29.9.04

Jadwal

I hate Monday
Saya benci hari Senin

Orang orang sih sering bilang kayak gitu ya. Tapi aku sendiri tidak begitu
tidak suka dengan Hari Senin. It's OK. Biasa-biasa aja. Waktu masih jadi
"pegawai" dengan jam kantor yang sangat tidak dinamis itu, aku lebih tidak
suka dengan hari Selasa. Hari yang betul betul tampak panjang dan
melelahkan. Hari Senin biasanya cukup menyenangkan, masih semangat untuk
memulai lembaran baru.

Tapi hari Senin kemarin, berbeda dengan rutinitas Senin yang biasa aku
lalui. Sekian lama suka suka, mulai minggu ini berencana dengan segudang
agenda kegiatan yang harus diturutin dong! Tapi ealaaa kok pake acara telat
bangun ya?

Ini nih agenda kegiatan awalnya

08.00 - 09.30 : Urusan ke Bank
BCA: ambil keyBCA, tindak lanjut pembayaran utang si pengambil atm
Mandiri: transfer, cek internet banking yang ngadat

*semuanya gagal total gara gara telat bangun dan baru berangkat jam 09.30
ke Unpas*

09.30 - 10.00 : Perjalanan ke Unpas
10.00 - 11.30 : Asistensi Masalah Perencanaan

*Salah berat, ternyata asistensinya jam 12.00, jadinya waktu ini dipake
buat tanya jalan ke Kompleks Pondok Mutiara, Rumah Mba Efi yang musti aku
kunjungi buat ambil SAP dan ngobrolin kuliah Perencanaan Pariwisata, itu
pun agak ribet, karena itu ternyata berlokasi di Cimahi saja, dikala aku
pikir itu berlokasi di Gunung Batu, dengan sedikit ngotot, aku dapetin juga
rute lewat Ciwaruga, setelah dicela dicela dan sedikit dianggap remeh bahwa
aku bisa berhasil lewat jalan itu karena butuh kemampuan tingkat tinggi
untuk bisa lewat jalan itu -huh-*

10.30 - 11.00 : Perjalanan ke rumah Mba Efi
11.00 - 12.15 : Ngobrolin Perencanaan Pariwisata ditemenin Fira, anaknya
Mba Efi
12.15 - 12.35 : Perjalanan ke Unpas
12.35 - 13.20 : Asistensi Masalah Perencanaan
13.20 - 13.30 : BCA, cuman sempat untuk ambil duit karena yang bisa
dikunjungi adalah BCA Setiabudhi
13.30 - 14.10 : Cari furniture

*cari rak/kotak/ box *sagala rupi* buat ditarok di ujung tempat tidur, too
bad yang kayu kemahalan jadi aja beli yang dari rottan mudah2an gak item*

14.10 - 14.45 : Perjalanan ke Widji, di Widji untuk ambil segeprok buku2
yang baru kukopi. Tekor Mannnn!!
14.45 - 15.30 : Perjalanan ke 5 a'sec, terus dilanjutkan ke Lily Pattiserie
untuk ambil titipan roti
15.30 - 16.00 : Akatiga dengan kondisi rapuh, kelaperan belum sempet masuk
makan apapun!
16.00 - 17.30 : Benerin komputer yang agak error, justru dikala si pembeli
mau melihat ini komputer *huh*
17.30 - 18.00 : Lega, sempet duduk bentar, rileks
18.00 - 19.00 : Abang dateng buat liat komputer
19.00 - 19.30 : Makan Malam
19.30 - 20.15 : Ke Cicadas, cari toko kursi, tapi ternyata sudah tutup semua
20.15 - 22.00 : Suka Asih, sowan udah lama gak kunjungan
22.30 : Sampe di rumah, legaaa bisa tidur enakkkkk

Entah karena hari Senin yang padat atau karena ada hal lain, besoknya pas
hari Selasa, yang tadinya dijadwalkan buat nyiapin bahan bahan kuliah hari
ini, dan juga bahan kuliah Jumat, ternyata malah dihabiskan dengan bengong
gak keru-keruan, gak bisa konsen, dan akhirnya diakhiri dengan semedi di
Potluck ampe jam 10 malem.

*sigh*
mudah-mudahan hari ini lebih baik, bisa nyiapin bahan, bisa ngajar dengan
enak, bisa ke dokter gigi, bisa ke gramedia dan ke ultimus


25.9.04

Selamat Jalan, Abang

Kemarin, hari Sabtu 24 September 2004, Bang Ferry pergi dipanggil Bapa.

Setelah 10 hari berada di rumah sakit dan 7 hari dalam keadaan koma.Tepat pukul 18.25, seluruh bantuan pernapasan mulai dilepas satu-satu.Tepat pukul 18.30, abang pergi meninggalkan kami semua.Abang, memang sudah pernah kena stroke, yang membuat beberapa tahun ke belakang dalam kondisi setengah lumpuh di setengah badannya, tapi tidak mengurangi pelayanan yang dia lakukan untuk Tuhan. Sampai saat terakhir, Abang masih dikenal sebagai pendeta di GKKD.

Abang, udah aku kenal jauh ke belakang, ketika aku bahkan masih di Sekolah Dasar, waktu Abang masih pacaran dengan Kak Rita. Baik, tapi juga keras banget waktu berkhotbah. Tidak banyak bicara.
Di hari-hari terakhir, aku juga melihat kekuatan Kak Rita yang begitu luar biasa. Kekuatan yang aku yakin cuman karena Tuhan, cuman karena iman kepada Tuhan. Keyakinan yang luar biasa.

Kami semua sekeluarga, di awal koma Abang, memilih untuk melepas alat pernapasan yang membantu Abang. Awalnya memang sempat direncanakan untuk dioperasi, tapi karena kesadaran Abang yang melemah, rencana itu dibatalkan. Adanya beberapa perkembangan membuat alat tersebut tetap dipasang. Jumat malam, waktu aku sempat melihat Abang, hatiku sedih tapi juga tenang. Memegang kaki Abang yang sangat hangat, berdoa, dan tiba tiba hanya ingin bernyanyi. Saat itu kondisinya masih antara 17-20 tapi per berapanya, aku udah gak inget.Sabtu itu, kondisi Bandung macet banget, sampai mau ke Advent pun harus memutar jalan. Dari sabuga yang macet total, ke arah wastukencana. Tapi Abang memang sudah pergi saat itu. Air mata udah cuman keluar tanpa bisa aku bendung. Apalagi waktu melihat Abang di rumah sakit. Melihat Rachel yang terus menerus menangis, melihat Jojo yang begitu diam (mana sehari-harinya juga sudah pendiam). Mira yang tetap tenang, dan juga Kak Rita yang luar biasa kuat dan tenang. Aku yakin Tuhan sangat mengasihi Abang dan keluarga, dan Tuhan punya rencana dengan memanggil Abang terlebih dahulu.

Walaupun sedih, aku ingin mengucap syukur dan bernyanyi untuk itu. Tuhan sangat baik, dan Tuhan juga yang terus menjaga dan memelihara keluarga yang ditinggalkan.

Saat ini, karena kondisi rumah di Maleer yang sedang renovasi, Abang disemayamkan di Rumah Duka Borromeus. Belum tahu, jam berapa tepatnya akan dimakamkan hari ini. Bersamaan dengan HUT Kota Bandung.Tuhan, Engkau baik. Kuatkan kami semua.

Dan Tuhan, Engkau tahu kebutuhanku, bukan kebetulan bahwa hari ini Engkau menguatkan Melly lewat saat teduh lewat firmanMu.

2Korintus 5:1-8
1. Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.
2 Selama kita di dalam kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman sorgawi di atas tempat kediaman kita yang sekarang ini,
3 sebab dengan demikian kita berpakaian dan tidak kedapatan telanjang.
4 Sebab selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama, supaya yang fana itu ditelan oleh hidup.
5 Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita.
6 Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan,
7 -- sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat --
8 tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan.

Dave Egner menulis renungannya untuk ayat ini

Pada tanggal 28 Agustus 2003, sahabat saya Kurt De Haan, mantan redaktur pelaksana Our Daily Bread, meninggal karena serangan jantung ketika makan siang. Ketika mendengar berita itu, saya berkata kepada diri sendiri, "Ia di surga." Kata-kata itu sungguh menghibur saya.

Beberapa hari kemudian saya bercakap-cakap dengan mantan pendeta saya, Roy Williamson, yang berusia delapan puluhan. Saya menanyakan keadaan seorang pria di jemaat kami. "Ia sudah di surga," jawabnya. Saya lalu menanyakan seorang jemaat lain. "Wanita itu juga sudah di surga," jawabnya. Kemudian, dengan mata berbinar-binar, ia berkata, "Saya mengenal lebih banyak orang di surga daripada di dunia."

Kemudian saya merenungkan perkataan Pendeta Williamson itu. Ia sebenarnya dapat dengan mudah berkata, "Ia sudah meninggal," atau "Wanita itu sudah tiada." Namun, betapa meneguhkan saat mendengar bahwa orang kudus yang dikasihi Allah telah berada di surga. Alangkah bersukacitanya mengetahui bahwa ketika orang-orang yang memercayai Kristus meninggal, mereka langsung bersama Yesus! Rasul Paulus menjelaskannya demikian, "Tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan" (2 Korintus 5:8). Tak ada lagi rasa sakit, kesedihan, dan dosa. Yang ada hanyalah kedamaian, sukacita, dan kemuliaan.

Kita masih berdukacita ketika seorang percaya yang terkasih meninggal. Dukacita adalah ungkapan kasih. Tetapi pada hakikatnya ada sukacita yang tidak tergoyahkan, karena kita tahu orang yang kita kasihi ada di surga.

Amin!

17.9.04

Virgin Suicides

Baru aja selesai baca Virgin Suicides by Jeffrey Eugenides.
Bukan tipe buku yang biasanya kubaca (bukan cerita detektif, bukan komik, bukan bukunya michael chricton, bukan buku tentang perkotaan dan bukan buku yang ringan ringan aja buat dibaca sambil lalu kayak chicklit). Tapi, entah kenapa, pas ke Potluck seminggu yang lalu, buku ini menarik perhatian aja, dan langsung aja pengen dipinjem.

Buku ini, sebagaimana judulnya, memang tentang bunuh diri! Sesuatu yang - knock-knock under table, cross finger, mudah2an - gak pernah terjadi dalam hidupku, dan sampai detik ini gak terpikir bisa kulakukan. "bisa" bukan karena bisa dan tidak bisa, tapi hidup adalah suatu anugerah yang sangat kusyukuri dan sangat kunikmati setiap detik dan setiap saatnya. Sungguh, aku sangat menghargai hidup yang diberikan, walopun kalo memang dipanggil kembali oleh Tuhan, kapanpun itu, aku juga siap siap aja.

Sedih dan bikin miris. Trenyuh. Menggambarkan bagaimana 5 anak remaja mencoba melewati masa remaja mereka. Memang masa-masa ABG - masa masa remaja, dan seribu satu istilah lainnya - sering disebut sebagai masa-masa menyenangkan, tidak terlupakan seumur hidup, terlalu cepat, penuh cerita, tetapi tidak sedikit juga yang mengingatnya sebagai periode suram, buram, sulit dan bersyukur bisa melewatinya. Masa masa dimana rasanya orang tua tidak pernah bisa cukup mengerti apa yang tengah kita hadapi, masa masa dimana rasanya semua masalah yang kita alami adalah masalah berat *the end of the world*lah!

Buku ini dimulai dengan peristiwa bunuh diri gadis terkecil yang baru berusia 13 tahun. Ketika Cecilia - gadis kecil itu - ditanya di rumah sakit dimana dia diselamatkan dari percobaan bunuh diri pertamanya oleh sang dokter,"What are you doing here, honey? You're not even old enough to know how bad life gets". Cecilia menjawab,"obvioulsy, Doctor, you've neber been a thirteen-year-old-girl."

Hm hm...
Lihat, betapa sulitnya jadi gadis berumur 13 tahun!
Mungkin, kita jadi tersenyum, dan mengelus dada, sambil berkata, what a stupid girl, off course he's been a thirteen-year-old-(unfortunatelly)boy! Tapi, bayangkanlah, betapa parahnya Cecilia melihat hidupnya sebagai gadis 13 tahun! Kita, yang bisa jadi sudah cukup lama melewati masa itu, bisa saja tersenyum mengenang betapa mungkin (mungkin juga tidak) kita juga pernah merasa hal yang sama.

Tapi ternyata ketika kita harus patah hati untuk pertama kalinya, dunia tidak berhenti sampai disitu, matahari masih muncul di dari timur dan terbenam di barat, beberapa waktu kemudian cinta yang lain datang dan pergi. Ketika kita harus tarik urat leher dengan orang tua yang tampaknya tidak mengerti yang kita rasakan, orang tua yang ketinggalan jaman, orang tua yang terlalu keras, orang tua yang diktator dan otoriter, ternyata terbukti beberapa waktu kemudian bahwa itu mereka lakukan karena kasih dan sayang mereka terhadap kita. Ketika kita berupaya untuk dapat diterima di lingkungan kita (beberapa bisa jadi tidak perduli dengan itu), dengan berbagai hal, beberapa waktu kemudian kita menyadari bahwa menjadi diri sendiri dan percaya diri membuat kita bisa lebih menerima diri kita apa adanya dan membuat kita bisa berada di lingkungan apapun.

Sayangnya tidak demikian halnya dengan gadis-gadis keluarga Lisbon yang ada di buku ini. Kematian adik bungsu mereka dengan cara bunuh diri telah membuat orang tua mereka - khususnya sang ibu - menjadi over protective. Membuat lingkungan di sekitar mereka, melihat mereka dengan cara yang berbeda. Mereka semakin tersisih dari dunia luar, dari dunia sekitar mereka, sampai pada suatu titik, Sang Ibu melarang mereka keluar rumah sama sekali dan bahkan satu rumah tersebut tidak pernah keluar rumah! Bahan makananpun dibeli dengan cara pesan antar! Bayangkanlah usia remaja, di rumah terus menerus dengan berbagai aturan dan tidak bisa berkomunikasi dengan dunia luar. Bahkan sebelum aturan tersebut dilakukan, mereka sudah merasa mereka berbeda, karena cara sang ibu mengatur pakaian mereka, cara bicara mereka, pergaulan mereka dan masih banyak lagi. Sang ibu berpikir bahwa dengan cara ini, ia menyelamatkan anak-anak mereka, padahal di saat itu, justru ia telah menjerumuskan anak anak mereka lebih jauh lagi, ke penderitaan yang bertumpuk. Tidak heran, pada akhirnya, keempat anak yang tersisa memutuskan untuk bunuh diri bersama-sama; entah sebagai upaya melarikan diri dari situasi yang ada, atau sekedar peralihan dari rutinitas membosankan.

Apa yang dihadapi gadis-gadis Lisbon itu mungkin tidak perlu sebagian besar dari kita alami.
Untunglah.

Tapi satu hal lain, aku jadi diingetin, betapa sering aku merasa masalahku begitu berat dan lebih berat dari yang orang alami dan rasanya orang kok ya tidak perduli dengan yang sedang aku alami, tapi sebetulnya, bisa jadi itu adalah cara pandang kita saja, masalah tersebut tidaklah seberat yang kita bayangkan, ia menjadi berat karena kita bayangkan berat, dan orang bisa jadi tampak tidak perduli, tapi sesungguhnya mereka sangat perduli, dan sungguh tahu bahwa ini akan dilalui dan semua akan baik baik saja.

Ketika mengalami banyak hal buruk (maupun baik) sungguh menyenangkan untuk tahu bahwa ada orang orang di sekitar kita yang mengerti kita, dan berada di samping kita selalu, berbagi banyak hal yang kita alami.


16.9.04

UnekUnek

Pagi yang buruk.
Kesal juga, pagi pagi harus bangun dengan perasaan tidak menentu. Apa karena suasana pergi tidur yang kurang menyenangkan atau karena, begitu bangun, langsung sibuk mengingat-ngingat mimpi-mimpi tadi malam (sesuatu yang selalu aku lakuin tiap pagi)?

Memang sih, tadi malam, tidur dengan perasaan gak keruan banget. Perasaan sedih. Perasaan kesal. Perasaan marah. Perasaan bodoh *hmm, apa bodoh bisa dihitung sebagai perasaan ya?*. Perasaan yang muncul karena lagi lagi mengulangi suatu hal yang sudah ditekadkan tidak akan dilakuin lagi. Mengulangi suatu cerita yang sebetulnya sudah pengen ditutup dalam dalam dan gak perlulah terulang kembali. Tapi ternyata, keinginan tinggal keinginan. Jalan hidup gak bisa ditebak!

Tadi malam, keinget-inget perkataan seseorang *gak inget, apa itu janji atau hanya sebuah pernyataan* bahwa apa-apa yang akan dijalani gak akan seperti yang sudah dijalani sebelumnya *hua, pasti membingungkan sekali deh maksud kalimat ini*. Tadinya berharap, bisa memulai sesuatu yang baru, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang punya satu titik yang dituju. Tapi ternyata tidak bisa. Salahku sendiri sih, belum bisa tegas menetapkan sesuatu dan menjalani sesuatu.

Ah, sudahlah, gak jelas juga ini nulis apaan.
Berharap lewat nulis, pikiran sedikit lebih plong. Karena kemarin, berniat bahwa hari ini akan lebih baik. Karena kemarin, berpikir bahwa hari ini bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanku. Membereskan nilai ujian mata kuliah semester lalu, membereskan bahan ajaran kuliah-kuliah semester ini *hm, besok ada satu, sabtu ada banyak*, membereskan utang utang terjemahan, membereskan utang desain website, mengirimkan CV ke orang orang yang sudah memintanya sejak jaman purbakala. Tapi, huh, ternyata pagi ini, sudah hampir tengah hari hanya dihabiskan dengan BENGONG.

Begini inilah kalo otak gak fokus, dan asik memikirkan hal hal yang gak perlu dipikirkan karena terlalu ngabisin energi!


6.9.04

Mataram-Malang

Uh, seminggu kemarin musti ngeberesin kerjaan yang tertinggal, bikin gw musti pergi ke Mataram dan Malang.
It feels so different, pergi ke tempat tempat itu tanpa kawan kawan sekerjaku dan malah pergi dengan officer dan acountantnya World Bank. Aneh banget aja. Tapi Mataram adalah Mataram, dan Senggigi adalah Senggigi, dan ayam taliwang dua em tetep ayam taliwang dua em.

Mataram masih panas, tapi anginnya cukup dingin. Mataram, sebagaimana daerah-daerah di Indonesia pada umumnya lagi musim mangga. Mataram-Senggigi lagi bulan purnama. Mataram juga sedang sibuk didemo kawan kawan, demo ke para pembesar DPRD yang lagi dilantik dan juga demo memperjuangkan para TKI (fyi, penyumbang TKI terbesar konon ada di NTB).

Mataram-Senggigi tanpa acara "kondaya" ... aneh juga sih. Tapi sisi baiknya, Intan Lombok Village jadi lebih banyak dihabiskan dengan membaca buku: Gadis Pantai-nya Pramoedya, Negeri Fast Food-nya Eric Schlosser, dan buku mirip mirip chiclit called Fashionista. Jadi sempet jalan jalan sepanjang senggigi, menikmati bintang bintang selagi bulan tersembunyi awan (untunglah, kalo gak, mana keliatan itu bintang bintang).

Perjalanan ke Malang juga penuh dengan kenangan. Kenangan indah. Tapi lagi lagi, kali ini tidak dengan orang yang membuat perjalanan ke Malang penuh kenangan justru dengan orang orang dari BEJ itu. Tapi gak apa apa, karena ternyata Ibu Lis dari WB itu orang Surabaya, dan sering ke Malang dan tau tempat tempat makan enak....sllrpppp.

Hotel Graha Cakra yang menyenangkan, walopun tidak sekeren Hotel Tugu. Berenang pagi pagi, walopun kedinginan, dan berkunjung lagi ke Fak Hukum Unibraw dan juga Hotel Purnama.

Dan terutama, gara gara di Senggigi, akhirnya bisa memanfaatkan telepon gratis antar XL tiap malem!!! Asik ngobrol walopun musti keputus putus tiap 10 menit. AH, what the hecklah, yang penting gratisan.

Kembali ke Bandung, kembali ke potluck, kembali jalan lagi.........
Mudah2an minggu ini, melly bisa lebih produktif