakikatnya ada sukacita yang tidak tergoyahkan, karena kita tahu orang yang kita kasihi ada di surga.

Amin!

No comments:

Post a Comment