15.7.04

Friends Know

Kadang, kita punya begitu banyak hal di pikiran kita, begitu banyak peristiwa yang terjadi, begitu banyak beban, begitu banyak cerita, tapi kita tidak punya cukup energi untuk bercerita tentang itu semua, atau berbagi tentang itu semua.

Kemarin, aku punya kesempatan untuk bertemu sahabat-sahabatku. Saat itu sih, yang terbayang oleh aku itu hanyalah satu kesempatan untuk mendengar cerita-cerita yang tertinggal. Cerita-cerita yang muncul selama aku tidak bisa bersama mereka beberapa minggu terakhir.

Sebagai seorang sanguinis sejati, kali ini aku berupaya menjadi pendengar yang baik. Sesuatu yang susah-susah-gampang untukku. Tapi untuk kali itu, tidak sulit, karena aku berada diantara para sanguin :)

Tapi, hey, friends know! Sesaat mereka berhenti, hanya untuk bertanya apa yang terjadi pada diriku, karena menurut mereka, aku begitu capek, letih dan pikiranku penuh dengan berbagai hal.

Aku memang tidak bisa bercerita segala hal yang ada dipikiranku saat itu. Tapi hal itu membuat aku tersadar, bahwa teman teman memperhatikan, teman teman selalu tahu. Walaupun saat itu aku masih belum punya cukup energi untuk bercerita, dan tidak tahu bagaimana harus bercerita, tapi, hey, aku tidak peduli. Sesaat, aku merasa seperti sudah berbagi berbagai beban yang ada di pundakku. Kesedihan, kekuatiran, kemarahan, kekesalan, mungkin juga sebagian kecil kebahagiaan.

Senang rasanya berada di antara teman teman, terutama ketika kita bisa saling merasakan apa yang dirasakan satu sama lain

13.7.04

Planologi

Ternyata, selama ini, aku gak bernah bener bener berpikir lebih banyak tentang jurusan yang aku ambil, aku pelajari selama 4,5 tahun. Apa sih planologi?

Nama planologi sendiri rasanya menimbulkan berbagai interpretasi. Tidak jarang ada calon mahasiswa (atau malah sudah terjebak menjadi mahasiswa planologi) yang berpikir kalo planologi adalah ilmu tentang tumbuhan (yang aku yakin ditebak dari kata plan dan dimirip-miripkan dengan plant), atau ilmu tentang planet (lagi lagi dengan melihat kemiripan antara plano dan planet). Saya harus mengucapkan turut berdukacita, karena mereka jelas jelas akan terhenyak begitu tahu apa sih yang mereka pelajari di planologi itu.

Jadi apaan sih planologi itu? Gampang aja, tinggal ganti saja penyebutan planologi dengan tata kota. Pasti orang kemudian akan mengangguk-anggukkan kepala. Biasanya sih orang terus berkomentar lebih lanjut, gimana sih tata kota Bandung/ Jakarta/ dan lain lain (you name it) kok kacau balau gak keruan?

Sekarang jurusan jurusan planologi punya nama lain, mereka tidak jarang menambahkan atau menggantikan nama jurusan dengan jurusan perencanaan wilayah dan kota. Hmm, semakin jelas atau malah semakin kabur?

Kenapa juga bisa jadi semakin kabur? Soalnya, rasa-rasanya kalau mengingat reaksi dari mahasiswa-mahasiswa planologi yang berhasil dengan sukses melalui masa perkuliahan, kekaburan akan pengertian planologi semakin nyata. "gak jelas", "panjang lebar", "ilmu tentang segala macem" adalah beberapa diantara berbagai cap yang muncul untuk planologi.

Serba nanggung. Bisa jadi itu yang dirasakan oleh banyak jebolan planologi. Dibilang teknik, kok ya tidak ada rumus yang jadi acuan, tidak ada jawaban yang mutlak benar. Tapi kalau kemudian dibilang ilmu sosial,kenapa planologi ada di ITB?

Jadi sebenarnya ilmu apa sih planologi?

Aku juga lagi terpicu untuk cari tahu.
Untuk itu, terimakasih untuk seorang sahabat yang dengan begitu baiknya, mau mempertanyakan hal ini.