4.7.14

We Don't Give Up Easily for Things That Matter Most

Tinggal 5 hari lagi.

Ada yang bersemangat dan ada yang tidak perduli dan ada juga yang sudah muak. Ada yang memilih satu dan tidak sedikit yang yakin dengan pilihan nomor dua.

Sejak awal, pilihan itu jelas buatku. Bukan berarti, aku tidak berusaha mencari tahu lebih banyak tentang kedua kandidat. Aku berusaha keras menghindari semua tulisan yang bersifat opini dan fokus kepada fakta. Aku mencari dokumen yang memang disusun oleh kedua kandidat yang memaparkan cita-cita mereka buat bangsa ini.

Pada akhirnya, aku malah harus mengingatkan diriku tentang negeri yang aku rindukan. Tiap orang pasti punya kerinduan yang berbeda-beda, walaupun ada titik temu. Ada yang percaya kualitas pendidikan kita harus diperbaiki menjadi sistem pendidikan yang memanusiakan manusia Indonesia, ada yang ingin mempertahankan sistem pendidikan yang ada. Siapa tahu? Ada yang melihat kolom agama itu penting, ada yang melihat itu sama sekali tidak relevan. Daftar ini panjang. Aku mencatat hal-hal yang penting buat aku. Semua hal. Aku menyusunnya tanpa peduli apakah itu juga yang penting bagi orang lain.

Sehari-hari aku banyak berinteraksi dengan mereka yang ada di dalam putaran mengurus bangsa ini. Aku melihat hal yang baik dan buruk yang ada didalamnya. Aku berharap hal-hal buruk itu dapat berubah dalam lima tahun ke depan dan hal ini menjadi hal penting lain bagiku.

Daftar ini yang menjadi contekan aku dalam membaca informasi seputar kedua kandidat. Aku memberi tanda, kandidat mana yang mengisi daftar kepentinganku. Buat aku, ini kepentingan yang sangat dekat dengan aku bukan hal di "awang-awang".

Pertanyannya, seberapa yakin kedua kandidat akan dapat menjamin hal-hal yang aku anggap penting tersebut? Apa jaminannya? Sayangnya menurutku jawabannya adalah tidak ada jaminan. Sama sekali tidak ada. Baik dari kandidat yang punya "track record" pernah melalukannya, apalagi yang belum pernah melakukannya. Tapi buat aku ini tidak menjadi alasan untuk tidak membuat pilihan. Menurutku, ini sama dengan ketika harus memilih tempat kerja, memilih pasangan, memilih tempat tinggal, memilih sekolah dan memilih hal lain yang penting dalam hidup. Tidak melulu ada jaminan bahwa pilihan yang kita timbang masak-masak akan memberi yang kita harapkan. Kantor punya masalah yang tidak kita bayangkan. Sekolah mengganti pengajar yang kita harapkan. Pasangan bisa mengecewakan kita. Apakah itu membuat kita tidak mau pusing membuat pilihan? Biasanya, dengan pengalaman buruk, aku menjadi lebih selektif, termasuk berusaha mencari cara untuk tidak kembali ke dalam kebodohan yang sama.

Aku mesti mengakui, kadang aku membuat pilihan karena hal-hal kecil yang tidak penting. Membeli buku karena sampulnya oke dan karena dibungkus aku tidak bisa membaca isinya dan malas mencari info dari telepon genggam. Tidak jarang, isinya ternyata mengecewakan. Aku ingat, seorang sahabat memilih tim kerja yang berasal dari kampung halaman karena keyakinan bahwa mereka akan sangat mengerti satu sama lain dan melupakan riwayat hidup pelamar tersebut dan kemudian kecewa. Katanya,"dia betul-betul tidak seperti orang-orang dari kampung halamanku." Membeli sepatu karena warna yang aku suka dan kemudian kakiku sakit ketika memakainya. Aku mengakui, aku membuat keputusan bodoh seperti itu. 

Untuk hal-hal yang lebih penting, aku berusaha tidak seperti itu. 

Seorang kawan baik pernah bilang,"we don't give up easily for things that matter most." Dia benar.  Aku tidak mau menyerah begitu saja hanya karena tidak ada jaminan. Melelahkan memang, apalagi jika kita sudah sering dikecewakan. Sudah bebeberapa kali memilih dan hasilnya toh seperti itu. Sayangnya, buat aku, daftar pentingku panjang dan aku percaya bangsa ini bisa menjadi apa yang aku dambakan. 

Jadi, aku akan ke TPS dan membuat pilihan tersebut, sesuai dengan daftar yang sudah aku cek dengan fakta seputar kedua kandidat. Jika apa yang penting bagi dirimu sama dengan aku, pastinya pilihan kita akan sama. Kalau daftarmu dapat dipenuhi hampir seimbang di kedua kandidat, pikirkan lagi, jangan biarkan hal sepele mempengaruhimu karena daftar kepentingan kita tidak hanya akan mempengaruhi diri sendiri tetapi 200 juta lebih orang di negeri ini.

29.6.14

Soal Berlari

Seingatku, dari kecil, aku selalu senang berolahraga. Kenangan masa kecil membawaku ke permainan kasti dan menjadi salah satu olahraga yang pertama kali aku kenal (kecuali kalau bermain layangan dan mengejar kapakan dianggap olahraga). Kemudian sebagai anak Indonesia, pasti mencoba bulutangkis. Belajar berenang sendiri dengan modal lihat kiri kanan dan sedikit nekat. Bermain basket dan voli yang memang merupakan pelajaran sekolah. Mendaftarkan diri untuk mengenal karate. Berlatih tenis dan tidak pernah berhasil (tampaknya ini jadi salah satu olahraga yang tidak akan pernah bisa aku kuasai). Mengambil mata kuliah softball yang merupakan impian  kecil. Ikut aerobik termasuk berbagai jenis trend yang ada di dalamnya. Setelah bekerja, baik di Bandung maupun di Jakarta, mulai mengenal gym. Di tahun 2011 untuk pertama kali mencoba yoga.

Betul juga, selalu senang berolahraga walaupun tidak pernah secara serius berlatih. Apa yang aku maksud dengan serius adalah berolahraga dengan pelatih, masuk klub dan semacamnya.  Eh, karate tidak bisa sendiri sih.

Bukan berarti hari-hari aku selalu penuh dengan latihan. Aku bisa bilang secara umum aku berolahraga seminggu sekali atau dua kali. Di antara itu, selalu ada bulan-bulan dimana aku tidak berolahraga sama sekali. Ini semakin parah ketika aku bekerja penuh waktu, kerja kantoran.

Sampai tahun lalu, aku jatuh sakit. 

Sungguh menyebalkan sekali harus beristirahat total sampai sekian lama. Berat badan yang menggila setelah sakit dan keinginan untuk menjaga kesehatan lebih baik membuat aku bertekad untuk kembali rutin berolahraga.

Aku memilih berlari. 

Apakah aku mengikuti trend saat itu? Bisa jadi. Ada beberapa sahabat yang sudah berlari, baik baru mulai maupun yang sudah beberapa tahun berlari. Update status dari mereka menjadi dorongan sendiri. Aku nekad untuk mengikuti lari 5 kilometer dengan persiapan hanya 2 minggu. Aku pikir, kalau kepepet toh aku selalu bisa berjalan kaki. Pertimbangan lain adalah minimnya alasan untuk mangkir lari. Kalau untuk ke gym, aku harus mempertimbangkan waktu dengan baik. Dengan perjalanan ke gym, parkir dan mandi, setidaknya butuh 2,5 jam untuk berolahraga di gym. Berlari hanya membutuhkan sepatu olahraga. Kebetulan area sekitar tempat tinggal aku cukup bersahabat untuk lari, baik pagi maupun sore. Tidak ada biaya bulanan, tidak perlu personal trainer, dan hanya butuh 20-30 menit untuk melakukan itu semua. Bukan itu saja, kalau aku harus melakukan perjalanan dinas, aku tetap bisa berlari hanya bermodal sepatu olahraga itu. 

Awalnya, aku ingin bisa melakukannya setiap hari tetapi akhirnya aku bertahan di 2-3 kali seminggu. Aku beruntung, ada kawan-kawan kantor yang berminat lari sekali setiap minggu. Kalau bosan, aku masih bermain bulutangkis dan berenang serta yoga sesekali.

Kebiasaan ini sudah berjalan lebih dari 1 tahun, tepatnya 13 bulan. Aku kehilangan sejumlah kilogram. Bangun pagi yang lebih segar dan terutama mood-swing yang tidak terlalu parah. 

Tetapi, ini semua adalah sebuah perjuangan tersendiri buat aku. Setiap harinya. Lebay? Begitulah.

Bulan Juni ini, ritme di kantor berubah. Aku tidak begitu berhasil beradaptasi dengan ritme baru dan ini menjadi sebuah alasan dan pembenaran yang kuat untuk membuat aku menghindari lari. Ah, memang aku ini jago buat pembenaran sih. Ditambah hujan yang bisa datang pagi dan malam, alasan menjadi semakin bertambah. Tiap pagi aku mau lari, tapi juga tiap pagi aku bisa menemukan 1001 alasan untuk tidak berlari. Tiga minggu dan badanku sakit semua. 

Kemarin aku mencoba berlari. Saat itu, aku berpikir ini sudah terlalu siang. Biasanya, jam 6 aku sudah siap lari. Pagi itu, jam menunjukkan pukul 7. Kemudian, aku melakukan apa yang selalu aku lakukan ketika sejuta alasan muncul di kepala. Aku bilang diriku sendiri untuk maju satu satu. "Oke deh, gak lari, tapi bangun yuk." Kemudian pelan-pelan mengganti pakaian. Sampai akhirnya, biarpun masih bimbang antara lari atau tidak, aku memutuskan memakai sepatu. Dan, aku berlari.

Aku bukan pelari cepat dan bukan pelari jarak jauh. Aku hampir tidak berlari lebih dari 30 menit dan dengan pace yang hampir selalu masuk kategori jogging. Barangkali, aku ini tepatnya pencari endorphine. Aku selalu merasa lebih baik setelah berlari.  

Ini merupakan hal yang sulit aku tulis tanpa kemudian pesannya disalahartikan sebagai sebuah kesombongan. Perjuangan untuk menulis cerita ini. Sesungguhnya, aku tidak tahu apakah minggu depan aku masih bisa mempertahankan kebiasaan ini. Buat aku, untuk bisa konsisten merupakan perjuangan tersendiri, tetapi aku berharap aku bisa memenangkan sebagian besar peperangan batin yang selalu ada. Tidak selalu tetapi sebagian besar, itu sudah lebih dari cukup.

Pada akhirnya, ini bukan soal berlari lagi, ini soal mencoba memenangi pertarungan di dalam diri sendiri atas apa yang perlu aku lakukan. 

24.1.14

Selamat Ulang Tahun

Dia adalah lelaki yang selalu sendiri dan terbiasa sendiri. Anak tunggal. Bapak dan Emak sudah lama pergi terlebih dulu. Kasih keduanya ketika masih hidup tercurah hanya padanya. Penuh. 

Biarpun tampak selalu sendiri, sesungguhnya dia adalah orang yang tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Sebisa mungkin, akan selalu berbuat sesuatu untuk orang lain. Terkadang urusan orang lain ini bisa mengambil porsi paling besar dalam pikiran dan hatinya. Terutama ketika hal tersebut melihatkan orang-orang yang tidak bisa memperjuangkan dirinya, orang-orang yang dengan keterbatasan dalam berbagai artiannya. 

Bekerja baginya adalah menghasilkan karya dari hati. Bentuknya bisa sangat beragam. Tidak heran kalau hasil kerjanya pun beragam. Jika sudah bekerja, maka seluruh perhatian akan tertuju pada satu hal tersebut. Pagi, siang dan malam tidak memiliki arti apapun. Selama masih ada energi, pekerjaan itu akan dilakukan sampai selesai tuntas.

Jam kerja tidak beraturan. Jam makan pun demikian. Sesuatu yang awalnya sulit aku pahami. Untuk urusan makan, prinsipnya sederhana sekali. Lapar ya makan. Tidak ada jam makan. Kalau tidak lapar berarti tidak perlu makan.

Dalam banyak hal, prinsip yang dia pegang sederhana saja. Isi otaknya? Tidak melulu sederhana. Ada begitu banyak hal yang bisa dibahas, dianalisis dan juga dikerjakan. Bersamanya memang selalu ada yang bisa dikerjakan. Bersamanya juga aku bisa menikmati diam. 

Tindakan yang dia ambil seringkali diartikan berbeda. Tidak masalah. Interpretasi bisa dilakukan secara bebas oleh siapa saja. Isi hati dan pikiran, tetap milik dia seorang. 

Selamat ulang tahun. Kebahagiaan luar biasa adalah aku bisa ikut menikmati hari-harimu. Doaku bagi mimpi-mimpi yang tengah dan masih akan diwujudkan. 

4.1.14

Selamat Ulang Tahun, Di


Dia ini adik bontot. Namanya juga anak bontot, manja dan ketergantungan sih jelas ada. Jangan salah, bukan hanya dia yang dengan mudah mengandalkan kakak-kakaknya tapi sebetulnya kami ini yang juga tergantung dia. Dari kecil, dia ini yang paling sering disuruh-suruh. Aku tidak bisa mengingat semuanya, satu diantaranya adalah urusan bolak balik ke warung dekat rumah.

Waktu dia akan lahir, ayahku sedang belajar di luar Indonesia. Dia ini terlalu cepat keluar. Aku hanya ingat bagaimana rumah menjadi ramai. Malam itu, aku diungsikan ke kamar paling belakang dengan kebingungan luar biasa. Malam itu juga, aku kemudian ikut ibuku ke rumah sakit, menunggu persalinan. Dia keluar dengan perjuangan luar biasa dari ibuku.

Dia ini menghabiskan 12 bulan pertama dengan bolak balik jatuh baik itu dari tempat tidur maupun kursi. Dia juga yang bolak balik menghabiskan waktu di rumah sakit. Nasibnya, sejak hari pertama sudah akrab dengan berbagai selang infus.

Sekarang, tinggi besar dan tidak ada sisa-sisa bayi yang sering jatuh dan opname.

Untuk dia, makan adalah nasi. Tidak perlu repot memikirkan makanan berkelas macam-macam. Daging babi sudah lebih dari cukup. Tidak sulit kalau tidak punya keinginan makanan yang macam-macam.

Urusan makan memang merupakan satu hal yang paling menonjol tapi bukan satu-satunya. Dia juga senang bernyanyi. Sesekali masih harus dipaksa tapi toh akan tetap dia nyanyikan juga. Senang sekali bisa mendengar dia bernyanyi.

Buat aku, dia ini memang yang paling perasa. Kadang-kadang keterlaluan, terlalu memakai rasa baik itu sedih, kecewa maupun marah. Tidak jarang, ini membuat dia dapat dengan mudah bersimpati kepada sekitarnya. Beruntunglah kalau memang menjadi orang yang dia perhatikan.

3 Januari adalah hari kelahirannya. Selamat ulang tahun, Di. Semakin bijak, semakin kaya pengalaman.